Penumpukan kendaraan di Ruas Jalur Pantura Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sepanjang satu kilometer dari titik Lotte Mart Cikarang hingga Simpang Sentra Grosir ... [404] url asal
Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Penumpukan kendaraan di Ruas Jalur Pantura Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sepanjang satu kilometer dari titik Lotte Mart Cikarang hingga Simpang Sentra Grosir Cikarang (SGC) pada H+6 Idul Fitri 1447 Hijriah dinilai masih aman dan terkendali.
"Situasi masih aman terkendali, memang sudah menjelang puncak arus balik gelombang kedua, kami sudah siapkan langkah antisipasi juga," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi Agus Budiono di Cikarang, Jumat.
Dia mengatakan pemantauan situasi lalu lintas terus dilakukan bersama kepolisian, termasuk di Jalur Pantura yang kerap mengalami kepadatan, terutama pada titik Simpang SGC, pertigaan Tol Telaga Asih serta Pasar Induk Cibitung hingga Tambun Selatan.
Pihaknya juga telah menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan volume kendaraan yang melintas pada jalur arteri tersebut pada 28-29 Maret 2026 atau bertepatan dengan prediksi arus balik.
Salah satu upaya krusial yang akan dilakukan adalah dengan memasang kembali pembatas jalan atau barrier guna mengamankan laju kendaraan pemudik dari arah timur menuju barat yang mendominasi arus balik.
"Kita terus pantau situasi, kalau ada kenaikan volume kendaraan pada saat puncak arus balik gelombang kedua, akan dilakukan pemasangan barrier untuk memastikan arus balik yang melalui jalur arteri lancar, karena traffic lightnya juga kan sekarang masih warning light," katanya.
Dia turut mengimbau segenap pengguna jalan untuk selalu mengutamakan keselamatan dengan memastikan kondisi fisik maupun kendaraan dalam kondisi prima serta segera beristirahat di posko mudik terdekat apabila mengalami kelelahan.
"Tetap berhati-hati serta mematuhi aturan lalu lintas selama perjalanan arus balik. Kalau untuk Simpang SGC nanti akan kita berlakukan normal kembali pengaturan lalu lintas pada area persimpangan, setelah selesai puncak arus balik," ucap dia.
Seorang pemudik asal Klaten Narto (44) yang sedang dalam perjalanan arus balik menuju Kota Bekasi mengungkapkan kepadatan volume kendaraan mulai dirasakan saat hendak memasuki area Simpang SGC menjelang waktu senja.
"Iya tadi sebelum sampai sini (SGC) terjadi macet sekitar satu kilometer. Sebelumnya lancar dan semoga nanti sampai tujuan tetap lancar," katanya.
Menurut dia penumpukan terjadi akibat lonjakan signifikan jumlah kendaraan yang melintas ditambah pembukaan pembatas jalan yang turut mempengaruhi arus lalu lintas pada arah terpadat arus balik yakni menuju Jakarta.
"Tadi saya lihat dibuka, padahal saat arus mudik kemarin ditutup barrier. Jadinya kurang lancar karena bergantian dengan arah lain di Simpang SGC. Aktivitas kendaraan warga lokal di area SGC juga kan sudah dikenal padat pada hari-hari normal. Kalau kondisi kemantapan jalan sih sudah bagus ya," kata dia.
