Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) di provinsi setempat pada triwulan II tahun 2026 ... [295] url asal
Palangka Raya (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) di provinsi setempat pada triwulan II tahun 2026 tetap terjaga dengan baik di tengah meningkatnya dinamika perekonomian global dan nasional.
"Kondisi ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan," tegas Kepala OJK Kalteng Primandanu Febriyan Aziz di Palangka Raya, Rabu.
Stabilitas sektor jasa keuangan di Kalteng pada triwulan II yang terjaga dengan baik itu dapat dilihat dari berbagai sektor. Salah satunya perkembangan sektor bank umum di Kalteng.
Dia menyampaikan pada posisi Mei 2026, kinerja bank umum mengalami peningkatan dibanding posisi Mei 2025, seperti aset meningkat Rp8,27 triliun atau 9,08 persen tahun ke tahun atau year-on-year (yoy), yakni dari Rp90,99 triliun kini menjadi sebesar Rp99,26 triliun.
Kemudian dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebesar Rp3,63 triliun atau 7,36 persen yoy, dari Rp49,33 triliun kini menjadi sebesar Rp52,93 triliun. Juga kredit atau pembiayaan meningkat sebanyak Rp3,78 triliun atau 7,37 persen yoy, dari sebelumnya Rp51,20 triliun kini menjadi Rp54,98 triliun.
Lebih lanjut Primandanu menekankan kondisi sektor jasa keuangan yang stabil, aman, dan tepercaya memiliki peran strategis dalam upaya menjaga ketahanan ekonomi daerah.
"Kondisi sektor jasa keuangan seperti ini juga sangat mendukung, dalam perluasan akses pembiayaan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat," jelaanya.
Sejalan dengan itu, OJK Kalteng terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan lembaga jasa keuangan, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan terkait untuk mendorong penguatan ekosistem keuangan terintegrasi dan berkelanjutan.
Melalui berbagai program strategis, OJK berkomitmen menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, serta memperluas akses layanan keuangan mudah dijangkau, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat hingga ke wilayah terpencil.
OJK Kalimantan Tengah mengungkap lima modus psikologis yang kerap digunakan pelaku scam untuk menipu korban. Mulai dari ketidaktahuan hingga iming-iming untung cepat. [369] url asal
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah mengungkap bahwa kejahatan penipuan digital atau scam tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga memanfaatkan celah psikologis korban.
Setidaknya ada lima pola utama yang paling sering dimainkan pelaku untuk memanipulasi korban agar menuruti keinginan mereka.
Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menjelaskan pemahaman terhadap modus-modus ini penting agar masyarakat lebih waspada di tengah maraknya kejahatan digital.
“Pelaku scam umumnya tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga memainkan sisi psikologis korban. Dan ada lima faktor utama yang sering dimanfaatkan,” jelas Primandanu dikutip dari Antara, Kamis, 15 Januari 2026.
Lima pola utama pelaku scam menjalankan modus penipuan
1. Memanfaatkan ketidaktahuan korban Modus pertama yang kerap digunakan adalah memanfaatkan minimnya pengetahuan korban terhadap prosedur resmi.
Pelaku biasanya menyamar sebagai petugas instansi tertentu, mulai dari aparat penegak hukum, petugas pajak, hingga pihak yang mengaku mengurus layanan publik seperti Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Korban yang kurang memahami prosedur sering kali langsung percaya ketika dihubungi oleh pihak yang mengaku sebagai aparat atau pejabat tertentu,” ujarnya.
2. Menebar rasa panik dan ketakutan Modus kedua adalah menciptakan kepanikan. Pelaku menyampaikan informasi mendesak yang bersifat emosional, seperti kabar anggota keluarga mengalami kecelakaan, sakit keras, atau membutuhkan biaya dalam waktu singkat.
3. Menyasar kesepian lewat love scam Pelaku juga kerap memanfaatkan faktor kesepian, terutama melalui modus love scam. Mereka membangun kedekatan emosional lewat media sosial atau platform digital, lalu perlahan mulai meminta bantuan finansial.
