#30 tag 24jam
BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen, Berapa Ideal Cicilan KPR dari Gaji?
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen kembali memengaruhi perhitungan masyarakat dalam membeli rumah lewat KPR. [965] url asal
#kpr #bi-rate #bunga-kredit #membeli-rumah #rasio-utang #cicilan-kpr #indepth
(Kompas.com - Money) 22/05/26 13:24
v/228891/
JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,25 persen kembali memengaruhi perhitungan masyarakat dalam membeli rumah lewat kredit pemilikan rumah (KPR).
Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membuat cicilan bulanan semakin mahal, sehingga porsi penghasilan yang dialokasikan untuk membayar rumah menjadi perhatian utama calon debitur.
Dalam kondisi bunga yang meningkat, pertanyaan mengenai berapa persen gaji yang ideal untuk cicilan KPR menjadi semakin relevan.
SHUTTERSTOCK/BELOZU Ilustrasi penjualan propertiSebab, selain mempertimbangkan kemampuan membayar cicilan pokok dan bunga, masyarakat juga harus memperhitungkan kewajiban utang lain agar kondisi keuangan tetap sehat.
Sejumlah pedoman keuangan menyebutkan, batas aman cicilan rumah berkisar 28 persen dari pendapatan bulanan kotor. Aturan ini dikenal sebagai 28/36 rule atau aturan 28/36.
Dikutip dari Investopedia, aturan tersebut menyarankan agar pengeluaran untuk perumahan termasuk cicilan KPR, tidak melebihi 28 persen dari pendapatan bulanan kotor, sementara total pembayaran utang secara keseluruhan tidak melebihi 36 persen dari pendapatan.
Artinya, jika seseorang memiliki gaji Rp 10 juta per bulan sebelum dipotong pajak, maka batas ideal cicilan rumah berada di kisaran Rp 2,8 juta per bulan.
Sementara total seluruh kewajiban utang, termasuk cicilan kendaraan, kartu kredit, hingga pinjaman lain, sebaiknya tidak lebih dari Rp 3,6 juta per bulan.
UNSPLASH/TIERRA MALLORCA Ilustrasi KPRAturan 28 persen jadi acuan
Investopedia menjelaskan, banyak pemberi pinjaman menggunakan aturan 28/36 untuk menilai kelayakan kredit calon debitur.
Dalam praktiknya, bank akan melihat rasio utang terhadap pendapatan atau debt-to-income ratio (DTI) sebelum menyetujui pinjaman KPR.
DTI sendiri merupakan perbandingan antara total kewajiban pembayaran utang bulanan dengan pendapatan bulanan kotor. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar pula risiko gagal bayar menurut penilaian kreditur.
Investopedia mencatat, sebagian besar pemberi pinjaman menyukai rasio DTI maksimal di kisaran 35 persen hingga 36 persen. Namun dalam beberapa kondisi tertentu, pinjaman masih bisa disetujui meski DTI mencapai 45 persen.
Dalam perhitungan KPR, pengeluaran perumahan tidak hanya mencakup cicilan pokok dan bunga pinjaman. Biaya lain seperti pajak, asuransi rumah, hingga iuran lingkungan juga kerap dimasukkan dalam komponen pengeluaran hunian.
Karena itu, kenaikan suku bunga acuan seperti BI Rate menjadi faktor penting yang memengaruhi besarnya cicilan bulanan.
BI Rate naik, cicilan KPR berpotensi membesar
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen membuat biaya dana (cost of fund) perbankan cenderung meningkat. Dalam situasi tersebut, bunga kredit, termasuk KPR, juga berpotensi ikut naik, terutama untuk kredit dengan bunga mengambang atau floating rate.
Kondisi ini dapat mempersempit ruang pengeluaran rumah tangga karena sebagian pendapatan harus dialihkan untuk membayar cicilan yang lebih besar.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam riset The Mortgage Cash-Flow Channel: How Rising Interest Rates Impact Household Consumption menunjukkan, kenaikan suku bunga berdampak langsung terhadap kemampuan konsumsi rumah tangga pemilik KPR.
Penelitian tersebut menemukan, rumah tangga dengan proporsi pembayaran cicilan rumah lebih tinggi terhadap pengeluaran total mengalami penurunan konsumsi yang lebih tajam saat suku bunga meningkat.
iStock Ilustrasi KPR, KPR Subsidi.Hal ini membuat prinsip kehati-hatian dalam mengambil KPR menjadi semakin penting ketika bunga acuan bergerak naik.
Jangan hanya mengacu pada batas maksimal pinjaman
Calon pembeli rumah sebaiknya tidak hanya berpatokan pada jumlah pinjaman maksimal yang disetujui bank.