ASDP siap hadapi lonjakan mudik Lebaran 2026 dengan persiapan matang, pengaturan kendaraan, dan sistem tarif tunggal untuk kelancaran arus penyeberangan. [741] url asal
Bisnis.com, BANTEN — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memiliki sederet upaya dalam rangka mencegah penumpukan kendaraan pada periode mudik Lebaran 2026. Strategi itu diharapkan mampu menjadi jawaban atas tantangan menahun terhadap lonjakan arus mudik Lebaran. Direktur Operasi dan Transformasi ASDP Rio Lasse, memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada Selasa malam hingga Rabu (18/3/2026). Pada angkutan lebaran tahun ini, ASDP turut meramal pertumbuhan penumpang sebesar 9,4% year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Artinya, kepadatan penumpang berpotensi terjadi pada arus mudik tahun ini. Meskipun begitu, Rio menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan sederet persiapan menyambut momentum ini. Sependeknya 10 hari sebelum prediksi puncak arus mudik terjadi, ASDP telah melakukan persiapan dengan memastikan kesiapan kapal, pelabuhan, dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait angkutan Lebaran 2026. "Semua kami persiapkan dengan seksama tentunya untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Yang juga menjadi perhatian adalah cuaca, yang sudah kami antisipasi, sehingga langkah-langkah kontigensi sudah kami siapkan dengan baik," katanya kepada wartawan di Pelabuhan Merak, Selasa (17/3/2026). Selain itu, secara teknis ASDP juga melakukan pengetatan kendaraan yang dapat menyeberangi pelabuhan. Rute Jawa ke Sumatra misalnya, ASDP membatasi hanya kendaraan golongan IVA, IVB, VA, VIA, dan pejalan kaki yang dapat melakukan penyeberangan melalui Pelabuhan Merak. Sementara dari Pelabuhan Ciwandan, ASDP memberikan keleluasaan bagi kendaraan golongan I, III, VB, dan VIB dua sumbu untuk melintas. Terhadap Pelabuhan BBJ Bojonegara, kendaraan yang dapat melintas hanya golongan VIB tiga sumbu, VII, VIII, dan golongan IX.
Pengaturan Kendaraan
Aturan ini berlaku pada periode 13 Maret hingga 20 Maret 2026 pukul 15.00 WIB. Sementara itu, rute yang sama pada periode keberangkatan 23–29 Maret 2026, arus kendaraan dari Jawa ke Sumatra hanya melalui Pelabuhan Merak dan BBJ Bojonegara. Kendaraan selain golongan VIB 3 sumbu, VII, VIII, dan IX akan melintasi pelabuhan kedua. Sementara itu sisanya akan melalui Merak. Tidak hanya terhadap jalur Jawa-Sumatra, pengetatan aturan mengenai kendaraan yang dapat melintasi pelabuhan juga dilakukan terhadap jalur Gilimanuk-Ketapang. Namun selain itu, persiapan teknis operasional jelang arus balik juga telah dipersiapkan ASDP. "Selain itu ada beberapa area untuk tempat tunggu di jalan tol, kemudian ada rest area, ada juga ruas jalan. Ada beberapa lokasi yang dapat digunakan tempat singgah, sementara menunggu traffic bisa lebih lancar," katanya.
Jajaran direksi dan manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) saat memberikan penjelasan mengenai persiapan arus mudik di Pelabuhan Merak. Terhadap keberangkatan, ASDP juga menerapkan sistem satu harga atau single tarif. Artinya, tidak ada perbedaan layanan terhadap tarif penyeberangan eksekutif maupun reguler. Hal ini diharapkan mampu mengurangi penumpukan kendaraan di pelabuhan. Pada arus mudik dari Pelabuhan Merak, single tarif diterapkan pada periode 13 Maret hingga 20 Maret 2026. Sementara dari Pelabuhan Bakauheni, aturan ini diterapkan pada periode 23 Maret hingga 29 Maret 2026. "Ini tentunya diharapkan mendorong kelancaran dari orang-orang pengguna jasa, sehingga tidak ada opsi bagi pengguna jasa untuk memilih terminal mana yang dia inginkan. Jadi sifatnya betul-betul first in, first out," katanya. Sejalan dengan pengaturan tersebut, pola layanan operasional di dermaga akan disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan pengaturan trafik. Pengguna jasa akan dilayani sesuai penempatan kapal dan dermaga yang telah diatur, sehingga pada periode ini tidak terdapat pemilihan layanan reguler maupun ekspres berdasarkan preferensi waktu, melainkan mengikuti pengaturan operasional yang ditetapkan guna menjaga kelancaran arus penyeberangan. Adapun, kebijakan