Primandanu mengingatkan bahwa identitas digital, termasuk foto dan profil media sosial, sangat mudah dimanipulasi sehingga masyarakat perlu lebih berhati-hati.
4. Mengiming-imingi keuntungan instan Keserakahan menjadi faktor psikologis berikutnya yang sering dimanfaatkan. Tawaran investasi dengan imbal hasil besar dalam waktu singkat, pinjaman berbunga rendah, hingga janji keuntungan tanpa risiko kerap menjadi pintu masuk penipuan.
5. Jebakan hiburan dan diskon tak masuk akal Modus terakhir berkaitan dengan kebutuhan akan hiburan dan kesenangan. Pelaku menawarkan promo wisata murah, diskon belanja daring ekstrem, atau barang dengan harga jauh di bawah pasaran.
OJK Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang bersifat mendesak atau terlalu menggiurkan.
Verifikasi informasi dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan keuangan menjadi langkah penting untuk mencegah penipuan.
“Literasi keuangan dan kehati-hatian adalah kunci utama untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital,” tuturnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menuntaskan sebanyak 230 pengaduan yang disampaikan masyarakat dalam periode awal tahun ... [330] url asal
Palangka Raya (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menuntaskan sebanyak 230 pengaduan yang disampaikan masyarakat dalam periode awal tahun hingga November 2025.
"Dari 263 pengaduan, sebanyak 230 pengaduan telah selesai tuntas atau ditutup, sedang 33 pengaduan aktif dengan status masih menunggu tanggapan konsumen serta dalam penanganan PUJK (pelaku usaha jasa keuangan)," terang Kepala OJK Kalteng Primandanu Febriyan Aziz di Palangka Raya, Jumat.
Data ini merupakan rekapitulasi kegiatan penanganan pengaduan melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK).
OJK Kalteng menerima 2.774 permintaan layanan yang terdiri dari 604 permintaan informasi, 263 pengaduan serta 1.907 layanan dalam bentuk pertanyaan konsumen.
"Paling sering diadukan adalah perilaku petugas penagihan, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), fraud eksternal (penipuan, pembobolan rekening, skimming, dan cyber-crime) dan penolakan pelunasan kredit/pembiayaan dipercepat," jelasnya.
Kemudian secara walk-in, sampai dengan November 2025, OJK Kalteng telah memberikan 81 layanan meliputi 79 layanan pengaduan dan 2 permintaan informasi, yang keduanya telah diselesaikan pada saat konsultasi.
Untuk walk-in ini permasalahan yang paling sering dikonsultasikan mengenai permasalahan SLIK, perilaku jasa penagihan, pengembalian agunan, dan pelunasan dipercepat.
Sementara itu, sampai dengan November 2025, OJK Kalteng menerima 7.089 permintaan layanan SLIK, terdiri dari 3.999 permintaan secara daring dan 3.090 permintaan secara walk-in.
Lebih lanjut Primandanu memaparkan, hingga Oktober 2025 pihaknya juga telah melaksanakan 133 kegiatan terdiri dari 72 edukasi keuangan, serta 33 inklusi keuangan.
"Edukasi keuangan ini seperti talkshow penguatan ekonomi daerah berbasis lokal dan kearifan komunitas di Palangka Raya, edukasi keuangan dalam program fun run bersinergi dengan media, literasi keuangan pengenalan mahasiswa baru serta lainnya," ujarnya.
Kemudian kegiatan inklusi keuangan seperti coaching clinic Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), rapat koordinasi TPAKD, rangkaian lomba dan puncak Bulan Inklusi Keuangan 2025 di Palangka Raya.
Primandanu menambahkan, melalui Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (PASTI) juga menyelenggarakan 10 kegiatan berupa edukasi keuangan waspada investasi ilegal, pinjaman online ilegal, dan judi online kepada komunitas LINK serta lainnya.
Di pojok Desa Tumbang Empas saat sang surya perlahan membenamkan diri, tampak sosok seorang pemuda tengah membaur bersama warga di pelataran sebuah rumah ... [995] url asal
Palangka Raya (ANTARA) - Di pojok Desa Tumbang Empas saat sang surya perlahan membenamkan diri, tampak sosok seorang pemuda tengah membaur bersama warga di pelataran sebuah rumah .
