Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai aktivitas ekspansi dunia usaha masih berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi global. Salah satu sektor yang dinilai masih menunjukkan prospek pertumbuhan kuat adalah pusat data (data center).
Airlangga mengatakan realisasi investasi pada kuartal I/2026 telah melampaui target pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan bahwa sejumlah sektor usaha masih melanjutkan ekspansi.
“Pertama dari segi investasi kita ketahui di kuartal I itu di atas daripada target investasi. Dan kami masih melihat berbagai sektor itu tetap melakukan ekspansi,” kata Airlangga dalam konferensi Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro di Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026).
Menurut Airlangga, pelaku usaha pada dasarnya akan memperluas kapasitas produksi apabila masih melihat adanya peluang pasar. Perusahaan juga akan berupaya mengoptimalkan biaya pendanaan (cost of fund) yang telah dikeluarkan dengan meningkatkan penjualan melalui ekspansi.
Dia mencontohkan sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri yang masih berkembang. Pemerintah, misalnya, tengah memproses perluasan KEK di Jawa Timur. Sementara itu, tingkat keterisian kawasan industri di Kendal, Batang, dan Bintan disebut telah mendekati penuh.
“Kita lihat contoh di kawasan ekonomi khusus Jawa Timur, nah itu kita juga sedang mengurus untuk ekspansi. Kemudian di Kendal, Batang itu juga sudah hampir 100% penuh lokasinya. Kemudian juga di dalam Batang di Bintan juga hampir penuh,” ujarnya.
Selain sektor manufaktur, Airlangga menyebut industri data center masih menjadi salah satu tujuan investasi baru. Pemerintah mencatat terdapat tambahan permintaan kapasitas pusat data yang siap direalisasikan di Indonesia.
“Dan juga saya melihat minat dari sektor data center misalnya, itu ada demand tambahan sebesar 1,32 GW atau 1,2 GW yang sedang siap untuk masuk ke Indonesia,” katanya.
Di sisi lain, kalangan dunia usaha sebelumnya menyampaikan pandangan berbeda. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai meningkatnya ketidakpastian global dan berbagai tantangan domestik mendorong pelaku usaha bersikap lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan tekanan yang dihadapi dunia usaha pada saat ini lebih berat dibandingkan kuartal I/2026. Menurutnya, eskalasi ketegangan geopolitik telah berdampak terhadap pasar keuangan maupun sektor riil.
“Pelaku usaha prihatin dengan tekanan dan tantangan ekonomi yang ada saat ini, baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata Shinta kepada Bisnis, Minggu (28/6/2026).
Shinta menilai pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas makroekonomi, terutama nilai tukar yang meningkatkan biaya usaha. Di sisi lain, proyeksi inflasi biaya hidup yang masih berada di kisaran batas atas target pemerintah turut menekan daya beli masyarakat.
Apindo juga menyoroti masih terbatasnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan pemerintah, mulai dari tata kelola fiskal hingga berbagai regulasi yang memengaruhi iklim usaha dan investasi. Kondisi tersebut dinilai menambah tekanan di pasar keuangan sekaligus meningkatkan risiko bagi pelaku usaha.
Menurutnya, iklim usaha saat ini belum cukup kondusif untuk mendorong ekspansi secara agresif, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah. Dengan prospek pertumbuhan sektor riil yang cenderung melambat, dunia usaha akan lebih bergantung pada efektivitas stimulus pemerintah dan kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas, ekspor, serta investasi.
Karena itu, pelaku usaha cenderung memprioritaskan keberlangsungan bisnis dibandingkan memperluas kapasitas usaha.
“Akibatnya, pertumbuhan lapangan kerja jauh lebih stagnan, bahkan cenderung menyusut, karena perusahaan tidak ingin mengambil risiko ekspansi tenaga kerja. In turn, kinerja pasar domestik dan pertumbuhan ekonomi nasional akan makin terbebani,” tandasnya.