Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berupaya menggenjot daya saing Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia melalui berbagai strategi seiring dengan langkah aktif negara-negara di Asean yang juga mengembangkan kawasan industrinya.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang mengatakan pemerintah terus memperkuat daya saing KEK melalui berbagai langkah strategis. Salah satu upaya utama adalah penguatan regulasi yang akan memberikan kemudahan, kejelasan, dan kepastian hukum yang lebih baik agar proses bisnis dapat lebih efisien dan transparan.
"Selain itu, pemerintah fokus pada penguatan infrastruktur dan konektivitas di sekitar KEK, termasuk pengembangan pelabuhan, jalan tol, dan akses logistik yang terintegrasi. Langkah ini bertujuan untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi produksi, sehingga KEK di Indonesia dapat bersaing dengan kawasan industri di negara lain," katanya dalam jawaban tertulis kepada Bisnis pada Kamis (29/4/2026).
Di saat yang sama, saat ini pemerintah mulai mengarahkan pengembangan KEK ke sektor-sektor strategis bernilai tambah tinggi, seperti hilirisasi sumber daya alam, industri berteknologi tinggi, industri kendaraan listrik, teknologi digital, kesehatan, pendidikan, research and development, dan lainnya. Tujuannya adalah agar KEK di Indonesia tidak hanya bersaing dari sisi biaya tetapi juga dari sisi nilai dan teknologi.
Upaya lain adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan promosi investasi secara global. Pemerintah bekerja sama dengan pelaku industri untuk menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan sektor industri, serta aktif melakukan diplomasi ekonomi dan promosi KEK di berbagai forum internasional.
Di sisi lain, ragam insentif fiskal dan nonfiskal yang diberikan di KEK menurutnya saat ini sudah kompetitif dibandingkan negara pesaing di kawasan.
Dari sisi fiskal, Indonesia menawarkan berbagai fasilitas menarik seperti seperti tax holiday dan tax allowance terhadap PPh badan, pembebasan bea masuk dan PPN, serta berbagai fasilitas fiskal lainnya.
Sementara, dari sisi non fiskal, KEK didukung oleh kemudahan perizinan melalui pelayanan satu pintu, kebijakan khusus di bidang ketenagakerjaan, pertanahan, dan lain-lain.
"Namun demikian, perlu dipahami bahwa daya saing KEK tidak hanya ditentukan oleh desain insentif dan kebijakan di atas kertas, melainkan implementasi dan ekosistem investasi secara keseluruhan," katanya.
Dia menjelaskan bahwa saat ini telah terdapat 25 KEK yang tersebar dari ujung Barat hingga Timur Indonesia, secara rinci.
- 13 KEK Industri: KEK Arun Lhokseumawe, KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Sauh, KEK Galang Batang, KEK Kendal, KEK Industropolis Batang, KEK Gresik, KEK Setangga, KEK Palu, KEK Bitung, KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), KEK Morotai, KEK Sorong.
- 6 KEK Pariwisata: KEK Mandalika, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Lesung, KEK Likupang, KEK Lido, dan KEK Kura Kura Bali.
- 2 KEK Kesehatan, yaitu KEK Sanur di Bali dan KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam di Kepulauan Riau.
- 1 KEK Digital yaitu KEK Nongsa di Kepulauan Riau.
- 2 KEK Pendidikan dan Teknologi yaitu KEK Singhasari di Jawa Timur dan KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten di Banten.
- 1 KEK jasa lainnya yaitu KEK Batam Aero Technic di Kepulauan Riau.
Adapun, hingga akhir 2025, KEK berhasil mencatatkan realisasi investasi kumulatif sebesar Rp336 triliun yang berasal dari 407 badan usaha dan pelaku usaha di KEK. Dari aktivitas tersebut, KEK telah menyerap tenaga kerja sebanyak 249.072 orang.
Khusus untuk 2025, realisasi investasi di 25 KEK mencapai Rp82,6 triliun atau 98% dari target yang telah ditetapkan. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja mencapai 88.541 orang.
Akan tetapi, KEK Indonesia menghadapi tantangan persaingan, termasuk di level Asean. Thailand dan Vietnam misalnya tengah gencar menawarkan investasi di bidang industri.
Malaysia dan Singapura telah menyepakati perjanjian bersama penerapan KEK Johor-Singapura (Johor-Singapore Special Economy Zone/JS-SEZ) pada 2025. Kawasan khusus itu dibangun di Johor demi mendukung investasi serta menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan.
Pemimpin kedua negara berharap melalui zona khusus ekonomi ini negara mereka bisa sama-sama menarik investor.
JS-SEZ menjadi kawasan ekonomi khusus lintas batas pertama di regional Asia Tenggara yang sudah menargetkan sekitar 50 proyek dalam lima tahun pertamanya. Kedua negara juga mengharapkan penciptaan 20.000 lapangan pekerjaan dari KEK tersebut.