Narasi lugas terucap namun tersampaikan dengan begitu santai, penjelasan demi penjelasan seputar edukasi keuangan dipaparkan perlahan oleh Andrau Boston Togatorop (21) kepada sejumlah warga.
Cara penyampaian yang tak menggurui apalagi menghakimi, membuat warga yang sebagian berusia lebih tua dibandingkan Andrau tampak dengan nyaman menyimak dan sesekali melemparkan pertanyaan balik seputar dunia keuangan.
Meski berada di desa nyatanya antusiasme warga tak kalah jika dibandingkan warga kota untuk mengetahui berbagai hal seputar dunia keuangan.
Sejumlah warga berupaya memanfaatkan pertemuan dengan Andrau untuk bisa menggali lebih banyak informasi mengenai program di bidang keuangan hingga produk-produk dari lembaga jasa keuangan yang mungkin bisa mereka akses.
Bak gayung bersambut, Andrau pun memanfaatkan momentum tersebut untuk memaparkan ragam hal yang ia ketahui tentang dunia keuangan dengan sebaik-baiknya.
Mulai dari antisipasi dan bahaya investasi ilegal, penipuan berkedok arisan, hingga membantu warga memahami produk-produk pada lembaga jasa keuangan dan cara mengaksesnya.
Pemilihan materi-materi seputar keuangan oleh Andrau juga sangat cermat, menyesuaikan lawan bicara serta potensi keterkaitan mereka dengan hal-hal yang dibahas.
Bahkan dari bincang-bincang tersebut, Andrau juga sempat berbagi kontak kenalannya yang bekerja di salah satu perbankan kepada warga.
Dia berusaha memfasilitasi warga desa agar bisa mengakses layanan maupun produk keuangan yang disediakan perbankan.
Andrau berupaya memanfaatkan waktu yang dia miliki saat menjalani kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut untuk bisa memberi manfaat secara maksimal bagi masyarakat.
"Kehadiran kita memang singkat, namun sudah seharusnya mampu memberi manfaat sebesar-besarnya bagi desa maupun masyarakat di sini," kata Andrau.
Andrau merupakan mahasiswa dari Universitas Palangka Raya (UPR) Program Studi Pertanian. Desa Tumbang Empas yang menjadi lokasi KKN berada di Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, sekitar 207 kilometer dari Kota Palangka Raya yang merupakan ibu kota dari Kalimantan Tengah.
Andrau, LINK dan OJK
Andrau Boston Togatorop berasal dari Kota Palangka Raya. Dia merupakan sosok pemuda yang sudah tak asing lagi dengan dunia keuangan.
Andrau telah menjalani program Training of Trainers (ToT) seputar dunia keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi sosok muda yang kompeten untuk bisa berbagi ataupun mengedukasi.
Dia juga telah memasuki periode ketiga terlibat sebagai salah satu motor penggerak dari Komunitas Literasi dan Inklusi Keuangan (LINK) bentukan OJK Kalteng.
Pun telah memasuki periode kedua sebagai nakhoda LINK Kalteng yang bergerak cepat dalam memacu laju sosialisasi dan edukasi mengenai literasi serta inklusi keuangan kepada masyarakat.
Andrau juga telah dianugerahi Duta OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan (Peduli) Segmen Prioritas Terbaik dalam ajang Financial Literacy Award (FLA) 2025 oleh OJK Pusat.
Dengan fasilitasi OJK melalui Komunitas LINK disertai berbagai capaiannya, Andrau bersama pemuda-pemudi Kalteng lainnya telah hadir di tengah masyarakat mendukung gerakan edukasi seputar literasi dan inklusi keuangan.
LINK Kalteng kini telah memasuki generasi kelima, terhitung hadir di Kalimantan Tengah pertama kalinya sejak tahun 2021.
