Bisnis.com, JAKARTA -Dalam rangka menyambut peringatan 500 Tahun Kota Jakarta, seniman Indonesia Sasya Tranggono menggelar pameran tunggal bertajuk "Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono" di Laflo Menteng.
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang dikenal melalui eksplorasi tema kupu-kupu, bunga, dan wayang, dalam pameran kali ini Sasya Tranggono menghadirkan interpretasi visual yang lebih kontemporer mengenai Jakarta melalui pendekatan abstrak yang kaya warna, emosi, dan simbolisme.
Pameran ini menampilkan rangkaian sekitar 12 karya-karya abstrak terbaru yang merefleksikan perjalanan Jakarta sebagai kota yang terus berkembang, namun tetap berakar pada sejarah, budaya, dan memori kolektif masyarakatnya.
Dari 12 lukisan itu, ada lukisan tentang Gelora Bung Karno (GBK), GPIB Immanuel, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Istana Negara, Tugu Selamat Datang Jakarta hingga Generasi Bintang.
Lukisan terakhir yang disebut ini, jika terjual akan didonasikan untuk membantu anak-anak di Nusa Tenggara Timur.
“Karena itu, dari semua lukisan ini, Generasi Bintang memiliki arti khusus. Karena satu lukisan ini, 100% saya mau persembahkan untuk Tuhan, untuk memberkati anak-anak. Karena bagi saya, kita harus melahirkan the new generation, yang takut Tuhan, cinta bangsa dan hormat terhadap orang tua,” jelas Sasya yang lahir di Jakarta, 25 Desember 1963 ini.
Sasya menjelaskan bahwa karya-karya dalam pameran ini merupakan refleksi atas perjalanan panjang Jakarta yang selama hampir lima abad telah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, gagasan, dan harapan.
"Jakarta tidak hanya dibangun oleh beton dan jalan raya. Jakarta dibangun oleh kenangan, budaya, dan karya-karya yang menjaga jiwanya tetap hidup," ujarnya.
Baginya, pameran tunggal ini memiliki makna tersendiri.
“Jakarta telah menjadi bagian dari kisah terbesar dalam hidup saya. Dari Jakarta, perjalanan karya saya bermula dan bertumbuh hingga berbagai kota di dunia. Melalui pameran ini, saya mempersembahkan sebuah surat cinta untuk Jakarta sebagai ungkapan syukur atas perjalanan yang telah Tuhan berikan dan sebagai penghormatan menuju 500 tahun Jakarta. Sebuah kota yang bukan hanya dibangun oleh gedung dan jalanan, tetapi oleh jutaan kisah manusia di dalamnya,” jelasnya.
Sasya berharap melalui karya-karya yang hadir dalam pameran ini dapat mengajak kita untuk melihat Jakarta dengan cara yang lebih hening, lebih dekat, dan lebih mendalam. “Bukan hanya sebagai sebuah kota, tetapi sebagai ruang kehidupan yang menyimpan begitu banyak cerita, harapan, dan keindahan,” tukasnya.
Jika biasanya mempersiapkan pameran tunggal membutuhkan waktu 1-2 tahun, kali ini hal berbeda dialami Sasya. Untuk 12 lukisan yang dihasilkannya, ia hanya membutuhkan waktu 2, 5 bulan.
Sebelum mulai melukis, Sasya melakukan napas tilas dengan mengunjungi Kota Tua Jakarta. Dari sinilah, langkah awal dimulai. “Saya engineering, lama tinggal di Belanda. Di sinilah, saya mencari benang merah untuk lukisan ini, akhirnya saya memilih gedung sebagai landasan dalam membuat lukisan tentang Jakarta,” ungkap Sasya yang menyelesaikan studi jurusan Teknik Industri & Operational Research di Smith College di Syracuse University, Syracuse, New York, Amerika Serikat dan Rotterdam School of Management di Erasmus Universiteit, Belanda.