ini juga sebagai upaya pihaknya mengantisipasi adanya lonjakan penumpang menjadi 5.829.760 orang sepanjang arus mudik di 15 lintasan di seluruh Indonesia. “Prediksi akan ada peningkatan jumlah kendaraan ataupun jumlah penumpang itu kurang lebih di 9% dan pelabuhan-pelabuhan kita siapkan,” jelasnya. Dari sisi perjalanan atau trip, Rio memprediksikan akan berjalan 23.420 trip atau meningkat 6% dari periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan lonjakan trip dan penumpang, ASDP juga melihat akan adanya peningkatan sebesar 9,3% terhadap kendaraan. Utamanya kendaraan roda empat dan roda dua yang masing-masing meningkat 10% dan 9,7%. Hal tersebut juga sejalan dengan prediksi dari Kementerian Perhubungan, di mana mobil dan motor menjadi dua moda paling favorit yang akan masyarakat gunakan untuk mudik pada Lebaran tahun ini. Direktur Utama ASDP Heru Widodo, menegaskan bahwa dalam rangka mudik Lebaran 2026, keselamatan menjadi prioritas utama ASDP dalam memberikan layanan kepada pengguna jasa. Segenap upaya yang telah dilakukan ASDP saat ini ditujukan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pengguna jasa dalam melaksanakan mudik. "Tentunya kami juga terus melakukan perbaikan. Bahwa pelayanan itu menjadi hal yang perlu kami prioritaskan, keselamatan itu menjadi hal yang harus kami prioritaskan," tegasnya dalam kesempatan yang sama. (*)
Evaluasi Nataru 2025/2026: Penumpukan kendaraan memerlukan tambahan personel dan kapal. Kecepatan tol meningkat, kecelakaan menurun 7,2%, pelanggaran naik 3%. [523] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan mengungkapkan masih terdapat beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Misalnya, terkait penumpukan kendaraan, Aan memandang perlu penambahan personel di titik-titik penyekatan untuk mengurai kepadatan saat puncak mobilitas masyarakat.
“Perihal pembagian pelabuhan terutama jalur Merak-Bakauheni perlu ada penambahan ketersediaan kapal di pelabuhan alternatifnya seperti Ciwandan dan BBJ,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (15/1/2026).
Selain itu, dari evaluasi Mudik Gratis arahan Menhub, perlu penambahan kuota dan kota tujuan untuk mengalihkan dari penggunaan sepeda motor atau mobil pribadi sehingga dapat meningkatkan kelancaran dan keselamatan.
Secara umum, Aan menyampaikan bahwa pelaksanaan angkutan Nataru 2025/2026 berjalan dengan baik, lancar, dan terkendali sesuai kebijakan serta rencana operasi yang disusun.
Dirinya berharap pelaksanaan Nataru tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi untuk penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini yang akan berlangsung tak lama lagi.
Sementara itu, Badan Kebijakan Transportasi (BKT) mencatat hasil evaluasi menunjukkan pergerakan angkutan penyeberangan pada periode Nataru 2025/2026 mengalami peningkatan sebesar 35,05% dibandingkan Nataru tahun lalu. Sementara, pada angkutan jalan mengalami penurunan sebesar 5,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dalam hal kecepatan dan waktu tempuh rata—rata kumulatif kendaraan di ruas jalan tol Jakarta—Semarang, terdapat peningkatan dari periode yang sama tahun lalu dari 81,54 km/jam dengan waktu tempuh 5 jam 21 menit menjadi 85,69 km/jam dengan waktu tempuh 5 jam 4 menit.
Untuk ruas tol Semarang—Jakarta juga mengalami peningkatan dibandingkan angkutan Nataru tahun sebelumnya, dari kecepatan 77,73 km/jam dengan waktu tempuh 5 jam 38 menit menjadi 85,73 km/jam dengan waktu tempuh 5 jam 4 menit.
Di sisi lain, Kabag Ops Korlantas Polri Aries Syahbudin menerangkan pada penyelenggaraan angkutan Nataru tahun ini terdapat penurunan angka kecelakaan lalu lintas sebanyak 247 kejadian atau 7,20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Korban meninggal dunia menurun sebanyak 150 orang atau 27,12% dan kerugian materil mengalami penurunan sebesar 3,13%," jelasnya.
Adapun, pihaknya menuturkan jumlah penindakan pelanggaran lalu lintas pada angkutan Nataru tahun ini mengalami kenaikan sebanyak 1.264 perkara atau 3% dengan rincian penindakan melalui ETLE sebanyak 25.891 atau 57,6%, penindakan melalui Non ETLE sebanyak 3.532 atau 7,5%, dan teguran sebanyak 15.535 perkara atau 34,6%.
