#30 tag 24jam
Bukan karena MSCI? Analis Ungkap Penyebab Utama IHSG Ambruk
Analis menilai pelemahan IHSG bukan hanya karena MSCI, melainkan dominasi penguatan dolar AS yang memicu capital outflow asing. [918] url asal
#ihsg-ambruk #penguatan-dolar-as #msci-interim-freeze #capital-outflow-asing
(Kompas.com - Money) 25/06/26 08:20
v/259151/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,56 persen pada perdagangan Rabu (24/6/2026), di tengah tekanan jual yang melanda mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meski koreksi tajam ini terjadi di hari yang sama setelah hasil MSCI Market Classification Review diumumkan, analis menilai pelemahan indeks lebih dipengaruhi oleh penguatan dollar AS, yang memicu tekanan terhadap rupiah dan mendorong arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.
Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, menyebut koreksi IHSG pada perdagangan Kamis tidak semata-mata dipicu oleh hasil MSCI Market Classification Review. Faktor lebih dominan adalah penguatan indeks dollar AS (DXY) yang mendorong pelemahan nilai tukar rupiah nyaris menyentuh Rp 18.000 per dollar AS.
Kondisi tersebut memicu arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar keuangan domestik, sehingga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap IHSG dibandingkan sentimen MSCI.
“Kami memandang kenaikan DXY lebih memengaruhi tone market dibandingkan pengumuman MSCI, sehingga hal tersebut membuat rupiah kembali ke level Rp 18.000 per dollar AS, yang membuat terjadinya outflow,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.
Belum dicabutnya kebijakan interim freeze oleh MSCI juga menjadi faktor lain yang ikut menekan bursa, meski bukan satu-satunya penyebab pelemahan indeks.
MSCI memang mengapresiasi agenda transformasi bursa yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO).
Namun, lembaga provider global itu masih memilih mempertahankan interim freeze untuk memastikan implementasi transformasi berjalan konsisten dalam jangka waktu yang lebih panjang.
“MSCI memandang perubahan kebijakan yang sudah dilakukan oleh regulator sudah on the track, namun mereka memperpanjang freeze untuk memastikan penerapan aturan dilakukan dengan konsisten,” paparnya.
Karena itu, respons pasar terhadap keputusan MSCI beragam.
Di satu sisi, pelaku pasar merasa kecewa karena belum ada pencabutan interim freeze. Di sisi lain, investor institusi umumnya baru akan meningkatkan eksposur ketika seluruh indikator perbaikan pasar menunjukkan hasil yang lebih jelas.
Kondisi itu membuat mayoritas pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menunggu kepastian lebih lanjut mengenai efektivitas agenda reformasi bursa yang sedang dijalankan regulator.
“Bisa iya, bisa juga tidak namun investor perlu memperhatikan bahwa tipe institusi cenderung bergerak ketika semua kondisi mulai membaik, sehingga mayoritas pelaku pasar masih cenderung wait and see,” pungkas dia.
Apakah aksi jual yang terjadi lebih banyak berasal dari investor asing atau justru investor domestik?
Tekanan jual pada perdagangan Rabu lebih dominan berasal dari investor asing.
Hingga sesi satu perdagangan, investor asing melakukan jual bersih alias net sell Rp 900 miliar.
Aksi keluar dana asing ini terjadi di tengah kondisi likuiditas pasar yang relatif ketat, tecermin dari nilai transaksi di pasar reguler yang hanya sekitar Rp 13 triliun.
Faris menilai pola pergerakan dana asing ke depan masih akan cenderung bersifat jangka pendek atau short term play. Dengan kondisi tersebut, akumulasi dana asing yang masuk ke pasar saham domestik diperkirakan belum akan mengalami peningkatan signifikan, sehingga pergerakannya cenderung datar atau flat dalam beberapa waktu ke depan.
“Melihat pola transaksi, pada sesi satu investor asing keluar sebesar Rp 900 miliar. Disertai likuiditas yang ketat dengan transaksi di pasar reguler hanya sekitar Rp 13 triliun. Arus dana asing, ke depannya akan cenderung short term play sehingga akumulasinya cenderung flat,” ungkapnya.