Sebagai seniman yang telah berkarya selama lebih dari tiga dekade, Sasya mengaku tantangan terbesar adalah waktu. “Karena saya harus mempersembahkan yang terbaik. Boleh minimalis tapi harus tetap modern dan kontemporer,” tukasnya.
Sementara itu, Laflo sebagai Lokasi pameran yang dipilih Sasya juga memiliki cerita tersendiri. Bagi Alwi Sjaaf selaku Owner dari PT Imago Mulia Persada/LAFLO, mengaku mengenal Sasya sebagai pribadi terbuka dengan detail karya yang Istimewa. “Saya suka dengan pemikiran-pemikiran beliau yang berkaitan dengan budaya Indonesia. Bu Sasya mampu membuat karya yang kontemporer, mengikuti perkembangan zaman. Saya menyebut roh kekinian,” tukas Alwi. “Karena setiap zaman itu punya roh zaman sendiri,” sambungnya.
DNA karya Sasya identik dengan wayang, bunga dan kupu-kupu. Namun, di tangan Sasya, menurut Alwi, mampu membuat wayang yang dikenal ratusan tahun lalu, memiliki rasa era hari ini, abad 21
Meski Alwi lahir di Medan, tapi sejak kecil hingga hari ini telah tinggal di Jakarta. Karena itu, Alwi ingin berkontribusi untuk Jakarta. “Mari kita berjuang agar Jakarta damai dan membawa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, “ ucapnya.
Bagi Sasya, momentum ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan seni dan budaya yang mengiringi perjalanan Jakarta menuju usia 500 tahun pada tahun 2027. Melalui seni rupa, masyarakat diajak untuk melihat Jakarta bukan hanya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang peradaban yang dibangun oleh kenangan, kreativitas, dan identitas budaya yang terus hidup.
Selain menghadirkan karya-karya terbaru Sasya Tranggono, pameran ini juga menjadi wadah dialog antara seniman, budayawan, kolektor, akademisi, media, dan masyarakat mengenai masa depan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar kuat pada warisan budayanya.
Sementara itu, bagi Kurator Jim Supangat, Sasya Tranggono bukanlah pelukis akademis yang belajar di perguruan tinggi seni rupa. Ia pelukis yang mengembangkan ungkapannya melalui pengalaman personal dan menggunakan refleksi perjalanan hidupnya untuk mencari nilai-nilai spiritual.
“Karena itu, cukup mengejutkan, dari perjalanan artistik yang esoteris ini Sasya Tranggono bisa sampai pada kesadaran tentang penggunaan warna, ruang, garis, bidang, yang paralel dengan teori seni rupa yang umumnya dipersoalkan hanya di lingkungan akademi seni rupa. Sasya mulai dari drawing dan lukisan. Namun ia tidak terperangkap pada bahasa ungkapan dua dimensional. Proses melukisnya tidak berbeda dengan melukis still life. Di sini Sasya seperti menjelajahi mesin waktu dan kembali ke lukisan still life yang pernah populer jauh di masa lalu. Konsep berkarya itu unik, tidak pernah dicoba seniman lain. Pada perkembangan ini Sasya menjelajahi formal sensual properties dengan caranya sendiri. Ia tidak dipengaruhi teori-teori seni rupa yang membeda-bedakan seni rupa, high art - low art, fine art – design. Teori esensi dipersoalkan hanya di lingkungan fine art,” kata Jim
Lanjut Jim, seperti terjadi pada perkembangan esensialisme, Sasya tertarik pada bentuk-bentuk geometrik, yang dipicu perhatiannya muncul belakangan pada perkembangan arsitektur kota metropolitan Jakarta, yang ditandai patung-patung monumental di berbagai sudut kota.
Bentuk-bentuk geometrik ini muncul pada lukisan-lukisan, Patung Selamat Datang (2026), Patung Dirgantara (2026), Gedung MPR-DPR (2026), dan Stasiun Kota Jakarta (2026).