Kemampuan membayar dalam jangka panjang juga harus menjadi pertimbangan utama.
Salah satu kesalahan umum pembeli rumah pertama adalah hanya fokus pada nominal pinjaman yang dapat diperoleh tanpa menghitung biaya tambahan lain seperti asuransi, utilitas, hingga biaya perawatan rumah.
Apabila terlalu banyak pendapatan terserap untuk kepemilikan rumah, maka dana tunai untuk kebutuhan lain menjadi terbatas.
Situasi tersebut dinilai berisiko terutama ketika terjadi kenaikan bunga kredit atau pengeluaran mendadak lainnya.
Pendapatan bersih dan stabilitas keuangan juga penting
Selain aturan 28 persen dari pendapatan kotor, beberapa panduan keuangan juga mempertimbangkan penghasilan bersih setelah pajak.
Bankrate menyebutkan, sebagian ahli merekomendasikan pengeluaran untuk KPR maksimal sekitar 25 persen dari pendapatan bulanan bersih atau take home pay.
Pendekatan ini dianggap lebih konservatif karena memperhitungkan kondisi riil pendapatan yang diterima pekerja setiap bulan.
Dalam praktiknya, besaran ideal cicilan rumah juga dipengaruhi sejumlah faktor lain seperti kestabilan pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, dana darurat, hingga kewajiban finansial lainnya.
freepik.com Ilustrasi KPR.Kemampuan membeli rumah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pinjaman yang dapat diperoleh, tetapi juga oleh preferensi keuangan dan prioritas masing-masing individu.
Suku bunga dan harga rumah jadi faktor penentu
Kenaikan suku bunga membuat daya beli rumah ikut tertekan karena cicilan bulanan meningkat meski harga rumah tetap sama.
Kiplinger dalam ulasannya mengenai aturan 28 persen menyebutkan bahwa, harga rumah dan kenaikan bunga KPR membuat semakin banyak rumah tangga kesulitan menjaga pengeluaran hunian tetap di bawah batas ideal.
Dalam kondisi tersebut, calon pembeli rumah biasanya perlu menyesuaikan beberapa aspek, mulai dari memilih rumah dengan harga lebih rendah, memperbesar uang muka, hingga memperpanjang tenor pinjaman agar cicilan lebih ringan.
Down payment (DP) atau uang muka yang lebih besar dapat membantu menurunkan jumlah pinjaman sekaligus mengurangi bunga yang dibayar sepanjang masa kredit.
Selain itu, rasio loan-to-value (LTV) yang lebih rendah juga bisa membantu debitur memperoleh bunga kredit yang lebih baik.
Rasio utang tetap jadi perhatian utama
Meski terdapat berbagai variasi dalam penilaian kredit, konsep dasar DTI tetap menjadi salah satu indikator utama dalam penyaluran KPR.
Front-end ratio atau rasio pengeluaran hunian idealnya tidak melebihi 28 persen, sedangkan back-end ratio atau total utang sebaiknya berada di bawah 36 persen.
Jika rasio utang terlalu tinggi, debitur berpotensi memperoleh bunga kredit yang kurang kompetitif atau bahkan mengalami penolakan pengajuan pinjaman.
Karena itu, kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen membuat masyarakat perlu lebih cermat menghitung kemampuan finansial sebelum mengambil KPR.
Terlebih, pembayaran cicilan rumah merupakan komitmen jangka panjang yang dapat berlangsung hingga belasan atau bahkan puluhan tahun.
Dalam situasi suku bunga tinggi, menjaga agar cicilan tetap berada dalam batas aman menjadi salah satu langkah penting untuk menghindari tekanan keuangan di masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Deloitte: Gen Z dan Milenial Menunda Masa Depan karena Tekanan Keuangan
Di tengah biaya hidup yang terus naik, harga rumah yang melambung, dan tekanan ekonomi, banyak anak muda memilih nanti dulu. [1,272] url asal
#generasi-muda #indepth #biaya-hidup #milenial #membeli-rumah #gen-z
(Kompas.com - Money) 17/05/26 16:35
v/222969/
JAKARTA, KOMPAS.com - Punya rumah, menikah, membangun keluarga, hingga melanjutkan pendidikan dulu kerap dianggap sebagai pencapaian yang “wajib” diraih saat memasuki usia produktif.
Namun bagi banyak generasi muda saat ini, target-target tersebut mulai terasa semakin jauh.
Di tengah biaya hidup yang terus naik, harga rumah yang melambung, dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan, banyak anak muda memilih berkata: nanti dulu.
FREEPIK Ilustrasi gen Z dan milenialLaporan 2026 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte menunjukkan, tekanan finansial kini menjadi faktor utama yang membentuk cara generasi muda memandang pekerjaan, stabilitas, dan masa depan mereka.
Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan, biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar selama lima tahun berturut-turut bagi kedua generasi tersebut.
Kekhawatiran soal biaya hidup bahkan melampaui isu pengangguran, keamanan, politik, hingga lingkungan.
Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai perhatian utama mereka saat ini.
Deloitte menyebut kondisi ini melahirkan fenomena “maybe later generation” atau generasi “nanti dulu”, yakni kelompok yang tetap ambisius dan aktif bekerja, tetapi harus menunda banyak keputusan besar dalam hidup karena kondisi finansial yang belum memungkinkan.
Lebih dari separuh responden mengaku menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, membangun bisnis, hingga melanjutkan pendidikan.
Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup akibat kondisi keuangan mereka.
SHUTTERSTOCK/DENYS KURBATOV Ilustrasi biaya hidup, menghitung biaya hidup.“Biaya hidup adalah kekhawatiran terbesar saya karena harga-harga terus naik sementara gaji tidak, menyebabkan kerusakan ekonomi, dan hilangnya kemampuan untuk membeli apa yang kita inginkan,” kata Khalil, responden milenial dalam survei tersebut, dikutip dari laporan Deloitte, Minggu (17/5/2026).
Ketika rumah jadi semakin sulit digapai
Kekhawatiran itu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli barang konsumsi, tetapi juga kebutuhan dasar seperti tempat tinggal.
Mayoritas responden mengaku harga dan keterjangkauan rumah memengaruhi keputusan karier mereka, termasuk soal lokasi bekerja.
Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan ketersediaan dan harga hunian berdampak langsung pada pilihan kerja mereka.
Sementara itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial mengaku merasa tidak mampu membeli rumah.
“Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun yang lalu sama sekali tidak sama,” ujar Rukaya, responden Gen Z.
“Pendapatan kami memang meningkat, tetapi gagasan untuk bisa membeli rumah rasanya tidak mungkin dengan suku bunga dan hal-hal semacam itu. Saat ini kami akan menghabiskan jauh lebih banyak uang untuk rumah yang lebih kecil,” lanjut dia.
Hal serupa disampaikan Mel, responden milenial yang menilai harga rumah kini terasa semakin tidak terjangkau, bahkan untuk kebutuhan dasar.
“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat, terutama untuk mendapatkan rumah di lingkungan yang bagus dan aman hampir tidak terjangkau,” ungkap dia.
Mel juga menyoroti ketimpangan antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan pekerja.
Dok. Shutterstock Ilustrasi membeli rumah.“Para pemberi kerja tidak membayar gaji yang mendekati biaya hidup. Ketika saya melihat lowongan pekerjaan yang diiklankan secara online di kota saya, gaji yang ditawarkan tidak sesuai dengan biaya hidup di sini,” katanya.
Menurut dia, banyak orang kini kesulitan menyisihkan uang untuk menabung karena sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan bahan makanan.
“Sangat sulit bagi orang-orang untuk menabung karena mereka menghabiskan semua uang mereka untuk perumahan,” ucap Mel.
Gaji habis untuk bertahan hidup
Tekanan finansial itu juga tercermin dari kondisi keseharian responden. Survei Deloitte menemukan, 47 persen Gen Z dan milenial hidup dari gaji ke gaji atau paycheck to paycheck.
Sebanyak 34 persen responden dari kedua generasi juga mengaku masih kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan hidup bulanan mereka.
Meski demikian, ada sedikit tanda perbaikan dibanding tahun sebelumnya.
Deloitte mencatat jumlah responden yang hidup dari gaji ke gaji turun dibanding tahun lalu yang mencapai 52 persen.
Optimisme terhadap kondisi keuangan pribadi juga masih terlihat, terutama di kalangan Gen Z. Sebanyak 53 persen Gen Z dan 45 persen milenial memperkirakan kondisi finansial mereka akan membaik dalam 12 bulan ke depan.
“Biaya hidup merupakan kekhawatiran yang signifikan karena secara langsung memengaruhi kemampuan saya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti perumahan, makanan, dan transportasi,” ujar Tymon, responden Gen Z.
“Ketika biaya meningkat lebih cepat daripada pendapatan, hal itu akan membebani anggaran kita, mengurangi kemampuan kita untuk menabung, dan membatasi pengeluaran diskresioner,” lanjut dia.
Ambisi karier yang mulai berubah
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, generasi muda juga mulai mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan karier.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi karier, kesuksesan karier.Laporan Deloitte menunjukkan, banyak Gen Z dan milenial kini lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat atau jabatan tinggi.
Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengatakan mereka lebih memilih steady progress dalam karier.
