Bisnis.com, JAKARTA — Langkah pemerintah mendorong penggabungan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor konstruksi dinilai berpotensi memberikan dampak positif bagi industri karya nasional. Konsolidasi tersebut diproyeksikan dapat memperbaiki struktur keuangan BUMN karya dan meningkatkan efisiensi operasional.
Equity Research Bahana Sekuritas, Kevin Jonathan Panjaitan, menilai konsolidasi antarperusahaan karya dapat menciptakan ruang efisiensi yang lebih besar, terutama setelah proses asset grouping diselesaikan.
“Dengan merger ini diharapkan juga kompetisi akan lebih sehat sehingga mendorong margin dari pemain konstruksi,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Senin (10/11/2025).
Kevin menjelaskan, salah satu persoalan utama sektor konstruksi selama ini adalah persaingan harga yang tidak sehat dalam proses tender proyek. Praktik tersebut kerap menekan margin keuntungan emiten BUMN karya. Dengan adanya penggabungan, ia melihat peluang perbaikan margin sebagai dampak dari kompetisi yang lebih terjaga.
Ia juga mengapresiasi langkah Danantara yang berencana melakukan asset grouping. Skema ini dinilai memberi kesempatan bagi masing-masing BUMN karya untuk lebih fokus pada kompetensi inti sekaligus memperkuat neraca perusahaan.
Bagi investor ritel, momentum restrukturisasi dan rencana merger ini dapat menjadi peluang akumulasi saham BUMN konstruksi, terutama karena valuasi yang dinilai masih menarik.
Namun, Kevin mengingatkan agar investor tetap mencermati kepastian skema merger sebelum mengambil keputusan investasi.
Sementara itu dari sisi kinerja, beberapa emiten BUMN konstruksi masih menghadapi kerugian meski telah mendapatkan suntikan modal dari uang pajak.
Melansir data Kementerian Keuangan, yang dipublikasikan dalam Nota Keuangan APBN Tahun Anggaran 2024, total ada delapan perusahaan pelat merah selaku pelaksana penugasan infrastruktur dengan nilai PMN terbesar sejak 2015 hingga kuartal I/2023.
Mereka adalah PT Hutama Karya (Persero), PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT PP (Persero) Tbk., dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Dari nama-nama tersebut, Waskita Karya dan Wijaya Karya menjadi dua emiten BUMN yang masih membukukan kerugian hingga akhir 2023. Hingga akhir tahun lalu, Waskita Karya membukukan kerugian Rp3,77 triliun atau naik dari tahun sebelumnya Rp1,89 triliun. Adapun Wijaya Karya merugi Rp7,12 triliun tahun lalu, meningkat dibandingkan kerugian 2022 sebesar Rp59,59 miliar.
SVP Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita menuturkan perseroan telah meraih PMN sebesar Rp3,5 triliun pada 2015. Emiten dengan ticker WSKT ini kemudian mendapatkan lagi suntikan modal senilai Rp7,9 triliun pada 2021.
“Secara total jumlah PMN yang telah diterima Waskita pada tahun 2015 sampai dengan kuartal I/2024 adalah sebesar Rp11,4 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu (4/7/2024).
Ermy menjelaskan bahwa pemberian PMN kepada perseroan untuk memenuhi porsi investasi ekuitas guna menyelesaikan proyek-proyek strategis nasional di sektor jalan tol. Meski demikian, WSKT dinilai tetap memerlukan pendanaan dari pihak ketiga
“Ruas-ruas tol tersebut juga memerlukan pendanaan dari pihak ketiga yang memiliki beban bunga yang masih cukup tinggi, dan beban bunga tersebut masih akan terkonsolidasi sampai ruas tol tersebut dapat didivestasi,” pungkasnya.
Dia menambahkan Waskita juga mengalami penurunan kinerja operasional yang disebabkan keterbatasan modal kerja karena proses restrukturisasi sedang berlangsung.
Perusahaan saat ini telah mengimplementasikan program pemulihan keuangan, di antaranya restrukturisasi utang, divestasi jalan tol, dan perbaikan tata kelola. Hal ini diharapkan membawa dampak positif pada kinerja perusahaan secara menyeluruh.
Di sisi lain, Ermy menyatakan penggunaan PMN dilandaskan pada prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Waskita juga berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta melaporkan penggunaan modal negara ke Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan.
“Waskita juga telah membentuk program PMN War Room untuk memastikan dana PMN terserap dengan optimal dan efektif sesuai waktu yang telah ditentukan,” tuturnya.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.