Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan beras yang diimpor Indonesia dari Amerika Serikat (AS) merupakan beras khusus, seperti jenis basmati. Hal ini seiring dengan adanya kesepakatan perjanjian dagang Indonesia—AS.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut volume impor beras tersebut sangat kecil dibandingkan dengan stok beras Perum Bulog yang saat ini hampir mencapai 4 juta ton.
Dia justru menekankan pemerintah akan mengekspor 2.280 ton beras ke Arab Saudi. Untuk itu, Amran menyatakan rencana impor 1.000 ton beras dari Negara Paman Sam tidak mengganggu status swasembada beras.
“Kalau diimpor itu adalah beras khusus karena basmati sesuai dengan turis-turis yang datang, investor datang. Paham? Jadi bawa sama kita [beras] ke mana nih berangkat [haji], senangnya beras yang pulen, yang beras Inpari, Cianjur. Paham? Karenataste-nya ini untuk turis kita yang datang,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Amran memastikan beras khusus yang diimpor dari AS bukan beras medium yang dikonsumsi mayoritas masyarakat.
Seperti diketahui, Indonesia harus mengimpor beras dengan kode HS 100610, 100620, 100630, dan 100640 asal AS melebihi 1.000 metrik ton per tahun. Hal itu sebagaimana tercantum di dalam dokumen kesepakatan kesepakatan tarif resiprokal atauAgreement on Reciprocal Trade(ART) Indonesia—AS.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah hanya memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal Negara Paman Sam.
“Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri,” kata Haryo dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).
Dia menambahkan, dalam lima tahun terakhir Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Di sisi lain, dia juga menegaskan volume impor sebesar 1.000 ton beras tersebut tidak signifikan dibandingkan produksi beras nasional.
“Dalam 5 tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” jelasnya.
Adapun, Indonesia harus meningkatkan impor produk pertanian AS, termasuk daging sapi, beras, jagung, kedelai, bungkil kedelai, gandum, etanol, buah-buahan segar, kapas, dan tepung gluten jagung.