Sementara itu, hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial yang mengejar pertumbuhan cepat berupa promosi, kenaikan jabatan, atau lonjakan gaji.
Deloitte menilai perubahan ini berkaitan erat dengan keinginan generasi muda untuk menjaga keseimbangan hidup dan menghindari burnout.
Ketika ditanya mengenai alasan enggan mengejar posisi kepemimpinan, alasan paling banyak muncul adalah stres dan burnout, tanggung jawab yang terlalu besar, serta kekhawatiran terhadap work-lifebalance.
Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka saat ini.
“Saya ingin merasa puas dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak selalu membutuhkan semua promosi agar pekerjaan saya membuat saya merasa puas,” ujar Nita, responden Gen Z.
Ia mengatakan ingin pekerjaannya memberi dampak positif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi.
“Saya ingin mengubah dunia menjadi lebih baik melalui pekerjaan, tetapi juga bisa pulang dan menjalani hidup saya, bersantai, dan memiliki pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” kata dia.
Pandangan serupa juga diungkapkan Zeina, responden Gen Z lainnya.
“Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.” ujar dia.
Bertahan dengan terus belajar
iStock Ilustrasi Gen ZDi tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja yang cepat, banyak generasi muda juga memilih memperkuat kemampuan diri sebagai strategi bertahan.
Deloitte menyebut kemampuan beradaptasi kini menjadi modal penting untuk tetap relevan dan bertahan di dunia kerja.
Baik Gen Z maupun milenial kini aktif mengembangkan keterampilan baru, termasuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga literasi AI.
“Saya selalu berusaha untuk berkembang, mempelajari hal-hal baru, dan menjadi lebih baik dalam bidang pekerjaan saya,” terang Dmitriy, responden milenial.
Ella, responden milenial lainnya, mengatakan dirinya tidak harus terus mengejar posisi puncak perusahaan untuk merasa berkembang.
“Saya hanya ingin terus belajar dan berkembang, jadi saya tidak harus selalu meniti karier hingga menjadi CEO atau semacamnya, tetapi saya ingin mempelajari keterampilan baru dan menambah kemampuan saya,” kata dia.
Survei 2026 Gen Z and Millennial Survey dilakukan Deloitte terhadap lebih dari 22.500 responden dari kalangan Gen Z dan milenial di 44 negara.
Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai mereka yang lahir pada 1995 hingga 2007, sedangkan milenial merupakan kelompok kelahiran 1983 hingga 1994.
Deloitte menyebut survei ini merupakan edisi ke-15 dari riset tahunan mereka yang menyoroti pandangan generasi muda terhadap dunia kerja, kondisi ekonomi, kesehatan mental, hingga perubahan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selain menggunakan survei kuantitatif terhadap responden, laporan ini juga dilengkapi wawancara kualitatif dengan para pemimpin bisnis di berbagai negara untuk menangkap perspektif yang lebih luas mengenai perubahan dunia kerja.
Dalam laporan tersebut, Deloitte menyoroti bagaimana Gen Z dan milenial tumbuh di tengah berbagai disrupsi global, mulai dari tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, keterbatasan akses perumahan, ketidakstabilan geopolitik, hingga perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Kondisi itu dinilai memengaruhi cara kedua generasi tersebut memandang karier, stabilitas finansial, serta keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
KPR Tumbuh Terbatas saat Penjualan Rumah Turun Tajam
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tumpuan utama masyarakat dalam membeli rumah di pasar primer. [1,374] url asal
#kpr #harga-rumah #kpr-subsidi #membeli-rumah #penjualan-rumah #indepth
(Kompas.com - Money) 11/05/26 12:12
v/217619/
JAKARTA, KOMPAS.com - Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tumpuan utama masyarakat dalam membeli rumah di pasar primer.
Di tengah perlambatan pertumbuhan harga properti dan penurunan penjualan rumah pada awal 2026, mayoritas konsumen tetap mengandalkan pembiayaan perbankan untuk memiliki hunian.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) Triwulan I 2026 mencatat, pangsa pembelian rumah primer melalui KPR mencapai 69,87 persen dari total skema pembelian.
freepik.com Ilustrasi KPR.Sementara pembelian secara tunai bertahap tercatat sebesar 19,61 persen dan tunai sebesar 10,53 persen.
Dominasi KPR tersebut terjadi ketika sektor properti residensial masih menghadapi tekanan.
BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal I 2026 tumbuh sebesar 0,62 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 sebesar 0,83 persen (yoy).
“Dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembelian Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 69,87 persen dari total skema pembelian,” tulis BI dalam laporan SHPR Triwulan I 2026.
Perlambatan pertumbuhan harga rumah terjadi di seluruh tipe properti. Harga rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen (yoy), melambat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 1,12 persen (yoy).
Rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen (yoy) dari sebelumnya 0,72 persen (yoy), sementara rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen (yoy) dari 0,76 persen (yoy).
Dibuat oleh AI Ilustrasi rumah menengahDi sejumlah daerah, harga rumah bahkan mengalami kontraksi. Surabaya mencatat penurunan harga sebesar 0,27 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi 0,04 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.
Sebaliknya, Padang dan Balikpapan justru mencatat peningkatan pertumbuhan harga masing-masing menjadi 1,21 persen (yoy) dan 1,44 persen (yoy).
Penjualan rumah turun tajam
Di tengah dominasi KPR, pasar properti residensial masih dibayangi lemahnya penjualan rumah.
BI mencatat, penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal I 2026 terkontraksi 25,67 persen (yoy), berbalik dari pertumbuhan 7,83 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.
Penurunan terdalam terjadi pada rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59 persen (yoy) setelah sebelumnya tumbuh tinggi 17,32 persen (yoy).
Sementara rumah tipe besar masih terkontraksi 8,03 persen (yoy), meski membaik dibandingkan kontraksi 10,95 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. Adapun rumah tipe menengah justru tumbuh 8,28 persen (yoy) setelah sebelumnya terkontraksi 4,84 persen (yoy).
Secara kuartalan, penjualan rumah juga turun 7,69 persen quarter to quarter (qtq) setelah pada kuartal IV 2025 tumbuh 2,01 persen (qtq). Penurunan paling dalam terjadi pada rumah tipe besar yang terkontraksi 20,38 persen (qtq).
Penjualan rumah tipe menengah turun 10,72 persen (qtq), sementara rumah tipe kecil terkontraksi 14,68 persen (qtq).
Dalam surveinya, BI menyebut kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor utama penghambat penjualan properti dengan porsi 20,97 persen.
Faktor lain meliputi masalah perizinan dan birokrasi sebesar 18,15 persen, suku bunga KPR sebesar 16,47 persen, proporsi uang muka atau down payment (DP) yang tinggi sebesar 12,16 persen, serta perpajakan sebesar 11,28 persen.
iStock Ilustrasi KPR, KPR Subsidi.“Penjualan properti residensial primer masih menghadapi tantangan. Berdasarkan hasil survei, tantangan utama pengembangan dan penjualan properti residensial pada pasar primer meliputi kenaikan harga bahan bangunan, masalah perizinan/birokrasi, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR, dan perpajakan,” tulis BI.
Pertumbuhan KPR masih single digit
Perlambatan di sektor properti turut tercermin pada pertumbuhan penyaluran KPR perbankan yang masih terbatas pada kuartal I-2026.
Dikutip dari Kontan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat penyaluran KPR tumbuh 5,25 persen yoy menjadi Rp 142,4 triliun pada kuartal I-2026, dari Rp 135,3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat penyaluran KPR sebesar Rp 69,5 triliun atau naik 5,78 persen (yoy).
Sementara PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebagai bank penyalur KPR terbesar di Indonesia hanya membukukan pertumbuhan 6,84 persen (yoy) menjadi Rp 306,12 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan KPR sebesar 9,32 persen (yoy) menjadi Rp 73,9 triliun. Adapun PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi satu-satunya bank besar yang mencatat pertumbuhan double digit, yakni 11,06 persen (yoy) menjadi Rp 67,3 triliun pada kuartal I-2026.
Data BI juga menunjukkan pertumbuhan penyaluran KPR masih terbatas.
Hingga Maret 2026, total penyaluran KPR tumbuh 4,5 persen menjadi Rp 842,7 triliun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 5 persen.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kondisi tersebut dipengaruhi daya beli masyarakat yang belum meningkat signifikan.
www.shutterstock.com Ilustrasi KPR“Kalau kita lihat, income masyarakat belum naik signifikan. Jadi wajar kalau belum ada lonjakan besar pada penyaluran kredit, khususnya di sektor properti,” ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (3/5/2026).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5 persen hingga 5,4 persen juga belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi kredit properti secara agresif. Selain itu, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi turut menahan minat masyarakat mengambil KPR.
Meski demikian, Myrdal menilai kinerja kredit properti tidak sepenuhnya lemah karena beberapa bank masih mampu mencatat pertumbuhan di atas 10 persen.
“Dengan kondisi saat ini, kredit properti masih bisa tumbuh sekitar 8 persen, meskipun tetap ada tantangan dari sisi global,” jelasnya.
BTN sebut faktor musiman pengaruhi realisasi KPR
BTN mengakui pertumbuhan KPR subsidi maupun non-subsidi pada kuartal I-2026 cenderung moderat.
