Nadya Rizki Amatullah Nizar membangun brand fesyen muslim Nadjani dari modal Rp10 juta tanpa utang, kini sukses di e-commerce dan toko fisik dengan produksi 8.000 pakaian per bulan. [503] url asal
Bisnis.com, BANDUNG – Di tengah riuhnya industri fesyen muslim yang kian kompetitif, terselip sebuah kisah keteguhan dari sudut Kota Kembang. Nadya Rizki Amatullah Nizar, sosok desainer sekaligus pendiri jenama modest wear Nadjani, membuktikan bahwa kreativitas yang dipadukan dengan kemandirian finansial mampu melahirkan imperium bisnis yang menjanjikan.
Memulai langkah dengan modal awal Rp10 juta pada 2013, Nadjani kini bertransformasi menjadi salah satu pemain kunci di pasar digital. Siapa sangka, dari dana yang terbilang mungil untuk ukuran industri garmen, ia kini mampu memproduksi hingga 8.000 potong pakaian setiap bulan tanpa sekalipun menyentuh dana investor maupun pinjaman perbankan.
Perjalanan Nadya membangun Nadjani tidak dimulai dari ruang kosong. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran ini awalnya meniti karier sebagai pelaku industri distro Bandung. Namun, sebuah keputusan besar pada 2013 menjadi titik balik karier bisnisnya.
"Saat itu saya memutuskan untuk berhijab. Saya melihat celah pasar yang masih didominasi brand konvensional," kenang Nadjani saat berbincang di Bandung, belum lama ini.
Ia kemudian mengubah haluan orientasi bisnis dari brand distro yang bernama Oblea menjadi Nadjani. Berbeda dengan busana muslim pada masa itu yang cenderung monoton, Nadjani hadir dengan napas baru, dengan menghadirkan warna-warni ceria dan motif cetak orisinal.
Strategi ini diambil bukan tanpa alasan. Bagi Nadjani, etika dalam berkarya adalah tidak mengambil ciri khas orang lain. "Makanya saya berani cetak bahan sendiri agar tidak ada di tempat lain," tegasnya.
Selain itu, secara prinsip dalam membangun bisnis, Nadya menyebut adaptasi adalah kunci bertahan di era disrupsi.
Nadjani yang awalnya mengandalkan pesona visual di Instagram dan transaksi manual via WhatsApp, kini telah sepenuhnya merangkul ekosistem e-commerce, salah satunya adalah Shopee.
Ia mencatat pertumbuhan signifikan melalui platform Shopee, terutama berkat fitur Live Streaming. Menurutnya, interaksi langsung dengan konsumen di ranah digital memberikan dampak penjualan yang jauh lebih masif dibandingkan kanal offline tradisional.
Menariknya, Nadya memiliki pandangan tersendiri mengenai isu tingginya biaya administrasi di platform digital yang sering dikeluhkan pelaku UMKM. Baginya, angka tersebut masih jauh lebih efisien dibandingkan biaya operasional di pusat perbelanjaan elit.
"Toko offline itu bebannya besar sekali, apalagi di mal. Potongannya bisa mencapai 30% sampai 35% dari harga jual. Jadi ketika biaya e-commerce naik, saya rasa masih lebih terjangkau dibandingkan dengan itu," ungkapnya.
Meski berjaya di e-commerce, Nadya tidak lantas meninggalkan akar fisiknya. Ia tetap mengoperasikan tiga toko di lokasi strategis yakni di Plaza Indonesia (Jakarta), Ranggamalela (Bandung), dan Tunjungan Plaza (Surabaya).
Baginya, toko fisik bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang untuk membangun kepercayaan. Di sana, konsumen dapat merasakan tekstur kain dan kualitas jahitan secara langsung sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi pelanggan setia di kanal online.
Kini, dengan dukungan tim berjumlah 45 orang, Nadjani terus melebarkan sayap. Ia membagi pasarnya ke dalam beberapa lini, yakni Nadjani Signature untuk segmen premium dan Pinayla untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan harga terjangkau.
Keberhasilan Nadjani membesarkan bisnis secara organik menjadi oase di tengah tren startup yang bergantung pada suntikan modal eksternal. "Dari awal benar-benar organik. Sampai sekarang tidak ada investor, tidak ada pinjam ke bank. Benar-benar murni berkembang dari modal Rp10 juta itu," ujarnya.
Paula Verhoeven mendirikan Amapola, brand modest wear inklusif, fokus pada busana untuk perempuan tinggi, dengan desain simpel dan praktis. [558] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Setelah lebih dari 17 tahun berkarier sebagai model, Paula Verhoeven mengambil langkah baru dengan terjun ke dunia bisnis fashion.
