Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas manufaktur China kembali mencatatkan ekspansi untuk pertama kalinya tahun ini meskipun harga energi meningkat dan konflik di Timur Tengah mengganggu rantai pasok global.
Data Biro Statistik Nasional China (NBS) pada Selasa (31/3/2026) menunjukkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur China naik ke level 50,4 pada Maret, dari 49 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut berada di atas ambang 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
NBS menyatakan angka tersebut juga sedikit melampaui perkiraan median ekonom yang disurvei oleh Bloomberg sebesar 50,1.
Selain sektor manufaktur, aktivitas nonmanufaktur yang mencakup konstruksi dan jasa juga tumbuh tak terduga pada bulan ini. Indeks sektor tersebut naik menjadi 50,1 dari 49,5 pada Februari.
Data ini merupakan indikator resmi pertama yang mencerminkan dampak konflik Timur Tengah yang meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Ahli Statistik NBS, Huo Lihui, mengatakan konflik geopolitik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan tajam harga bahan baku seperti minyak dan produk kimia, sekaligus meningkatkan biaya logistik.
“Pada bulan ini, proporsi perusahaan yang melaporkan tingginya biaya bahan baku dan biaya logistik meningkat dibandingkan bulan sebelumnya,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Bloomberg.
Sektor manufaktur China kini keluar dari fase kontraksi selama dua bulan terakhir, didorong oleh peningkatan belanja pemerintah sejak awal tahun serta ekspor yang tetap kuat berkat permintaan global terkait teknologi kecerdasan buatan.
Meski demikian, dampak konflik tersebut mulai menyebar ke perekonomian global. Sejumlah indeks PMI global yang dihimpun oleh S&P Global pada Maret menunjukkan penurunan aktivitas di berbagai negara.
China juga masih rentan terhadap guncangan eksternal jika pertumbuhan global melambat, terutama karena perang di Iran mendorong lonjakan harga energi dunia. Banyak pabrik di China yang bergantung pada minyak mentah atau produk turunannya sebagai bahan baku kini menghadapi lonjakan biaya produksi.
Pada Maret, pabrik-pabrik China mencatat kenaikan biaya bahan baku dan harga output tercepat dalam sekitar empat tahun terakhir, seiring lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan energi global.
Selain minyak, kenaikan harga logam nonferrous seperti tembaga dan aluminium dalam beberapa bulan terakhir juga meningkatkan biaya produksi perusahaan. Namun, kenaikan harga produk dari pabrik masih lebih lambat dibandingkan lonjakan biaya, yang mengindikasikan sebagian produsen menanggung sendiri tekanan biaya tersebut.
Data PMI resmi China ini dirilis sehari sebelum survei manufaktur swasta dipublikasikan. Survei tersebut biasanya lebih sensitif terhadap aktivitas perdagangan karena fokus pada perusahaan kecil dan berorientasi ekspor.
Cadangan minyak strategis China yang besar serta percepatan pengembangan energi terbarukan sejauh ini membantu meredam dampak konflik terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Namun, risiko lain juga muncul. China dan Amerika Serikat mulai melakukan penyelidikan perdagangan satu sama lain menjelang rencana kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada pertengahan Mei.
Hubungan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut sempat stabil setelah saling memberlakukan kebijakan perdagangan tahun lalu. Meski demikian, Beijing menolak langkah baru Washington yang bertujuan menghidupkan kembali agenda tarif Trump setelah sebagian tarifnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Pemerintah China juga menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahunannya menjadi 4,5%–5%, target paling rendah sejak 1991.
Walaupun ekspor pabrik China melonjak pada dua bulan pertama 2026 setelah mencatat surplus perdagangan tertinggi tahun lalu, prospek ekonomi kini sebagian bergantung pada durasi dan intensitas perang Iran yang berpotensi menekan pertumbuhan global dan memicu inflasi.
Chief economist Greater China di Australia & New Zealand Banking Group, Raymond Yeung, menilai aktivitas manufaktur China menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Menurutnya, subindeks output rebound cukup kuat pada Maret setelah libur Tahun Baru Imlek. Dia memperkirakan ekonomi China kemungkinan tumbuh lebih cepat dari 4,5% pada kuartal ini.