Bisnis.com, JAKARTA — Perempuan dan kelompok minoritas masih menjadi target utama dalam serangan siber di sejumlah negara di Eropa. Para peretas selektif dalam mengincar targetnya.
Laporan Malwarebytes, dikutip Kamis (26/2/2026) mengungkapkan bahwa kejahatan online tidak menyerang semua orang secara setara. Perempuan dan Kelompok yang sudah menghadapi hambatan sosial-ekonomi seperti mereka dengan penghasilan rendah dan tingkat pendidikan lebih rendah akan cenderung lebih sering menjadi korban di dunia digital menurut laporan yang melibatkan lebih dari 5.000 responden di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.
Data dalam laporan menunjukkan pola yang jelas berdasarkan gender. Sebanyak 79% perempuan menerima pesan teks dari nomor tidak dikenal yang berpotensi mengandung tautan berbahaya, dibandingkan 73% laki-laki. Sebanyak 46% perempuan melaporkan akun media sosial mereka pernah diretas, jauh di atas angka 37% pada laki-laki.
Dari sisi finansial, hanya 47% responden BIPOC yang berhasil menghindari dampak keuangan akibat kejahatan siber, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata keseluruhan responden sebesar 59%.
Secara keseluruhan, 31% dari seluruh responden menyatakan tidak merasa aman di dunia maya, sementara 50% merasa privasi mereka tidak terlindungi. Secara global, perempuan juga menjadi kelompok yang paling tidak merasa privat dalam beraktivitas online, dengan angka 53% berbanding 47% pada laki-laki.
Kondisi ini juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria turut menyebut bahwa penipuan di ruang digital telah menjadi ancaman nyata dan sangat merugikan masyarakat.
Sementara itu, menurut laporan Sidang Umum PBB ke-79 tahun 2024 berjudul “Intensification of Efforts to Eliminate All Forms of Violence Against Women and Girls: Technology-Facilitated Violence Against Women and Girls”, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan yang difasilitasi teknologi (TF VAWG) mengalami peningkatan signifikan di berbagai negara.
Berbagai studi menunjukkan bahwa kekerasan daring terhadap perempuan terjadi di hampir semua wilayah dunia. Di negara-negara Arab, sekitar 60% perempuan pengguna internet pernah mengalami kekerasan daring.
Di Eropa Timur dan Asia Tengah, lebih dari 50% perempuan dewasa di 12 negara melaporkan pernah mengalami beberapa bentuk pelecehan berbasis teknologi sepanjang hidup mereka.
Sementara itu, di Afrika Sub-Sahara, 28% perempuan pernah menjadi korban kekerasan daring, dan di Eropa serta Amerika Serikat, survei terhadap perempuan berusia 18–55 tahun di beberapa negara, termasuk Denmark, Italia, Polandia, Spanyol, Swedia, Inggris, dan AS, menunjukkan 23% melaporkan setidaknya satu pengalaman pelecehan atau intimidasi daring.
Data yang dikutip dari UN Women menyebutkan prevalensi TF VAWG berkisar antara 16% hingga 58%. Sebanyak 67% perempuan dan anak perempuan yang mengalami TF VAWG melaporkan menjadi korban misinformasi dan pencemaran nama baik.
Selain itu, 73 % jurnalis perempuan mengaku pernah mengalami kekerasan secara online. Pada 2024, sekitar 300 juta anak terdampak eksploitasi dan pelecehan seksual secara daring. Secara global, satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual setidaknya sekali seumur hidupnya.