Pada awal 2025, ia mendirikan brand modest wear Amapola, berangkat dari pengalamannya di industri mode sekaligus kebutuhan pasar yang menurutnya masih belum banyak tersentuh, khususnya untuk perempuan bertubuh tinggi.
Paula mengaku keinginan untuk terlibat di balik layar industri fashion sudah muncul sejak lama. Perjalanannya sebagai model membuatnya memahami proses busana dari hulu ke hilir, mulai dari desain hingga bagaimana pakaian jatuh di tubuh.
Momentum itu semakin kuat setelah ia memutuskan berhijab pada 2024. “Aku sudah modeling lebih dari 17 tahun dan ingin tetap berkontribusi di dunia fashion, tapi sekarang dari sisi bisnis,” ujarnya.
Memilih fashion sebagai lini usaha utama bukan keputusan yang sulit. Menurutnya, industri ini memiliki pasar yang sangat besar dan terus berkembang. Meski kompetisi brand lokal semakin ketat, Paula melihat peluang tetap terbuka selama memiliki keunikan dan konsistensi.
“Brand fashion memang banyak, tapi pasar Indonesia luas. Tantangannya justru menemukan identitas sendiri,” katanya.
Keunikan itu diwujudkan melalui Amapola yang mengusung konsep modest wear simpel, praktis, dan inklusif. Selain menyediakan ukuran reguler, brand ini juga menghadirkan opsi khusus untuk tinggi badan di atas 170 cm. Ide tersebut lahir dari pengalaman pribadinya yang kerap kesulitan mencari busana dengan panjang yang pas.
Dari sisi desain, Amapola mengedepankan palet warna earth tone dengan siluet loose yang mudah dipadupadankan. Paula juga menghadirkan koleksi one set agar memudahkan perempuan aktif yang tidak ingin repot melakukan mix and match.
“Bajunya bisa dipakai sehari-hari sampai acara formal, termasuk koleksi Raya yang juga cocok untuk kondangan atau event lain,” jelasnya.
Nama Amapola sendiri memiliki makna bunga yang melambangkan kelembutan dan pertumbuhan. Di sisi lain, nama tersebut juga diartikan sebagai “ama Paula” yang mengajak konsumen memulai sesuatu yang baru bersama dirinya.
Dalam operasional bisnis, Paula terlibat langsung dalam proses kreatif bersama tim desainer, namun tetap menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Ia menyadari industri fashion bergerak cepat sehingga inovasi menjadi kunci. Setelah hampir satu tahun berjalan, Amapola terus memperkuat strategi pemasaran dan distribusi.
Selama momen Ramadan, Amapola menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari peluncuran koleksi di event fashion besar, menggandeng jastiper dan reseller dari berbagai daerah, hingga aktif mengikuti bazar. Paula menilai Ramadan sebagai periode dengan lonjakan permintaan yang signifikan bagi industri modest wear.
Sejauh ini, produk yang paling diminati adalah outer simpel dan dress panjang karena fleksibel untuk berbagai kesempatan. Menariknya, beberapa desain yang semula dianggap kurang praktis justru mendapat respons positif dari konsumen. “Dari situ aku belajar untuk benar-benar melihat dari sudut pandang pembeli,” katanya.
Dari sisi harga, Amapola dipasarkan mulai sekitar Rp200 ribuan untuk hijab hingga Rp2 jutaan untuk busana tertentu. Rentang tersebut disesuaikan dengan segmen pasar yang ingin dijangkau, yakni perempuan urban yang menginginkan busana modest yang fungsional tapi tetap stylish.
Beralih dari model ke pebisnis diakui Paula sebagai proses pembelajaran besar. Kini ia harus memikirkan branding, pemasaran, penjualan, hingga tren pasar. Sebagai pribadi yang mengaku introvert, ia juga dituntut lebih aktif membangun relasi dan keluar dari zona nyaman.
“Dulu datang sebagai model, sekarang harus mengundang orang satu per satu untuk datang ke acara brand-ku. Capek tapi menyenangkan,” tuturnya.
Ke depan, Paula menegaskan fokus utamanya adalah membesarkan Amapola, sementara karier modeling tetap berjalan namun bukan prioritas. Ia menilai konsistensi menjadi kunci dalam membangun bisnis.
“Kalau kita tahu apa yang kita mau dan menjalaninya dengan konsisten, insya Allah selalu ada jalannya,” pungkasnya.
