Bisnis.com, JAKARTA — Pelindo Group melalui anak usahanya, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menargetkan Pelabuhan Kijing sebagai pintu ekspor-impor baru di Kalimantan Barat.
Direktur Utama IPC TPK Guna Mulyana menegaskan saat ini pelabuhan bukan sekadar tempat kapal bongkar muat, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi yang menuntut keahlian dan inovasi.
Dia menjelaskan, seiring modernisasi sistem bongkar muat dan digitalisasi pelabuhan, industri logistik kini membuka peluang karier luas bagi generasi muda, mulai dari manajemen rantai pasok, otomasi pelabuhan, hingga teknologi informasi.
Langkah IPC TPK tersebut dinilai sejalan dengan perkembangan Pelabuhan Kijing yang kian strategis sebagai simpul logistik baru Kalimantan Barat.
"Sejak beroperasi, kami menargetkan pelabuhan ini memicu pertumbuhan industri logistik di kawasan pesisir dan menciptakan kebutuhan tenaga kerja terampil. Kami akan memperkuat literasi logistik sebagai pintu ekspor-impor baru di Kalimantan Barat," ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Pelabuhan Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat saat ini sudah menjadi area konsolidasi untuk pengelolaan dan ekspor minyak mentah atau CPO.
Pada 2024, volume ekspor CPO melalui Pelabuhan Kijing meningkat 12% dibandingkan dengan pada tahun sebelumnya.
Proyek ini bertujuan untuk menggantikan fungsi Pelabuhan Pontianak, mendukung pertumbuhan industri di Kalbar, memperkuat konektivitas antar-pulau, dan menjadi gerbang maritim yang terintegrasi dengan jaringan Tol Laut.
Selanjutnya, pihaknya menekankan pentingnya pemahaman masyarakat pesisir tentang rantai pasok nasional dan peran pelabuhan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya pembangunan infrastruktur tak akan berarti tanpa pembangunan manusia. Dia mengajak agar generasi muda di sekitar pelabuhan harus ikut terlibat, bukan hanya menonton.
IPC TPK tercatat membukukan pertumbuhan operasi sebesar 15% pada triwulan III/2025 dibanding periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir September 2025, volume petikemas yang ditangani mencapai 304.358 TEUs, naik dari 264.262 TEUs pada periode September 2024.
Secara kumulatif, kinerja operasi Januari–September 2025 mencapai 2,62 juta TEUs, tumbuh 13,95% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,3 juta TEUs.
Lonjakan tersebut terutama disumbang oleh peningkatan arus peti kemas domestik, yang menjadi tulang punggung rantai pasok logistik nasional.