Pada lukisan Stasiun Kota Jakarta, bentuk geometrik tidak lagi menjadi representasi kenyataan. Lukisan ini nyaris abstrak. Pada sejarah seni rupa modern bertumpu hanya pada kajian kenyataan di dunia Barat abstrakisme dan formalisme menggeser representasi realitas, narasi, dan, konteks yang sebelumnya selalu hadir pada karya seni rupa.
Para teoretisi esensialis percaya bahwa percaturan bentuk-bentuk sensual secara langsung membangkitkan pengalaman estetik tanpa bantuan narasi, atau renungan nilai-nilai.
Selain itu konteks (bersifat lokal) tidak relevan dipersoalkan karena sensasi estetik yang didapat dari pencerapan bentuk-bentuk sensual, seperti ilmu pengetahuan berkaitan dengan kebenaran universal. Keyakinan itu ternyata tidak sesungguhnya bisa ditegakkan. Banyak seniman tidak bisa diarahkan teori ini.
Sejumlah pelukis abstrak terkemuka menyangkal kemurnian esensialisme itu.
Melalui perkembangan idiosinkratik personal, khas, dan berbeda dari kebiasaan umum Sasya Tranggono mengukuhkan penyangkalan itu. Tanda-tanda formalisme pada lukisannya tidak membuat ia meninggalkan narasi dan representasi.
Sejak awal ia mempersoalkan religiositas pada karya-karyanya dan bingkai ini bertahan sampai sekarang. Lukisan-lukisannya seperti menegaskan bahwa formal sensual properties adalah persoalan bahasa dan idiom ungkapan yang tidak bisa menjadi esensi. Seperti halnya kebenaran internal ilmu pengetahuan tidak otomatis merupakan kebenaran eksternal.
“Melalui sejumlah lukisan pada pameran ini Sasya mencoba merekam tanda-tanda Jakarta yang agresif. Untuk pertama kali ia menampilkan ungkapan yang mempersoalkan konteks,” kata Jim.
Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelolaan Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, dalam pembukaan pameran ini menyatakan bahwa Jakarta tengah mempersiapkan diri menyambut usia 5 abad pada tahun 2027.
“500 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh dari pelabuhan kecil menjadi pusat peradaban, perdagangan, budaya, dan keberagaman yang dikenal dunia,” kata Sri.
Melalui karya-karya abstrak yang ditampilkan Sasya Tranggono, mengajak kita melihat Jakarta bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang gagasan, ruang kenangan, dan ruang harapan. “Seni memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menafsirkan perjalanan kota ini dari sudut pandang yang berbeda-beda. Namun tetap dalam semangat yang sama, mencintai Jakarta dan membayangkan masa depannya,” tukas Sri.
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta meyakini bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun identitas kota global yang tetap berakar kuat pada sejarah dan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, dukungan terhadap kegiatan seni seperti ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus mendorong lahirnya kreativitas yang akan menjadi kekuatan Jakarta di masa depan.
“Saya berharap pameran ini dapat menjadi ruang dialog yang mempertemukan seniman, masyarakat, generasi muda, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama merefleksikan perjalanan Jakarta serta merancang harapan menuju masa depan yang lebih inklusif, kreatif, dan berkelanjutan. Semoga pameran ini memberikan inspirasi bagi kita kita semua dalam menyongsong Jakarta 500 tahun,” terang Sri.
Leonardo A. Putong selaku Ketua Panitia Penyelenggara Pameran Tunggal Sasya Tranggono di LAFLO Menteng mengatakan bahwa pameran ini menjadi langkah awal rangkaian kegiatan seni dan budaya menuju 500 tahun Jakarta pada 22 Juni 2027.
“Kegiatan ini mencerminkan kolaborasi antara seniman, pelaku budaya, dan industri kreatif dalam membangun Jakarta sebagai kota global yang berbudaya. Seni dan budaya berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif,” pungkasnya.
