Bisnis.com, JAKARTA - Setelah lebih dari 17 tahun berkarier sebagai model, Paula Verhoeven mengambil langkah baru dengan terjun ke dunia bisnis fashion.
Pada awal 2025, ia mendirikan brand modest wear Amapola, berangkat dari pengalamannya di industri mode sekaligus kebutuhan pasar yang menurutnya masih belum banyak tersentuh, khususnya untuk perempuan bertubuh tinggi.
Paula mengaku keinginan untuk terlibat di balik layar industri fashion sudah muncul sejak lama. Perjalanannya sebagai model membuatnya memahami proses busana dari hulu ke hilir, mulai dari desain hingga bagaimana pakaian jatuh di tubuh.
Momentum itu semakin kuat setelah ia memutuskan berhijab pada 2024. “Aku sudah modeling lebih dari 17 tahun dan ingin tetap berkontribusi di dunia fashion, tapi sekarang dari sisi bisnis,” ujarnya.
Memilih fashion sebagai lini usaha utama bukan keputusan yang sulit. Menurutnya, industri ini memiliki pasar yang sangat besar dan terus berkembang. Meski kompetisi brand lokal semakin ketat, Paula melihat peluang tetap terbuka selama memiliki keunikan dan konsistensi.
“Brand fashion memang banyak, tapi pasar Indonesia luas. Tantangannya justru menemukan identitas sendiri,” katanya.
Keunikan itu diwujudkan melalui Amapola yang mengusung konsep modest wear simpel, praktis, dan inklusif. Selain menyediakan ukuran reguler, brand ini juga menghadirkan opsi khusus untuk tinggi badan di atas 170 cm. Ide tersebut lahir dari pengalaman pribadinya yang kerap kesulitan mencari busana dengan panjang yang pas.
Dari sisi desain, Amapola mengedepankan palet warna earth tone dengan siluet loose yang mudah dipadupadankan. Paula juga menghadirkan koleksi one set agar memudahkan perempuan aktif yang tidak ingin repot melakukan mix and match.
“Bajunya bisa dipakai sehari-hari sampai acara formal, termasuk koleksi Raya yang juga cocok untuk kondangan atau event lain,” jelasnya.
Nama Amapola sendiri memiliki makna bunga yang melambangkan kelembutan dan pertumbuhan. Di sisi lain, nama tersebut juga diartikan sebagai “ama Paula” yang mengajak konsumen memulai sesuatu yang baru bersama dirinya.
Dalam operasional bisnis, Paula terlibat langsung dalam proses kreatif bersama tim desainer, namun tetap menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Ia menyadari industri fashion bergerak cepat sehingga inovasi menjadi kunci. Setelah hampir satu tahun berjalan, Amapola terus memperkuat strategi pemasaran dan distribusi.
Selama momen Ramadan, Amapola menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari peluncuran koleksi di event fashion besar, menggandeng jastiper dan reseller dari berbagai daerah, hingga aktif mengikuti bazar. Paula menilai Ramadan sebagai periode dengan lonjakan permintaan yang signifikan bagi industri modest wear.
Sejauh ini, produk yang paling diminati adalah outer simpel dan dress panjang karena fleksibel untuk berbagai kesempatan. Menariknya, beberapa desain yang semula dianggap kurang praktis justru mendapat respons positif dari konsumen. “Dari situ aku belajar untuk benar-benar melihat dari sudut pandang pembeli,” katanya.
Dari sisi harga, Amapola dipasarkan mulai sekitar Rp200 ribuan untuk hijab hingga Rp2 jutaan untuk busana tertentu. Rentang tersebut disesuaikan dengan segmen pasar yang ingin dijangkau, yakni perempuan urban yang menginginkan busana modest yang fungsional tapi tetap stylish.
Beralih dari model ke pebisnis diakui Paula sebagai proses pembelajaran besar. Kini ia harus memikirkan branding, pemasaran, penjualan, hingga tren pasar. Sebagai pribadi yang mengaku introvert, ia juga dituntut lebih aktif membangun relasi dan keluar dari zona nyaman.
“Dulu datang sebagai model, sekarang harus mengundang orang satu per satu untuk datang ke acara brand-ku. Capek tapi menyenangkan,” tuturnya.
Ke depan, Paula menegaskan fokus utamanya adalah membesarkan Amapola, sementara karier modeling tetap berjalan namun bukan prioritas. Ia menilai konsistensi menjadi kunci dalam membangun bisnis.
“Kalau kita tahu apa yang kita mau dan menjalaninya dengan konsisten, insya Allah selalu ada jalannya,” pungkasnya.