Bisnis.com, JAKARTA — Pameran tunggal perupa Semut Prasidha bertajuk Sacred Journey digelar di Balai Budaya Jakarta hingga 9 Maret 2026. Pameran ini menandai perjalanan artistik Semut setelah lebih dari dua dekade berkarya di dunia seni rupa.
Sebanyak 40 karya ditampilkan dalam pameran ini. Sebagian besar karya menggunakan medium akrilik di atas kanvas dengan berbagai tema seperti figur manusia, bunga, benda keseharian, hingga lanskap pesisir.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul Koboi Bukit Internasional (2015). Lukisan ini menampilkan sosok figuratif dengan wajah merah terang dan sapuan cat tebal yang tampak spontan.
Tokoh dalam lukisan tersebut digambarkan bertopi koboi dengan rambut panjang terurai. Busananya memadukan berbagai simbol budaya dengan warna kontras yang saling bertabrakan, menciptakan kesan ekspresif sekaligus karikatural.
Bagi pengunjung yang sering datang ke Balai Budaya, sosok yang dilukis Semut mungkin terasa akrab. Figur tersebut mengingatkan pada seniman senior asal Teluk Betung, Syahnagra Ismail.
Kisah di balik lukisan itu juga menarik. Lukisan ini berangkat dari cerita masa kecil Syahnagra. Dia pernah mengenang sosok “Paman Tak Dikenal” yang sering melintas di kampungnya mengendarai sepeda motor besar.
Karena gaya dinginnya, sosok tersebut kerap diteriaki anak-anak sebagai “Koboi Bukit”. Namun suatu hari, pria itu muncul di surat kabar setelah membantu warga melumpuhkan harimau liar yang meresahkan desa.
Cerita tersebut kemudian menginspirasi Semut dalam menciptakan lukisan. Menariknya, alih-alih menggambarkan tokoh misterius itu, Semut justru melukis sosok Syahnagra.
“Saya sengaja menggantinya dengan sosok Babe, karena orangnya kaku, kan. Tapi dia banyak membantu memperluas wawasan saya,” ujar Semut.
Selain karya figuratif, Semut juga menampilkan lukisan bertema bunga. Dalam beberapa karya, dia terinspirasi oleh pelukis Sri Warso Wahono yang pernah menjadi tempatnya belajar.
Salah satu karya yang menonjol adalah Bunga Kejujuran (2019). Dalam lukisan ini Semut menggabungkan dua kanvas dengan warna berseberangan dalam satu bingkai.
Mawar putih dalam lukisan tersebut tidak sekadar menjadi objek dekoratif. Tambahan teks “Pusaka Abadi nan Jaya” yang diambil dari lirik lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki memberi ruang tafsir bagi penonton.
Kurator pameran, Yogi Wistyo, menilai Sacred Journey sebagai fase penting dalam perjalanan kreatif Semut. Menurutnya, pameran ini menunjukkan konsistensi eksplorasi visual yang dilakukan sang seniman.
“Meski terlihat spontan, karya seperti ini sebenarnya membutuhkan konsep yang matang serta pengetahuan yang luas,” kata Yogi.