Bisnis.com, JAKARTA — CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memperkirakan nilai investasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Jakarta mencapai sekitar US$1 miliar, seiring rencana kapasitas pengolahan hingga 8.000 ton per hari.
Rosan menyebut kebutuhan investasi pembangunan fasilitas tersebut berkisar Rp2 triliun untuk setiap kapasitas 1.000 ton sampah per hari.
“Kalau saya bicara 8.000 ton per hari, investasinya kurang lebih US$1 billion, (1 miliar dolar AS),” kata Rosan dikutip dari Antara, Senin (4/5/2026).
Ia menambahkan, proyek PSEL di Jakarta ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028.
Menurutnya, kapasitas fasilitas yang dibangun berpotensi ditingkatkan hingga di atas 8.000 ton per hari guna mengolah timbunan sampah lama di TPST Bantargebang.
“Mungkin kita akan membangunnya bisa jadi lebih dari 8.000 ton (per hari). Kenapa? Untuk bisa mengambil sampah lama. Harapannya Bantargebang bisa bersih. Jadi, bisa saja kapasitasnya 10.000 sampai 12.000 ton (ton per hari) supaya sampah lama itu bisa terambil” jelasnya.
Rosan menambahkan, teknologi yang digunakan memungkinkan pengolahan sampah tanpa perlu pemilahan awal. Seluruh jenis sampah, termasuk sampah lama, dapat langsung diolah.
"Kalau dari teknologi yang kita sudah terapkan, ini tidak perlu dipisahkan. Jadi bisa langsung gitu. Karena kita juga melihat environment-nya, kemudian masalah bau, masalah lahan, kita juga sangat memperhatikan itu semua," kata Rosan.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Danantara Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait percepatan pembangunan fasilitas PSEL pada Senin (4/5/2026).
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, Menteri Koordinator Bidang Pangan mengoordinasikan percepatan pengolahan sampah perkotaan menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Melalui beleid tersebut, percepatan proyek dilakukan lewat penyederhanaan prosedur serta pembagian peran antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Danantara Indonesia, PLN, dan badan usaha.
Danantara berperan sebagai mitra strategis dalam menyiapkan proyek, termasuk skema pembiayaan serta proses pemilihan badan usaha pengembang dan pengelola (BUPP).
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta mengusulkan dua lokasi pembangunan PSEL, yakni Bantargebang dan Tanjung Kamal Muara.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan persoalan sampah di Jakarta sudah berada pada kondisi darurat dan membutuhkan penanganan cepat serta terintegrasi.
“Timbunan sampah Jakarta mencapai 9.000 ton per hari. Saat ini 87% masih bergantung pada open dumping, seperti Bantargebang yang sudah jauh melebihi kapasitas. Jika diukur, ketinggian sampahnya setara gedung 16–17 lantai,” ujarnya.
Ia menegaskan penandatanganan MoU menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam menangani persoalan sampah di ibu kota.
Zulkifli juga optimistis permasalahan tersebut mulai teratasi dalam dua tahun ke depan.