Lebih jauh, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sektor yang paling rentan mengalami aksi jual asing pasca review MSCI adalah sektor yang memiliki bobot terbesar dalam indeks MSCI, sekaligus menjadi favorit investor global.
Sektor-sektor tersebut kerap menjadi penopang utama likuiditas pasar sehingga lebih sensitif terhadap perubahan sentimen investor asing.
Nafan memastikan sektor perbankan, energi dan komoditas (energy and commodity), serta telekomunikasi paling berisiko mengalami tekanan jual.
“Sektor yang paling rentan adalah yang memiliki bobot terbesar dalam indeks MSCI Indonesia dan menjadi favorit asing (pembawa likuiditas), yaitu perbankan, energy and commodity, maupun telekomunikasi,” ucap Nafan saat dihubungi Kompas.com.
Kendati begitu, arus modal asing berpeluang kembali masuk ke bursa RI, sebelum evaluasi MSCI berikutnya pada November 2026.
Namun, kembalinya dana asing akan bergantung pada faktor global maupun domestik, salah satu katalis berupa pelonggaran kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) melalui penurunan suku bunga.
Hal itu berpotensi meningkatkan sentimen risk-on terhadap aset-aset di negara berkembang (Emerging Markets), termasuk Indonesia.
“Arus modal asing dapat kembali masuk jika dipicu oleh faktor-faktor krusial seperti pelonggaran kebijakan moneter (penurunan suku bunga) oleh The Fed yang dapat memicu risk-on sentiment ke Emerging Markets,” katanya.
Selain faktor global, investor asing juga mencermati kinerja fundamental domestik.
Rilis laporan keuangan kuartalan emiten yang solid, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di atas 5 persen dapat meningkatkan daya tarik pasar saham nasional.
Nafan menambahkan, stimulus maupun kejelasan regulasi baru yang diterbitkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum evaluasi MSCI pada November 2026 juga berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar.
Investor asing juga menantikan sejumlah perbaikan mendasar di bursa.
Di antaranya peningkatan transparansi dan tata kelola perusahaan (corporate governance), kepastian hukum dan regulasi pasar modal yang konsisten termasuk kejelasan terkait status interim freeze.
Lalu, peningkatan likuiditas pasar dan pendalaman instrumen keuangan, serta kemudahan akses data dan keterbukaan informasi yang setara bagi investor domestik maupun global.
Perbaikan pada aspek-aspek ini menjadi penting untuk memulihkan kepercayaan investor asing, sekaligus meningkatkan daya saing pasar modal tanah air di mata investor global.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Terpuruk dan Rupiah Melemah: Ada Apa dengan Indonesia?
IHSG ambruk, rupiah tertekan, dan arus modal asing keluar. Artikel ini mengupas 5 kekhawatiran yang membuat kredibilitas Indonesia dipertanyakan investor global. [1,110] url asal
#ihsg #nilai-tukar-rupiah #rupiah-melemah #pelemahan-nilai-tukar-rupiah #ihsg-anjlok #rupiah-tertekan #ihsg-ambruk #investor-asing-net-sell #kredibilitas-indonesia
(Kompas.com - Money) 04/06/26 08:10
v/239620/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan kemarin Rabu (3/6/2026).
Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, IHSG kemarin sempat anjlok ke level dekat 5.882 atau kembali ke level terendah 2025.
Sementara itu, nilai tukar rupiah menembus Rp 17,950 per dollar AS dan disertai dengan investor asing (foreign investors) yang melakukan jual bersih (net sell) Rp 66,20 triliun sepanjang tahun berjalan.
Kondisi ini terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global justru masih mampu catatkan rekor baru masing-masing.
"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Sedikit catatan, IHSG kemarin ditutup ambruk 4,11 persen atau setara 254,36 poin ke level 5.941,066, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.841,996.
Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan tidak mampu keluar dari tekanan hingga akhir sesi.
Indeks dibuka pada posisi 6.207,102 dan hanya sempat menyentuh area tertinggi di 6.213,801.
Liza menjabarkan, sekurang-kurangnya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini.
Kekhawatiran pertama adalah tata kelola dan kredibilitas kebijakan usai outlook negatif dari Moody's dan Fitch yang diikuti dengan tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.