Pameran ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi penting dunia seni rupa dalam menyambut Jakarta 500 Tahun sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai salah satu pusat seni dan budaya terdepan di Asia Tenggara.
Bisnis.com, JAKARTA — Pameran tunggal perupa Semut Prasidha bertajuk Sacred Journey digelar di Balai Budaya Jakarta hingga 9 Maret 2026. Pameran ini menandai perjalanan artistik Semut setelah lebih dari dua dekade berkarya di dunia seni rupa.
Sebanyak 40 karya ditampilkan dalam pameran ini. Sebagian besar karya menggunakan medium akrilik di atas kanvas dengan berbagai tema seperti figur manusia, bunga, benda keseharian, hingga lanskap pesisir.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul Koboi Bukit Internasional (2015). Lukisan ini menampilkan sosok figuratif dengan wajah merah terang dan sapuan cat tebal yang tampak spontan.
Tokoh dalam lukisan tersebut digambarkan bertopi koboi dengan rambut panjang terurai. Busananya memadukan berbagai simbol budaya dengan warna kontras yang saling bertabrakan, menciptakan kesan ekspresif sekaligus karikatural.
Bagi pengunjung yang sering datang ke Balai Budaya, sosok yang dilukis Semut mungkin terasa akrab. Figur tersebut mengingatkan pada seniman senior asal Teluk Betung, Syahnagra Ismail.
Kisah di balik lukisan itu juga menarik. Lukisan ini berangkat dari cerita masa kecil Syahnagra. Dia pernah mengenang sosok “Paman Tak Dikenal” yang sering melintas di kampungnya mengendarai sepeda motor besar.
Karena gaya dinginnya, sosok tersebut kerap diteriaki anak-anak sebagai “Koboi Bukit”. Namun suatu hari, pria itu muncul di surat kabar setelah membantu warga melumpuhkan harimau liar yang meresahkan desa.
Cerita tersebut kemudian menginspirasi Semut dalam menciptakan lukisan. Menariknya, alih-alih menggambarkan tokoh misterius itu, Semut justru melukis sosok Syahnagra.
“Saya sengaja menggantinya dengan sosok Babe, karena orangnya kaku, kan. Tapi dia banyak membantu memperluas wawasan saya,” ujar Semut.
Selain karya figuratif, Semut juga menampilkan lukisan bertema bunga. Dalam beberapa karya, dia terinspirasi oleh pelukis Sri Warso Wahono yang pernah menjadi tempatnya belajar.
Salah satu karya yang menonjol adalah Bunga Kejujuran (2019). Dalam lukisan ini Semut menggabungkan dua kanvas dengan warna berseberangan dalam satu bingkai.
Mawar putih dalam lukisan tersebut tidak sekadar menjadi objek dekoratif. Tambahan teks “Pusaka Abadi nan Jaya” yang diambil dari lirik lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki memberi ruang tafsir bagi penonton.
Kurator pameran, Yogi Wistyo, menilai Sacred Journey sebagai fase penting dalam perjalanan kreatif Semut. Menurutnya, pameran ini menunjukkan konsistensi eksplorasi visual yang dilakukan sang seniman.
“Meski terlihat spontan, karya seperti ini sebenarnya membutuhkan konsep yang matang serta pengetahuan yang luas,” kata Yogi.
Menyambut Tahun Baru Imlek, K Mall at Menara Jakarta menggelar pameran seni bertajuk “Prosperous Horse Year. Pameran ini berlangsung pada 19 Januari hingga... | Halaman Lengkap [424] url asal
JAKARTA - Menyambut Tahun Baru Imlek, K Mall at Menara Jakarta menggelar pameran seni bertajuk “Prosperous Horse Year”. Pameran ini berlangsung pada 19 Januari hingga 8 Februari 2026 di K Space, Ground Floor, K Mall at Menara Jakarta.