Sementara itu, meski sudah ada kebijakan pembatasan operasional angkutan barang sumbu tiga ke atas saat periode Nataru 2025/2026, masih terdapat pelanggaran.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Jasa Marga memperlihatkan, ada 63% kendaraan angkutan barang sumbu tiga ke atas yang melakukan pelanggaran pembatasan di jalan tol. Selain itu, terdapat 36% kendaraan angkutan barang sumbu tiga ke atas yang melanggar di jalur arteri.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi pun menyampaikan, kebijakan angkutan barang selama Nataru kemarin menjadi salah satu acuan untuk angkutan lebaran di kemudian hari.
Termasuk persoalan window time yang sebelumnya sempat diberlakukan, dan kemudian dihapus. Alhasil, kendaraan sumbu tiga atau lebih dilarang secara penuh melalui jalan tol selama periode tersebut.
“Pada Januari kita harapkan sudah bisa memberikan keputusan bagaimana mekanisme pengaturan transportasi logistik khususnya yang ada di jalan,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenhub, Senin (5/1/2026).
Kemenhub siapkan strategi atasi kepadatan Pelabuhan Merak-Bakauheni saat Nataru 2025-2026 dengan pembagian pelabuhan dan sistem penundaan. [383] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan sejumlah strategi menghadapi lonjakan penumpang saat masa liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di Pelabuhan Merak dan Bakauheni.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan menekankan bahwa simpul transportasi tersebut menjadi titik krusial dalam arus penyeberangan, setidaknya dalam dua tahun terakhir.
Mengingat, kerap terjadi macet parah atau ‘horor’ di Pelabuhan Merak akibat penumpukan kendaraan.
“Kami sudah menyiapkan beberapa strategi yang akan dilaksanakan saat operasi nanti karena selama dua tahun terakhir Merak jadi salah satu titik krusial saat masa Nataru,” ujar Aan dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (24/11/2025).
Aan menjelaskan, strategi dilakukan dengan menerapkan skema pembagian tiga pelabuhan penyeberangan di Pelabuhan Merak untuk mengurai kepadatan. Termasuk menyiapkan satu pelabuhan pendukung sebagai contingency plan.
Pertama, BBJ Bojonegara, Pelabuhan Merak sendiri, dan Ciwandan. Sementara satu dermaga untuk contingency planapabila tiga pelabuhan tadi sudah tidak bisa menampung, Aan akan membuka Pelabuhan KBS (Krakatau Bandar Samudera).
Sementara di sisi Bakauheni, volume kendaraan juga dibagi di tiga pelabuhan. Di antaranya BBJ Muara Pilu untuk arus dari dan ke BBJ Bojonegara, lintasan utama Pelabuhan Bakauheni dengan Pelabuhan Merak, serta Pelabuhan PT Wijaya Karya Beton untuk arus dari dan ke Ciwandan.
Strategi lainnya, yakni akan diterapkan delaying system menuju Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni. Pelaksanaan delaying system ini melalui penerapan buffer zone (zona penyangga) di rest area jalan tol serta jalan arteri.
“Berarti harus ada untuk parkir kendaraan ketika terjadi situasi yang tidak bisa dilangsungkan penyeberangan. Ini semua sudah disiapkan baik di Merak maupun di Bakauheni,” lanjut Aan.
Adapun, buffer zone di Merak yakni rest area KM 13, KM 43, KM 68, jalan arteri Cikuasa Atas yang bisa menampung total 1.050 kendaraan kecil dan 200 kendaraan roda dua. Sedangkan penerapan delaying system di Lampung tersebar di delapan titik buffer zone dengan total kapasitas parkir 1.190 kendaraan kecil.
Lebih lanjut, Aan juga meminta semua stakeholder untuk mewaspadai cuaca ekstrem di bulan Desember. Aan mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan terjadi pada Desember hingga Januari.
Aan meyakini penyelenggaraan Nataru kali ini dapat berjalan lancar dan sukses berkat persiapan strategi yang matang dan koordinasi semua stakeholder.
Sebelumnya, Kemenhub juga mengantisipasi lonjakan dan kepadatan di Pelabuhan Ketapang pada Nataru mendatang.
Salah satunya, melalui pengaturan pergerakan kendaraan di Pelabuhan Penyebrangan Ketapang, penambahan kapal, pemberlakuan buffer zone, hingga pembatasan kuota tike
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56