Kondisi tersebut diperparah dengan arus modal asing yang terus keluar dari pasar domestik.
Di sisi lain, terjadi penyusutan kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik.
"Serta yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global," ucap dia.
Meskipun demikian, Liza bilang, Indonesia belum memasuki fase penurunan peringkat secara struktural atau fase structural de-rating.
"Mungkin saja, tetapi belum tentu," ucap dia.
Kondisi itu dapat dilihat dari pasar yang terlihat mulai memperlakukan Indonesia dengan berbeda dibanding emerging markets lain.
Berdasarkan catatannya, EIDO (Indonesia ETF/Exchange-Traded Fund) mencatat return -28,6 persen sejak awal 2025.
EIDO kerap dianggap sebagai indikator minat investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu pasar negara berkembang (emerging markets) naik 64,6 persen dengan Vietnam sebesar 63,2 persen dan Taiwan 107,2 persen.
Sedangkan Amerika Serikat juga menguat 30,9 persen.
"Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," ucap dia.
Penentu arah selanjutnya
Liza mengungkapkan, fokus investor kini bergeser pada periode dua minggu paling krusial tahun ini.
Pasalnya, pada 19 Juni 2026 akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review.
Pada awal pekan berikutnya akan terdapat FTSE Rebalancing efektif 22 Juni 2026.
Kemudian, pada pekan yang sama terdapat pula MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," ungkap dia.
Potensi keuntungan tersembunyi
Salah satu hal yang menarik bagi Liza, dalam enam bulan terakhir hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah terjadi.
Peristiwa tersebut meliputi pelemahan nilai tukar rupiah diikuti arus dana asing keluar (foreign outflow) yang meningkat.
Selain itu, lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch juga telah mengeluarkan prospek yang negatif diikuti oleh kekhawatiran terhadap S&P yang meningkat.
Tak hanya itu, indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) juga telah melakukan peninjauan ulang (review) terhadap Indonesia.
Kendati demikian, hingga saat ini Indonesia masih mempertahankan status investment grade. Sedangkan, S&P masih mempertahankan outlook stabil.
Di samping itu, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia, dan FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.
Menurut Liza, kondisi itu berarti sebagian risiko yang saat ini ditakuti pasar masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi.
"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," ungkap dia.
Sementara pasar masih mencerna implementasi awal Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), ada lagi aturan baru pajak untuk UMKM.
Liza berpandangan, saat ini pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual.
Sebaiknya, pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual.
Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya.
"Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh?, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya," ungkap dia.
Tekanan global ke pasar Asia
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menjelaskan, pasar Asia bergerak beragam karena meningkatnya kekhawatiran setelah tarif baru diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) mengusulkan tarif tambahan hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang karena dianggap gagal melarang barang yang menggunakan tenaga kerja paksa, termasuk Uni Eropa, China, dan Jepang.
"Para pelaku pasar juga terus melanjutkan perkembangan konflik AS-Iran setelah ketegangan kembali meningkat," ungkap dia.
Washington menuduh Teheran melancarkan serangan baru meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Sedangkan di dalam negeri, IHSG melemah setelah surplus neraca perdagangan pada bulan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sehingga mengurangi dukungan dari aliran devisa hasil ekspor.
Selain itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,08 persen pada Mei dari 2,42 persen pada bulan April, didorong oleh kenaikan harga pangan dan biaya transportasi.
Risiko inflasi masih berpotensi datang dari kenaikan harga energi global serta gangguan cuaca terkait El Niño.
Hal ini juga diperparah dengan sentimen negatif saat Moody's Ratings menetapkan peringkat kredit Baa2 dengan Outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM), sejalan dengan peringkat Sovereign Indonesia.
Arus deras modal asing keluar
Tak hanya itu, aksi jual investor asing juga membebani pasar saham Indonesia pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Di tengah anjloknya IHSG sebesar 4,11 persen ke level 5.941, investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp 864 miliar.
Tekanan jual terbesar terjadi pada saham perbankan dan sejumlah saham yang terdampak rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan penjualan bersih terbesar oleh investor asing, mencapai Rp 686 miliar.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga tidak luput dari tekanan dengan net sell asing sebesar Rp 428 miliar.
