Bisnis.com, JAKARTA — Risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak dunia menembus US$115 per barel pada 2026.
Mengutip laporan Commodity Market Outlook yang dirilis Bank Dunia pada Rabu (28/4/2026), gangguan jangka pendek terhadap produksi dan perdagangan komoditas di Timur Tengah berpotensi bertambah buruk atau berlangsung lebih lama dibandingkan asumsi dalam proyeksi dasar harga.
Bank Dunia menjelaskan, Selat Hormuz berpotensi baru akan dibuka secara berkelanjutan setelah kuartal II/2026, baik akibat konflik yang kembali memanas, tantangan logistik, maupun kombinasi keduanya.
"Setelah itu, hambatan terkait pengiriman juga dapat memperlambat pemulihan volume ekspor dari kawasan Teluk hingga akhir 2026 atau awal 2027," demikian kutipan laporan tersebut.
Eskalasi konflik dapat menyebabkan fasilitas utama minyak dan gas mengalami kerusakan tambahan, sehingga kapasitas pasokan minyak global berkurang hingga 4% dalam jangka menengah dibandingkan ekspektasi sebelum perang.
Dalam kondisi tersebut, Bank Dunia memprediksi rata-rata harga minyak acuan global Brent pada 2026 berada pada kisaran US$95 per barel hingga US$115 per barel.
Batas bawah dari proyeksi tersebut. mencerminkan skenario terjadinya penundaan signifikan dalam pemulihan volume pengiriman, namun tanpa kerusakan material tambahan pada infrastruktur minyak.
Sementara itu, batas atas akan terjadi apabila terdapat kerusakan tambahan pada infrastruktur minyak serta keterlambatan dalam mengatasi hambatan perdagangan.
Bank Dunia memaparkan, gangguan terhadap pasar minyak global yang lebih panjang dibandingkan estimasi saat ini akan menimbulkan dampak luas terhadap pasar komoditas secara keseluruhan.
Produksi dan perdagangan LNG akan terdampak negatif sehingga mendorong harga tetap tinggi dalam jangka waktu lama, dengan efek lanjutan terhadap harga acuan regional di Asia dan Eropa.
Kemudian, harga pupuk, terutama urea, diperkirakan akan jauh melampaui proyeksi dasar, seiring kenaikan biaya input gas alam dan bahan baku, serta penurunan berkepanjangan ekspor pupuk dan gas dari Timur Tengah.
"Tingginya biaya bahan bakar dan pupuk akan meningkatkan tekanan biaya produksi bagi produsen pangan," jelasnya.
Lonjakan harga minyak dan gas juga akan mendorong permintaan yang lebih besar terhadap sumber energi substitusi, sehingga harga batu bara dan komoditas bahan baku biofuel ikut naik.
Bank Dunia melanjutkan, jika skala dan durasi gangguan terus membesar, tantangan rantai pasok global dapat meningkat dengan cara yang tak terduga.
Laporan tersebut mencontohkan, penurunan pasokan sulfur dalam waktu lama dapat mengganggu aktivitas pertambangan logam secara global, mengingat asam sulfat digunakan secara luas untuk proses pelindian bijih oksida.
"Secara keseluruhan, penurunan berkepanjangan ekspor komoditas dari kawasan Teluk akan menjadi guncangan pasokan yang serius dan meluas bagi perekonomian dunia," pungkasnya.