Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai perusahaan multifinance kini berhasil menjaga rasio pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF) dengan baik.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno kala menanggapi data OJK yang menyebut laba industri perusahaan pembiayaan per September 2025 mencapai Rp16,14 triliun. Nilai ini tumbuh 10,54% secara bulanan atau month-to-month (MtM).
Menurutnya, data itu memberikan sinyal baik di industri multifinance. Pasalnya, ini berarti kualitas NPF yang sebelumnya meningkat sudah bisa terjaga dengan baik. Selain itu, baginya kualitas portofolio perusahaan juga kian membaik.
“Nah, dengan laba membaik artinya apa, berarti perusahaan pembiayaan sudah berhasil menjaga non-performing finance, sehingga pencadangannya juga menjadi lebih kurang dibandingkan kalau dia menaik terus, karena dia harus mencadangkan, maka terkena di laba,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (24/11/2025).
Kendati demikian, dia menegaskan pertumbuhan laba ini tidak bisa serta-merta diartikan sebagai sinyal pemulihan ekonomi, terkhusus daya beli masyarakat. Namun, dia berharap tahun depan laba ini bisa tetap tumbuh.
“Kalau bicara mengenai apakah ini pemulihan ya, karena pertumbuhannya juga belum [meningkat signifikan] ya belum lah [bisa disebut sebagai pemulihan], penanganan kualitas itu bukan berarti pemulihan,” sebut Direktur Utama Utama Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL) tersebut.
Senada, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menegaskan pertumbuhan laba industri pembiayaan tak serta-merta menjadi indikator pemulihan konsumsi. Hal ini karena keuntungan tersebut berasal dari booking tahun lalu dan beberapa bulan awal tahun ini.
“Yang terjadi adalah bahwa industri pembiayaan lebih hati-hati mengucurkan kredit, terlihat dari tren down payment yang meningkat serta persyaratan kredit yang lebih ketat,” tuturnya.
Menurutnya, perbaikan kualitas kredit itu sudah dilakukan sejak pemburukan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) pada kuartal III tahun lalu.
Selain itu, lanjutnya, dia melihat saat ini banyak multifinance yang bergeser (shifting) ke pemberian dana tunai dan modal kerja. Menurut dia, ini dilakukan lantaran sektor otomotif yang saat ini masih dirasa cukup berat.
“Maka demikian, tentu dengan jawaban di atas, faktor kenaikan laba industri lebih dominan karena perbaikan kualitas kredit dan efisiensi internal,” tegasnya.
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Adira Finance di Jakarta, Senin (4/3). Bisnis/Abdurachman
Adapun, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF) atau Adira Finance mencatat kinerja laba perusahaan hingga kuartal III/2025 masih menunjukkan tren penurunan seiring dengan menurunnya pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kendati demikian, Chief of Financial Officer (CFO) Adira Sylvanus Gani menekankan secara kuartalan (QoQ) kinerja perusahaan mulai menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari pendapatan pada kuartal III/2025 tercatat meningkat.
“Sementara perusahaan berhasil menekan beban operasional dan biaya pendanaan, sehingga margin laba mulai membaik. Hal ini menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan bertahap di tengah kondisi pasar yang menantang,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (24/11/2025).
Secara keseluruhan, lanjut Gani, seluruh segmen pembiayaan masih mencatatkan margin yang positif. Akan tetapi, kontribusi terbesar terhadap kuartal III/2025 berasal dari segmen pembiayaan motor (2W) dan pembiayaan multiguna.
Untuk mempertahankan profitabilitas di tengah persaingan yang kian ketat, Adira Finance terus fokus pada efisiensi operasional, penguatan kualitas portofolio, dan optimalisasi segmen dengan margin tinggi
“Inisiatif digitalisasi juga terus diperluas untuk mempercepat proses bisnis dan meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga biaya tetap terkendali agar profitabilitas dapat dipertahankan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC) mencatat pertumbuhan laba sekitar 4% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh perbaikan kinerja portofolio dan pengelolaan risiko yang prudent,” kata EVP Corporate Communication ACC, Riadi Prasodjo.
Sebab demikian, Riadi mengemukakan bahwa perusahaannya optimistis pertumbuhan ini tetap positif hingga akhir 2025 dengan tetap mencermati kondisi ekonomi, dinamika permintaan di otomotif, kualitas kredit, dan pergerakan suku bunga.
Sebagai informasi, penyaluran pembiayaan ACC hingga September 2025 mencapai Rp30,9 triliun dan didominasi oleh pembiayaan mobil baru.
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba industri perusahaan pembiayaan atau multifinance per September 2025 mencapai Rp16,14 triliun. Nilai ini tumbuh 10,54% secara bulanan atau month-to-month (MtM).