Sebagai pusat perbelanjaan baru dengan konsep terbuka, futuristik, dan modern, K Mall berkolaborasi dengan Linda Gallery untuk menghadirkan pameran seni berkualitas yang dapat dinikmati oleh publik secara luas.
Center Experience Manager K Mall at Menara Jakarta, Wahyu Setiadi, mengatakan kolaborasi ini bertujuan memperkaya pengalaman berkunjung para pengunjung dan tenant melalui sajian visual yang bermakna.
“Kolaborasi ini kami hadirkan untuk memberikan pengalaman visual yang relevan dan memperkaya kunjungan di K Mall. Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung,” ujar Wahyu, Minggu (18/1/2026).
Menurut Wahyu, inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen K Mall dalam mendukung ekosistem seni dan budaya, sekaligus memperkuat peran pusat perbelanjaan sebagai ruang publik yang hidup dan inklusif.
Sementara itu, Owner Linda Gallery Linda Ma, menjelaskan pameran ini diharapkan menjadi ruang perayaan Imlek yang lebih dari sekadar simbol dan dekorasi, melainkan menghadirkan pengalaman visual yang sarat makna.
“Tema kuda dipilih karena relevan dengan tahun Kuda Api, yang diasosiasikan dengan gerak, determinasi, dan keberanian untuk melangkah maju. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk menyambut tahun yang baru,” ujarnya.
Linda menambahkan, pameran ini juga dirancang sebagai ruang interaksi yang hangat, di mana pengunjung dapat menikmati karya seni dengan nyaman, berdiskusi, serta merasakan energi optimistis yang tercermin melalui patung dan lukisan.
“Pameran ini menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisional tentang keberuntungan dan berkah dengan pendekatan artistik modern. Kami berharap pengunjung tidak hanya melihat karya, tetapi juga menangkap narasi tentang harapan, progres, dan semangat memulai kembali,” tambahnya.
Linda Gallery memilih bekerja sama dengan K Mall at Menara Jakarta karena melihat potensi ruang baru ini sebagai destinasi seni yang dekat dengan publik. Suasana mal yang nyaman dan intim dinilai memungkinkan pengunjung, kolektor, keluarga, hingga pecinta seni menikmati karya secara lebih fokus dan personal.
Dari sisi pengembangan ekosistem seni, pameran ini diharapkan dapat memperluas basis penikmat seni sekaligus menumbuhkan generasi kolektor baru. Dengan format pameran yang inklusif dan mudah diakses, pengunjung dari berbagai kalangan diharapkan dapat merasakan pengalaman seni yang menyenangkan sekaligus berkelas.
“Kami percaya, paparan terhadap karya berkualitas dalam konteks yang nyaman akan menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam, dan pada akhirnya keberanian untuk mulai mengoleksi. Kami berharap pameran ini menjadi awal tahun yang memberi energi positif bagi publik,” tutup Linda.
Dalam pameran “Prosperous Horse Year”, pengunjung dapat menikmati karya dari sejumlah seniman Tiongkok ternama, di antaranya Ren Zhe, Cai Zhi Song, dan Jiang Shuo.
Bisnis.com, SEMARANG — Grand Candi Hotel Semarang merayakan hari jadi ke-28 pada Kamis (15/1/2026) dengan menghadirkan rangkaian acara yang bertajuk Timeless Harmony. Perayaan ini menjadi refleksi komitmen hotel bintang lima yang berkonsep art & gallery ini dalam menghadirkan pelayanan yang hangat, berkelas, dan relevan lintas waktu.
Dalam rangka memeriahkan perayaan tersebut, Grand Candi Hotel Semarang menghadirkan sejumlah kegiatan yang terbuka untuk masyarakat umum. Rangkaian acara ini dimulai dengan Pekan Giveaway yang berlangsung pada 7-13 Januari 2026 melalui TikTok Live, Instagram Live, dan sejumlah radio.