KPR non-subsidi BTN tumbuh sekitar 5,4 persen (yoy) menjadi Rp 112,56 triliun dari sebelumnya Rp 106,81 triliun. Sementara KPR subsidi naik 7,7 persen (yoy) menjadi Rp 193,55 triliun dari Rp 179,70 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu mengatakan perlambatan tersebut lebih dipengaruhi faktor musiman dan kondisi eksternal, bukan karena lemahnya permintaan masyarakat.
Ia menjelaskan, musim hujan yang datang lebih awal pada akhir 2025 hingga awal 2026 menghambat penyelesaian fisik proyek perumahan. Dalam skema KPR, pencairan kredit baru dapat dilakukan setelah rumah selesai dibangun.
Selain itu, momentum Ramadan dan Lebaran turut memperlambat progres konstruksi karena banyak tenaga kerja yang kembali ke kampung halaman.
Akibatnya, terdapat puluhan ribu unit rumah yang sebenarnya sudah mendapatkan persetujuan kredit, tetapi belum bisa direalisasikan karena pembangunan belum rampung.
Dok. Shutterstock Ilustrasi membeli rumah.“Ini bukan menghambat, tapi menunda realisasi kredit karena fisik rumah belum selesai,” kata Nixon.
Perbankan jaga kualitas kredit
Di tengah perlambatan penyaluran KPR, perbankan tetap menjaga kualitas kredit perumahan. Myrdal menyebut rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) KPR masih berada di kisaran 3,1 persen.
Namun, ia mengingatkan perbankan tetap perlu memperkuat manajemen risiko, termasuk melalui proses screening kredit yang ketat dan penguatan aktivitas collection terhadap debitur yang mengalami keterlambatan pembayaran.
“Bank harus tetap selektif dan disiplin dalam monitoring portofolio, termasuk intensif dalam melakukan collection untuk menjaga kualitas aset,” ujarnya.
BTN menyebut rasio NPL sektor perumahan masih terjaga di bawah 3 persen. Bahkan untuk KPR subsidi, NPL tercatat di bawah 2 persen.
Menurut Nixon, risiko kredit di segmen perumahan relatif rendah karena mayoritas debitur merupakan pembeli rumah pertama yang cenderung menjaga kewajiban pembayaran.
“Aset NPL perumahan juga lebih mudah direcycle dibandingkan sektor lain karena masih ada pasar yang menyerap,” imbuhnya.
Sementara itu, BCA menyebut kualitas portofolio KPR perseroan tetap terjaga dengan baik. Rasio NPL KPR berada pada level terkendali, sejalan dengan NPL gross perseroan sebesar 1,8 persen pada kuartal I-2026.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan tren penyaluran kredit, termasuk KPR, sangat dipengaruhi kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat.
Salah satu strategi yang dilakukan perseroan untuk mendorong permintaan ialah melalui ajang BCA Expoversary 2026 yang diperpanjang hingga 30 April 2026 secara online.
Dalam program tersebut, BCA menawarkan bunga spesial KPR sebesar 1,69 persen efektif per tahun fixed satu tahun, disertai diskon provisi 50 persen dan potongan premi asuransi jiwa sebesar 5 persen.
“Kami berharap penyelenggaraan BCA Expoversary 2026 dapat meningkatkan volume aplikasi baru dari segmen KPR,” ujar Hera.
Selain itu, perbankan juga dinilai perlu memperkuat sinergi dengan program pemerintah seperti program 3 juta rumah dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), memanfaatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), hingga memperkuat kerja sama dengan pengembang dan memperluas digitalisasi proses pengajuan KPR.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangWajib Tahu! 4 Hal Penting soal Kelistrikan saat Beli Rumah Bekas
Saat membeli rumah bekas, memerika sistem kelistrikan menjadi salah satu hal penting yang tak boleh diabaikan. [713] url asal
#membeli-rumah #rumah-bekas #tips-membeli-rumah #sistem-kelistrikan-rumah-bekas #instalasi-kelistrikan #pln
(Bisnis.Com - Ekonomi) 24/02/26 14:05
v/145670/
Bisnis.com, JAKARTA — Membeli rumahbekas bisa menjadi pilihan alternatif bagi sebagian orang. Untuk mendapatkan hunian impian, pelanggan perlu memperhatikan aspek seperti kondisi fisik bangunan, akses menuju lokasi, lingkungan sekitar, hingga yang tak kalah penting adalah sistem kelistrikan.
Apalagi, listrik merupakan sumber kehidupan dari sebuah rumah. Oleh karena itu, listrik akan memengaruhi kenyamanan dan keamanan saat tinggal di hunian tersebut.