Blibli menghadirkan Gaya Raya, menampilkan koleksi modest wear dari 20 brand lokal dengan diskon hingga 75% untuk Ramadan dan Lebaran, tersedia hingga 11 Maret. [503] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Blibli menghadirkan Gaya Raya, sebuah curated destination fesyen yang menampilkan koleksi modest wear dari 20 brand lokal ternama. Sebanyak 15 brand di antaranya menghadirkan koleksi eksklusif yang hanya tersedia di platform tersebut.
Adapun jenama lokal yang hadir dalam Gaya Raya, seperti Heaven Lights, Kami, Javina, Kaleela, Sarah The Label, Lights.clo, Lights, Aleza, Vivi Zubedi, Lonila, Nadeea, Ria Miranda, Studio Tui, dan lainnya.
Program ini berlangsung pada 2 Februari hingga 11 Maret dan menawarkan ragam pilihan tunik, dress, baju koko, blouse hingga siluet fungsional yang dirancang untuk aktivitas harian selama Ramadan serta momen silaturahmi saat Lebaran. Seluruh koleksi dihadirkan dengan penawaran khusus, termasuk diskon hingga 75%, jaminan Pasti ORI, serta gratis retur.
Krisantia Nugraha, Group Head Groceries & Lifestyle Blibli menerangkan bahwa Gaya Raya dihadirkan sebagai destinasi fesyen yang relevan untuk Ramadan dan Lebaran. “Koleksinya modest, fungsional, dan versatile, cocok untuk ibadah, aktivitas sehari-hari, hingga silaturahmi Hari Raya,” sebutnya saat konferensi pers di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Krisantia menambahkan, Gaya Raya juga strategis bagi brand, karena kurasi koleksi selaras dengan momen Ramadan dan Lebaran. “Didukung ekosistem Blibli mulai dari logistik, pengiriman tepat waktu, hingga jaminan produk original,” tambahnya.
Kepercayaan brand terhadap ekosistem Blibli tercermin dari rekam jejak kolaborasi sebelumnya. Pada Ramadan tahun lalu, koleksi Javina x Syifa Hadju – Jawharaa Series tercatat terjual lebih dari 5.000 pieces dalam satu jam di platform tersebut.
Capaian ini mendorong Heaven Lights kembali menghadirkan koleksi eksklusifnya melalui Gaya Raya tahun ini. Jihan Malik, CEO Heaven Lights menerangkan, pihaknya tahun ini, menghadirkan Heaven Lights Azalea Family Set sebagai koleksi yang hanya bisa ditemukan di Blibli lewat program Gaya Raya.
Jihan menyebut, Ramadan adalah momen yang sangat penting bagi brand modest fesyen. “Blibli memahami karakter momen ini dan menghadirkan Gaya Raya sebagai platform yang siap secara ekosistem mulai dari kurasi, infrastruktur gudang, hingga pengiriman yang konsisten dan tepercaya,” sebutnya.
Menurutnya, jaminan produk original dan kemudahan seperti retur tanpa alasan menjadi faktor penting dalam menghadirkan koleksi eksklusif. “Ini bukan hanya soal penjualan, tetapi juga memastikan pelanggan mendapatkan pengalaman yang sejalan dengan nilai brand kami.”
Selain memperkuat kolaborasi dengan brand lokal, Gaya Raya juga menjadi bagian dari kampanye Ramadan Blibli yang menyasar kebutuhan masyarakat secara lebih luas, mulai dari kebutuhan pokok hingga gaya hidup.
Data internal Blibli selama Ramadan 2025 menunjukkan lonjakan signifikan pada berbagai kategori fesyen Muslim. Permintaan atasan Muslim wanita meningkat lebih dari dua kali lipat.
Pakaian Muslim pria serta pakaian Muslim anak perempuan masing-masing naik hampir 2,5 kali lipat, sementara pakaian Muslim anak laki-laki mencatat pertumbuhan tertinggi dengan hampir tiga kali lipat.
Pada kategori hijab, total penjualan sepanjang Ramadan 2025 jika direntangkan mencapai 18,16 kilometer, setara dengan mengelilingi Stadion Gelora Bung Karno sebanyak 45 kali.
Menariknya, tren belanja tidak hanya terfokus pada busana Lebaran. Penjualan baju olahraga Muslim meningkat hampir empat kali lipat, sedangkan outerwear sehari-hari naik hampir tiga kali lipat.
Data ini, disebut mencerminkan perubahan pola konsumsi, di mana pelanggan ingin tetap aktif, nyaman, dan stylish sepanjang Ramadan, tidak hanya saat Hari Raya.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56