Grand Candi Hotel juga menyelenggarakan kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis pada 14 Januari 2026 sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat. Puncak perayaan hari jadi Hotel Grand Candi ditandai dengan penyelenggaraan pameran lukisan yang akan berlangsung selama satu bulan penuh mulai 8 Januari hingga 8 Februari 2026.
Pameran lukisan yang bertajuk Timeless Harmony Art Expo ini merupakan pameran hasil kolaborasi antara Grand Candi Hotel dengan komunitas seniman asal D.I. Yogyakarta, Patsijiwanta. Terdapat 28 karya seni lukis dari 10 seniman yang dipamerkan di area lobi hingga restoran hotel yang dapat dilihat serta dinikmati oleh pengunjung tanpa tiket masuk.
Adapun, sepuluh seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah Annie Sofyan, Astuti Kusumo, Betto Made, Dwipo Hadi, Indira Bunyamin, Jajang R. Kawentar, Monang Sitinjak, N. Rinaldy, Retno Aris, dan Yulita Yoe Yoe. Karya-karya dari sepuluh seniman tersebut menampilkan ragam aliran seni dua dimensi dengan karakter visual yang kuat.
Pemilihan tema Timeless Harmony dipilih bukan sekadar menyesuaikan dengan perayaan hari jadi hotel, tetapi juga merepresentasikan pesan yang diangkat dalam karya para seniman. Harmoni dimaknai sebagai upaya menyelaraskan keseimbangan di tengah berbagai ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan.
Salah satu seniman pameran, Jajang R. Kawentar, menyebut bahwa tema tersebut menjadi sebuah refleksi perjalanan manusia dalam menemukan keseimbangan diri. “Manusia diberikan kemampuan memiliki sifat Penciptanya. Apa yang ada di dalam diri manusia, ada di alam semesta. Apabila tidak menemukan harmoni yang kita cari di luar sana, sebetulnya harmoni yang kita cari sudah ada di dalam diri,” jelas Jajang, Kamis (15/1/2026).
Pameran ini menampilkan beragam karya dari para seniman, seperti lukisan berjudul Imajinasi Kota karya Dwipo Hadi yang menggambarkan kota sebagai ruang berlabuh, lukisan berjudul Kupilih Melepas karya Indira Bunyamin yang merepresentasikan kebebasan setelah melepaskan keterikatan, serta lukisan yang berjudul Mekar karya Retno Aris yang menggambarkan keindahan yang tumbuh di tengah kesederhanaan.
Marketing Communication Manager Grand Candi Hotel Semarang Azkar Rizal Muhammad menuturkan bahwa seluruh rangkaian acara ini dirancang untuk melibatkan publik agar perayaan hari jadi menjadi milik bersama.
“Timeless Harmony merupakan komitmen kami dalam menciptakan ruang di mana setiap tamu merasa diterima, dihargai, seperti pulang ke rumah. Ini juga menjadi langkah kami untuk terus memperbarui fasilitas seiring perkembangan zaman, beradaptasi dengan kebutuhan tamu, dan berinovasi agar setiap pengalaman menginap tetap relevan, nyaman, dan berkesan,” ujar Azkar. (Fadya Jasmin Malihah)
Sebanyak 110 lukisan dari berbagai jenis dipamerkan dalam Art Exhibitions Warisan Jiwa di Ciputra Artpreneur, Jakarta, mulai Jumat (24.10.2025). Pameran yang menghadirkan... | Halaman Lengkap [503] url asal
JAKARTA - Sebanyak 110 lukisan dari berbagai jenis dipamerkan dalam Art Exhibitions Warisan Jiwa di Ciputra Artpreneur, Jakarta, mulai Jumat (24/10/2025). Pameran yang menghadirkan berbagai aliran lukisan yang diinisiasi gerakan anak muda melalui Yayasan Cahaya Cita ini mengkolaborasikan seni dan charity.