PT PLN (Persero) pun membagikan tips membeli rumah bekas, terutama ihwal kelistrikannya. Maklum, listrik adalah kebutuhan primer bagi kehidupan sehari-hari sehingga kondisi kelistrikan wajib diperhatikan agar terhindar dari masalah di kemudian hari.
Di samping konstruksi bangunan dan keabsahan kepemilikan rumah, listrik merupakan salah satu komponen utama yang perlu diperhatikan ketika kita sedang survei ingin membeli rumah.
Terdapat empat hal berkaitan dengan kelistrikan yang harus diperhatikan sebelum membeli rumah. Berikut daftarnya:
1. Instalasi Kelistrikan
PLN mengingatkan agar calon pembeli wajib memperhatikan instalasi kelistrikan di hunian yang akan dibeli tersebut tidak bermasalah dan memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Hal ini penting untuk menjaga keamanan rumah dari bahaya atau risiko dari listrik, seperti hubungan arus pendek yang berpotensi menyebabkan kebakaran.
2. Cek Tagihan Rekening
Calon pembeli juga perlu mengecek tagihan listrik di rumah yang akan dibelinya untuk menghindari tunggakan pembayaran. Saat ini, pelanggan dapat mengecek tagihan listrik hanya dengan mengakses aplikasi PLN Mobile.
Langkah ini diperlukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terkait dalam pemenuhan kewajiban pelanggan.
3. Pastikan kWh Meter Normal
Calon pembeli juga wajib mengecek instalasi kWh meter berfungsi dengan normal dan segelnya terpasang dengan baik.
Menurut PLN, cara ini untuk mengetahui indikasi pemilik atau penghuni rumah sebelumnya melakukan pelanggaran dalam menggunakan listrik atau tidak.
4. Pastikan Listrik Resmi
Calon pembeli rumah bekas perlu memastikan bahwa listrik yang mengalir ke rumah tersebut adalah listrik yang resmi terdaftar sebagai pelanggan PLN.
Dengan begitu, calon pembeli juga bisa menghindari pelanggaran penggunaan listrik jika telah resmi menjadi penghuninya.
Selanjutnya, jika calon pembeli resmi membeli hunian tersebut dan terjadi pengalihan kepemilikan rumah, PLN mengimbau pembeli segera memberitahukan kepada PLN untuk alih kepemilikan dan mengubah nama langganan.
Mengapa Penggunaan Listrik yang Aman Itu Penting
Lebih lanjut, jika Anda sudah memiliki rumah, maka penggunaan listrik juga perlu diperhatikan. Sebab, korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran rumah di Indonesia.
PLN mencatat banyak kasus muncul karena penggunaan listrik yang berlebihan, kabel rusak, atau stop kontak longgar.
Kesalahan sederhana dalam instalasi atau pemakaian bisa berakibat fatal. Selain kerugian material, bahaya listrik juga mengancam keselamatan penghuni rumah.
Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk memahami prinsip dasar pemakaian listrik yang benar dan aman. Dengan pengelolaan yang tepat, Anda bisa menikmati manfaat listrik tanpa harus khawatir dengan risikonya.
Panduan Penggunaan Listrik Aman di Tiap Ruangan
Setiap ruangan memiliki karakteristik penggunaan listrik yang berbeda. Berikut cara aman mengelola listrik di rumah:
1. Dapur
Dapur sering menjadi pusat penggunaan listrik karena banyak peralatan berdaya tinggi, seperti microwave, kulkas, oven, dan lain-lain. Berikut ini panduan untuk mencegah hal tak diinginkan terjadi di dapur Anda:
- Pisahkan jalur listrik untuk oven, kulkas, dan rice cooker.
- Hindari kabel atau stop kontak berdekatan dengan air.
- Jangan tumpuk kabel di bawah meja karena mudah lembab dan panas.
2. Kamar Tidur
Di kamar tidur memang umumnya tidak banyak terdapat peralatan elektronik berdaya tinggi. Namun, tak jarang kamar tidur merangkap ruang kerja atau ruang belajar sehingga terdapat banyak peralatan elektronik di dalamnya seperti AC, komputer, televisi, video gim, dan lain-lain. Untuk menjaga agar kamar tetap aman, ikuti petunjuk ini:
- Gunakan stop kontak berkualitas dan hindari terminal bertingkat.
- Cabut charger setelah dipakai agar tidak terus mengalirkan listrik.
- Gunakan lampu LED untuk efisiensi dan keamanan.
3. Ruang Tamu
Ruang tamu adalah salah satu area yang paling sibuk dan luas. Di dalamnya terdapat televisi, peralatan hiburan, dan barang lainnya, sehingga terkadang kurang mendapat perhatian dari penghuninya. Tips untuk menjaga keamanan di area ini antara lain:
- Atur kabel agar tidak bersilangan atau tertutup karpet.
