Bisnis.com, MEDAN – Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) Abdul Rauf menyebut peristiwa banjir besar Sumatra yang terjadi menjelang akhir November 2025 tak bisa langsung disimpulkan hanya akibat budidaya satu jenis tanaman.
Dia mengatakan bencana dapat timbul dari kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan kemampuan atau daya dukung lahan. Ketidaksesuaian itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal seperti penebangan liar, penanaman secara ilegal, maupun pertambangan ilegal. Oleh karena itu, menyudutkan sawit sebagai satu-satunya penyebab menjadi tuduhan yang hampir tak berlandasan.
“Tanaman sawit ini selalu jadi korban. Kekeringan, katanya disebabkan oleh sawit. Banjir kemarin juga karena sawit. Padahal, tanaman apa pun kalau ditanam di lahan yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya atau ekofisiologinya tidak sesuai, pasti akan merusak lingkungan,” kata Abdul Rauf dalam diskusi ilmiah yang digelar Rumah Sawit Indonesia di USU, Selasa (10/2/2026).
Dijelaskan Abdul Rauf, Sumatra Utara telah memiliki perkebunan sawit sejak tahun 1911 atau pada zaman kolonial. Jumlah perkebunan dan luasannya pun berkembang sangat pesat hingga pada tahun 2022 telah mencapai 16,8 juta hektare (ha).
Namun, menurutnya, tidak ada banjir bandang dahsyat yang melanda Indonesia akibat pembukaan kebun sawit itu sejak awal hingga 25 November 2025. Dia menekankan bahwa penyebab banjir bandang tak bisa serta-merta dikaitkan dengan perkebunan sawit.
Abdul Rauf bahkan menyebut komoditas yang sempat dikategorikan sebagai komoditas strategis nasional ini memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air yang tinggi. Dari penelitian yang dilakukannya, satu pohon sawit dewasa tercatat mampu menyerap hingga 10 liter air per hari sehingga kebun sawit yang dikelola dengan baik di lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengonservasi tanah dan air.
Lebih jauh, Guru Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai USU ini juga mengungkap peran sawit dalam meningkatkan kesuburan tanah. Akar serabut pada tanaman sawit menjadikan tanah di bawah tegakan sawit menjadi gembur. Sistem akar itu juga membuat area peresapan air berbentuk cembung yang serupa dengan mangkuk sehingga dapat menampung air hujan.
“Jadi, kurang tepat kiranya kalau menyalahkan perkebunan sawit sebagai penyebab bencana. Di Sumatra Utara ini perkebunan sawit sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sejak 1911. Memang sudah seharusnya pertanian dan perkebunan kita kembali ke penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahannya. Jangan asal, jangan rakus,” jelas Abdul Rauf.
Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian USU Diana Chalil menjelaskan peran besar tanaman sawit terhadap perekonomian nasional sebagai penyumbang devisa serta penyedia lapangan kerja yang cukup tinggi. Dia mencatat ada 16,5 juta orang yang bekerja di sektor perkebunan sawit hingga tahun 2024, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.
Diana pun menyebut bencana banjir besar Sumatra beberapa waktu lalu tak berkaitan dengan keberadaan perkebunan sawit. Dia menjelaskan pembukaan perkebunan sawit yang legal pasti telah memperhitungkan kesesuaian lahan seperti retensi hara hingga tingkat bahaya (erosi, longsor, banjir/genangan) dengan faktor-faktor pembatas agar tanaman sawit bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.
“Tutupan sawit di Tapanuli Selatan itu kebanyakan berada di luar wilayah Batangtoru [lokasi banjir bandang]. Batangtoru sendiri tingkat kemiringannya tinggi sehingga mudah mengalami erosi,” ujar Diana. (240)