Pendiri Yayasan Cahaya Cita Natalie Airlangga Hartarto menuturkan ide pameran Warisan Jiwa muncul saat melihat berbagai latar manusia dan kondisinya yang disatukan melalui seni. Menurut dia, berbagai karakter orang dengan latar belakangnya justru bisa disatukan melalui seni.
Hal inilah yang mendorong dirinya beserta teman-teman satu angkatan sekolahnya di Binus School Simprug menggagas pameran untuk mewadahi seniman lokal memamerkan karyanya. Sekaligus, menjadi gerakan dari generasi Z yang mengajak untuk saling peduli dengan sesama.
"Semoga kita bisa promosi culture dan heritage Indonesia, semoga anak muda bisa mengerti dan paham culture kami dari mana dan semoga kita bisa jadikan amal yang baik," ujar Natalie, Jumat (24/10/2025).
Putri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ini menegaskan tak ada batasan usia pelukis agar dapat memamerkan karya mereka di Warisan Jiwa. Bahkan, ada pelukis yang masih berusia 15 tahun yang memamerkan karyanya di pameran kedua yang digelar Cahaya Cita. Pameran pertama Cahaya Cita digelar setahun lalu.
Dari 110 lukisan, sudah terjual beberapa lukisan saat sebelum pembukaan. Nilai lukisan yang terjual mencapai Rp200 juta. Jika seluruh lukisan terjual dalam pameran ini, nilai total rupiah yang terkumpul sebanyak Rp2,5 miliar. Sebagian besar hasil penjualan lukisan di pameran ini akan didonasikan untuk membantu pendirian klinik kesehatan di wilayah Cengkareng.
"Kami akan donasi untuk membangun klinik di area Cengkareng dan kami akan mengadakan fasilitas seperti sunatan, surgery (operasi) untuk katarak, dan bibir sumbing," tuturnya.
Pendiri Cahaya Cita lainnya Barindra Surjaudaja menambahkan selain membantu masyarakat kurang mampu, pameran ini juga untuk membantu para seniman lokal mengenalkan karyanya di ruang publik.
Bari menuturkan banyak seniman atau pelukis lokal di seluruh Indonesia yang masih membutuhkan ruang untuk memamerkan karya yang lebih luas.
“Dengan pameran seni ini, artis-artis lokal juga dibantu. Ada banyak sekali artis-artis lokal di seluruh Indonesia yang masih perlu eksposure," ujar Bari.
Pameran Warisan Jiwa dijadwalkan selesai pada Minggu (26/10/2025). Sementara, Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra yang menyaksikan langsung pembukaan Art Exhibition Warisan Jiwa melonggarkan waktu agar pameran bisa digelar hingga Selasa (28/10/2025).
Rina mengaku bangga ada gerakan anak muda yang memiliki gagasan memberi panggung pada seniman lokal sekaligus membantu sesama masyarakat yang membutuhkan melalui pembangunan klinik kesehatan. Menurut dia, sebagus apa pun lukisan yang dihasilkan seorang artis, tak ada artinya jika tak bisa dipamerkan dan dikenal secara luas.
“Saya sangat senang dan saya sangat terharu melihat gerakan ini dan memang inilah yang diinginkan mendiang ayah saya Pak Ciputra, membangun tempat Ciputrapreneur," ujarnya.
Dia berharap lahir lebih banyak lagi gerakan anak muda yang bisa memprakarsai hal serupa di masa depan. Rina juga mengaku terbuka tempatnya menjadi wadah bagi para seniman untuk menampilkan karya mereka.
"Tempat ini bisa menjadi wadah untuk para artis apakah mereka ini seorang performer apakah mereka seorang pelukis, pemahat, tempat ini menjadi wadah untuk menampilkan hasil karya mereka," katanya.
(jon)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56