- Jauhkan alat elektronik dari tirai atau benda mudah terbakar.
- Bersihkan area belakang TV dan stop kontak dari debu agar tidak menimbulkan panas.
4. Kamar Mandi
Kamar mandi menjadi salah satu area yang rawan untuk pemasangan saluran listrik. Namun, hal ini tidak dapat dihindari karena Anda perlu juga untuk memasang hair dryer, pemanas air, dan sebagainya. Ruang ini memerlukan perhatian khusus karena air dan listrik adalah kombinasi berbahaya. Berikut ini tipsnya:
- Jangan gunakan alat listrik langsung di dekat air.
- Pasang pemanas air dengan sistem pengaman ELCB.
- Gunakan lampu dan saklar tahan lembab.
Warren Buffett Sarankan Anak Muda Beli Rumah Ketimbang Saham, Kenapa?
Warren Buffett memberikan saran bagi investor muda tentang membeli rumah dan investasi properti. Ia menekankan pentingnya kestabilan finansial jangka panjang. [469] url asal
#warren-buffett #investasi-properti #membeli-rumah #saham-vs-rumah #hipotek-30-tahun #stabilitas-finansial #pasar-properti #investor-muda #renovasi-rumah #inflasi-dan-properti
(CNBC Indonesia - Market) 01/11/25 11:27
v/23798/
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagai salah satu orang tersukses di dunia, Warren Buffett kerap menjadi rujukan oleh para investor muda.
Dalam sebuah wawancara tahun 2012 bersama Becky Quick dari CNBC, Buffett membagikan pandangannya untuk para investor muda yang bingung memilih antara membeli saham atau rumah pertama.
Menurut Buffett, jika seseorang berencana untuk menetap di satu tempat selama lima hingga sepuluh tahun, maka membeli rumah bisa menjadi keputusan finansial yang bijak. Ia menilai, memiliki rumah dengan kredit hipotek 30 tahun merupakan langkah yang menguntungkan dalam jangka panjang.
Saran tersebut menunjukkan bagaimana Buffett tidak hanya melihat investasi dari sisi keuntungan finansial semata, tetapi juga dari kestabilan hidup dan nilai jangka panjang yang ditawarkan aset properti.
Buffett bahkan memberikan saran tambahan: jika Anda memiliki keterampilan renovasi, pertimbangkan untuk membeli beberapa rumah, memperolehnya dengan harga murah, lalu menyewakannya. Ide ini cocok bagi mereka yang dapat menangani renovasi ringan dan mengelola penyewa.
Mengutip Benziga.com, pada 2024, kondisi pasar properti telah berubah dengan harga melonjak dan suku bunga hipotek yang tidak serendah dulu. Apakah nasihat Buffett masih relevan? Jawabannya adalah ya, meski dengan beberapa penyesuaian tambahan.
Meski harga tinggi, prinsip dasar yang ditekankan Buffett tetap membuat kepemilikan rumah menarik. Kepemilikan rumah dapat memberikan stabilitas finansial dan perlindungan dari inflasi, sebab nilai properti biasanya naik seiring waktu.
Bagian favorit Buffett dari kepemilikan rumah adalah hipotek 30 tahun. Berbeda dengan sewa yang bisa naik setiap tahun, hipotek dengan suku bunga tetap memberi kepastian pembayaran dalam jangka panjang.
Meski tingkat suku bunga hipotek saat ini lebih tinggi daripada satu dekade lalu, mengunci pembayaran tetap masih bisa menjadi langkah yang baik. Terutama jika inflasi terus meningkat, langkah ini dapat menawarkan kestabilan finansial jangka panjang.
Namun, nasihat Buffett mengenai properti sewaan saat ini lebih sulit diterapkan. Strateginya membeli properti tertekan, memperbaikinya, dan menyewakannya mungkin lebih mudah dilakukan ketika harga properti masih rendah.
Meski harga murah sulit ditemukan, masih ada peluang di kawasan yang berkembang atau pemukiman yang direvitalisasi. Kawasan ini dapat memberikan nilai bagus, terutama bagi mereka yang siap melakukan renovasi.
Nasihat Buffett bagi investor muda saat ini adalah berhati-hati sebelum melangkah. Dengan harga dan suku bunga tinggi, pertimbangkan dampak finansialnya dengan cermat serta biaya perawatan properti.
Bagi investor muda yang ingin membeli rumah pertama atau mencoba investasi properti sewaan, real estate tetap menjadi pilihan investasi stabil. Namun, jangan berharap hasil instan - ini semua tentang bermain dalam jangka panjang.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56