Menanggapi hal tersebut, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menegaskan pertumbuhan laba industri pembiayaan tak serta-merta menjadi indikator pemulihan konsumsi. Hal ini karena keuntungan tersebut berasal dari booking tahun lalu dan beberapa bulan awal tahun ini.
“Yang terjadi adalah bahwa industri pembiayaan lebih hati-hati mengucurkan kredit, terlihat dari tren down payment yang meningkat serta persyaratan kredit yang lebih ketat,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, perbaikan kualitas kredit itu sudah dilakukan sejak pemburukan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) pada kuartal III/2025 tahun lalu.
Selain itu, lanjutnya, dia melihat saat ini banyak multifinance yang bergeser (shifting) ke pemberian dana tunai dan modal kerja. Menurut dia, ini dilakukan lantaran sektor otomotif yang saat ini masih dirasa cukup berat.
“Maka demikian, tentu dengan jawaban di atas, faktor kenaikan laba industri lebih dominan karena perbaikan kualitas kredit dan efisiensi internal,” tegasnya.
Lebih jauh, Jodjana menilai bahwa daya beli konsumen saat ini masih tertekan. Baginya, hal ini terlihat dari beberapa indikator industri lain seperti otomotif dan properti yang juga terdampak.
Dia berharap kebijakan Menteri keuangan dalam mendorong penyaluran kredit dan menurunkan suku bunga dapat memperbaiki kinerja ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Sebab demikian pula, dia memprediksi bahwa laba industri pembiayaan masih bisa tumbuh lantaran saat ini perusahaan lebih berhati-hati dalam penyaluran pembiayaan.
“Kemudian juga diversifikasi financing portofolio, melakukan efisiensi dan juga upaya menurunkan cost of fund seiring dengan penurunan BI rate. Yang perlu diwaspadai adalah kualitas kredit dan masih perlu memantau lebih panjang karena lemahnya daya beli,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyebut pertumbuhan laba multifinance itu didukung oleh peningkatan pendapatan pembiayaan.
“Jadi [pertumbuhannya] tetap double digit. Pertumbuhan laba tersebut antara lain didukung oleh peningkatan pendapatan pembiayaan,” katanya dalam RDK OJK September 2025, Jumat (7/11/2025).
OJK melaporkan industri multifinance cetak laba Rp16,14 triliun pada September 2025. Pertumbuhan didorong peningkatan pendapatan pembiayaan. [310] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan laba industri perusahaan pembiayaan alias multifinance pada kuartal III/2025 mencapai Rp16,14 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyebut nilai itu tumbuh 10,54% bila dibandingkan dengan Agustus 2025. Dengan data ini, artinya laba industri multifinance per Agustus 2025 sebesar Rp14,60 triliun.
“Mengenai laba industri perusahaan pembiayaan, di periode September 2025 tumbuh 10,54%month-to-monthmenjadi sebesar Rp16,14 triliun. Jadi [pertumbuhannya] tetapdoubledigit,” ucapnya dalam RDK OJK September 2025, Jumat (7/11/2025).
Agusman meneruskan, pertumbuhan laba tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan pembiayaan. Akan tetapi, dia tak merincikan pembiayaan apa yang paling memengaruhinya.
Menilik statistik OJK, laba multifinance sejak Januari 2025 hingga Juni 2025 konsisten mengalami pertumbuhan. Pada Juni 2025 laba bersih setelah pajak industri menyentuh Rp11,01 triliun, tumbuh tipis 0,81 secara tahunan atauyear-on-year(YoY).
Lebih lanjut, Agusman berpendapat ramainya promo menjelang akhir tahun dapat mendorong pertumbuhan pembiayaan di industri multifinance.
“Di September 2025 ini, penyaluran piutang pembiayaan yang terafiliasi dengan agen tunggal pemegang merek [ATPM] meningkat 6,80%year-on-year, menjadi sebesar Rp228,52 triliun, jadi cukup besar,” sebutnya.
Lebih jauh, Agusman berujar secara keseluruhan penyaluran pembiayaan di sektor PVML pada September 2025 ini tumbuh 5,06% YoY menjadi Rp973,78 triliun. Dari total tersebut, industri multifinance telah menyalurkan kredit mencapai Rp507,14 triliun.
“Sektor PVML ini diperkirakan akan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun, meski dihadapkan oleh berbagai tantangan antara lain dinamika perekonomian,” tuturnya.
Sebagai informasi, kredit multifinance yang mencapai Rp507,14 triliun per September 2025 itu tumbuh sebesar 1,07% YoY, dengan didukung oleh pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 10,61%YoY.
Kemudian, untuk pembiayaan bermasalah (NPF) gross perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,47%, sedangkan NPF net sebesar 0,84%. Adapun, gearingratio-nya sebesar 2,17 kali.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56