Bisnis.com, JAKARTA - Menjaga kulit tetap awet muda bukan hanya bisa dilakukan melalui penggunaan skin care ataupun treatmen kecantikan.
Namun juga asupan makanan dan nutrisi memengaruhi kondisi kulit Anda.
Jika Anda makan makanan sehat, maka kulit Anda menjadi sehat dan bisa lebih awet muda.
dr. Karina Marcella, Sp.GK, AIFO-K, Dokter Spesialis Gizi Klinik Bamed menegaskan, proses penuaan tidak hanya terlihat dari perubahan fisik luar, tetapi berakar dari proses biologis di tingkat sel yang sangat dipengaruhi oleh metabolisme dan inflamasi kronis.
"Apa yang kita konsumsi setiap hari memiliki dampak langsung terhadap jalur metabolisme sel, fungsi mitokondria, hingga kecepatan
penuaan,” jelasnya.
Dr. Karina memaparkan bahwa asupan energi dan gula berlebih dapat mengaktifkan jalur insulin dan IGF-1 (pengatur pertumbuhan sel) secara kronis, yang mendorong proliferasi sel tanpa jeda dan mempercepat akumulasi kerusakan DNA.
Selain itu, aktivasi berlebihan jalur mTOR (sensor nutrisi sel), yang sensitif terhadap asupan protein dan kalori, dapat menghambat proses autofagi (pembersihan sel rusak), yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan komponen sel yang rusak.
“Ketika autofagi terhambat, kerusakan sel akan menumpuk dan mempercepat proses penuaan. Sebaliknya, keseimbangan energi yang tepat dapat mengaktifkan jalur AMPK (pengatur energi sel) dan sirtuin (penjaga umur sel) yang berperan dalam memperbaiki DNA, meningkatkan efisiensi mitokondria, serta memperlambat aging,” jelasnya.
Dalam konteks anti-aging, nutrisi anti-inflamasi dan antioksidan memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan jaringan tubuh. Nutrisi anti-inflamasi dan antioksidan menjaga kesehatan kulit dan jaringan tubuh dengan menyediakan bahan baku regenerasi, mengendalikan inflamasi, melindungi sel dari stres oksidatif, menjaga struktur dan fungsi jaringan jangka panjang.
Tentunya hal ini sangat kompleks sekaligus penting dalam menjaga kesehatan menyeluruh. Lebih lanjut, dr. Karina menekankan bahwa nutrisi berperan besar dalam wellness secara holistik, mulai dari energi harian, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga daya tahan tubuh. Metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak bekerja secara terintegrasi untuk menjaga keseimbangan energi dan fungsi organ. Selain itu, hubungan antara nutrisi dan gut-brain axis juga menjadi sorotan, mengingat
90% serotonin diproduksi di usus.
“Ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat berdampak pada mood, kecemasan, dan gangguan tidur, sementara sistem imun juga sangat sensitif terhadap status nutrisi,”
jelasnya.
dr. Karina menegaskan, pendekatan personalized nutrition berbasis evidence menjadi kunci dalam strategi anti-aging modern, karena setiap individu memiliki respons metabolik, tingkat inflamasi, dan kemampuan regenerasi sel yang berbeda-beda. Ia menekankan bahwa prinsip one doesn’t fit all sangat relevan dalam dunia nutrisi, terutama di tengah maraknya tren diet seperti diet ketogenik, intermittent fasting (IF), dan berbagai pola diet populer lainnya.
“Tidak semua diet cocok untuk setiap orang. Jika diterapkan tanpa analisis medis yang tepat, diet tertentu justru dapat memperburuk
kondisi metabolik. Karena itu, nutrisi preventif, nutrisi terapeutik, dan pilihan diet harus dibedakan secara jelas dan disusun berdasarkan evidence-based medicine, agar intervensi yang dilakukan benarbenar aman, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” jelas dr. Karina.