LINK menjadi wadah strategis bagi generasi muda di Kalimantan Tengah untuk berbuat dan terlibat secara aktif dalam mengedukasi masyarakat sehingga memiliki literasi keuangan yang baik.
Sebagai perpanjangan tangan OJK, selama ini LINK telah menyelenggarakan berbagai program dan kegiatan terutama dalam mengedukasi masyarakat, sehingga dapat membantu memangkas gap antara tingkat inklusi keuangan dengan literasi keuangan.
OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei telah merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. SNLIK terbaru ini menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen.
Hasil SNLIK 2025 ini menunjukkan adanya peningkatan jika dibanding SNLIK 2024 yang sebelumnya indeks literasi keuangan adalah sebesar 65,43 persen dan indeks inklusi keuangan 75,02 persen.
Perlahan namun pasti, bertahap dan kian meyakinkan, upaya bersama melalui berbagai kolaborasi tampak menunjukkan hasil yang semakin baik berkaitan dengan literasi maupun inklusi keuangan.
Termasuk gerakan masif edukasi tentang literasi keuangan di Kalimantan Tengah. Kolaborasi OJK bersama pemerintah daerah, berbagai instansi yang tergabung dalam Satgas PASTI, lembaga jasa keuangan, dan pastinya Komunitas LINK mampu menunjukkan begitu berarti serta besarnya dampak dari gerakan bersama yang solid.
Fondasi literasi keuangan sejak dini
Di tahun ketiga melangkah bersama LINK Kalteng, Andrau menekankan penguatan fondasi literasi keuangan sejak dini menjadi salah satu fokus utama.
Didukung OJK dan berkolaborasi dengan berbagai lembaga jasa keuangan, LINK Kalteng siap melanjutkan sosialisasi dan edukasi keuangan yang telah terlaksana dengan baik selama ini.
"Karena menurut aku, ibarat kawat lebih mudah dibentuk saat dari awal, apabila dibandingkan harus meluruskan terlebih dahulu kawat yang sudah terlanjur bengkok dan kemudian membentuknya lagi," kata dia.
Andrau pun menceritakan pengalamannya bersama LINK saat menyelenggarakan edukasi keuangan kepada kalangan siswa SMP di Kota Palangka Raya.
Walau masih SMP, nyatanya siswa di tingkatan pendidikan ini sudah mampu berpikir secara kritis bahkan berkaitan dengan bidang keuangan.
"Banyak pertanyaan atau pemikiran kritis dari siswa SMP yang saya pernah temui. Contohnya, saya kan masih kecil ya, berarti investasi yang pas apa ya, Kak? Bahkan ada juga dari mereka yang menanyakan tentang bahaya judi online hingga pinjaman online," kata Andrau.
Giat sosialisasi dan edukasi keuangan yang dilaksanakan Andrau bersama LINK Kalteng di SMPN 2 Palangka Raya. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)
Bahkan dalam beberapa hari terakhir ini masyarakat juga dikejutkan dengan ramainya pemberitaan tentang seorang siswa SMP di Kulon Progo, Yogyakarta yang terjerat pinjaman online. Bermula dari permainan atau game online, kemudian ada unsur judi, dan pada akhirnya terjebak pinjaman online.
Memang, menyikapi perkembangan serba cepat dan pesat ini, sudah seharusnya Andrau bersama LINK didukung OJK dan juga kita semua, harus terus memacu laju gerakan edukasi sehingga semakin banyak masyarakat memiliki literasi keuangan yang memadai.
Dengan saling mengedukasi dan mengingatkan, menjadi salah satu cara paling ampuh. Warga jaga warga, seruan yang sempat ramai digunakan namun tampaknya juga cukup tepat digunakan dalam hal ini.
Literasi keuangan yang baik merupakan benteng pertahanan paling mumpuni bagi seseorang dalam menghadapi berbagai potensi ancaman di dunia keuangan misalnya judi online, penipuan investasi, pinjaman online ilegal atau semacamnya.
Oleh karenanya, literasi keuangan sejak dini sangatlah penting dimiliki, terlebih apabila melihat laju perkembangan zaman maupun teknologi informasi yang begitu pesat.
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56