Di posisi berikutnya ada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat penjualan bersih Rp 361 miliar.
Investor asing juga melepas saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp 183 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 106 miliar.
Meski secara agregat mencatatkan net sell, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham berbasis komoditas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Terpuruk dan Rupiah Melemah: Ada Apa dengan Indonesia?
IHSG ambruk, rupiah tertekan, dan arus modal asing keluar. Artikel ini mengupas 5 kekhawatiran yang membuat kredibilitas Indonesia dipertanyakan investor global. [1,110] url asal
#ihsg #rupiah-tertekan #ihsg-ambruk #investor-asing-net-sell #kredibilitas-indonesia
(Kompas.com - Money) 04/06/26 08:10
v/239472/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan kemarin Rabu (3/6/2026).
Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, IHSG kemarin sempat anjlok ke level dekat 5.882 atau kembali ke level terendah 2025.
Sementara itu, nilai tukar rupiah menembus Rp 17,950 per dollar AS dan disertai dengan investor asing (foreign investors) yang melakukan jual bersih (net sell) Rp 66,20 triliun sepanjang tahun berjalan.
Kondisi ini terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global justru masih mampu catatkan rekor baru masing-masing.
"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar dia dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Sedikit catatan, IHSG kemarin ditutup ambruk 4,11 persen atau setara 254,36 poin ke level 5.941,066, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.841,996.
Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan tidak mampu keluar dari tekanan hingga akhir sesi.
Indeks dibuka pada posisi 6.207,102 dan hanya sempat menyentuh area tertinggi di 6.213,801.
Liza menjabarkan, sekurang-kurangnya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini.
Kekhawatiran pertama adalah tata kelola dan kredibilitas kebijakan usai outlook negatif dari Moody's dan Fitch yang diikuti dengan tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.
Kondisi tersebut diperparah dengan arus modal asing yang terus keluar dari pasar domestik.
Di sisi lain, terjadi penyusutan kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik.
"Serta yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global," ucap dia.
Meskipun demikian, Liza bilang, Indonesia belum memasuki fase penurunan peringkat secara struktural atau fase structural de-rating.
"Mungkin saja, tetapi belum tentu," ucap dia.
Kondisi itu dapat dilihat dari pasar yang terlihat mulai memperlakukan Indonesia dengan berbeda dibanding emerging markets lain.
Berdasarkan catatannya, EIDO (Indonesia ETF/Exchange-Traded Fund) mencatat return -28,6 persen sejak awal 2025.
EIDO kerap dianggap sebagai indikator minat investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Sementara itu pasar negara berkembang (emerging markets) naik 64,6 persen dengan Vietnam sebesar 63,2 persen dan Taiwan 107,2 persen.
Sedangkan Amerika Serikat juga menguat 30,9 persen.
"Dengan kata lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," ucap dia.
Penentu arah selanjutnya
Liza mengungkapkan, fokus investor kini bergeser pada periode dua minggu paling krusial tahun ini.
Pasalnya, pada 19 Juni 2026 akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review.
Pada awal pekan berikutnya akan terdapat FTSE Rebalancing efektif 22 Juni 2026.
Kemudian, pada pekan yang sama terdapat pula MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
"Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia," ungkap dia.
Potensi keuntungan tersembunyi
Salah satu hal yang menarik bagi Liza, dalam enam bulan terakhir hampir seluruh berita buruk yang dapat dibayangkan investor sebenarnya sudah terjadi.
Peristiwa tersebut meliputi pelemahan nilai tukar rupiah diikuti arus dana asing keluar (foreign outflow) yang meningkat.
Selain itu, lembaga pemeringkat seperti Moody's dan Fitch juga telah mengeluarkan prospek yang negatif diikuti oleh kekhawatiran terhadap S&P yang meningkat.
Tak hanya itu, indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) juga telah melakukan peninjauan ulang (review) terhadap Indonesia.
Kendati demikian, hingga saat ini Indonesia masih mempertahankan status investment grade. Sedangkan, S&P masih mempertahankan outlook stabil.
Di samping itu, MSCI belum mengubah klasifikasi Indonesia, dan FTSE juga belum menempatkan Indonesia dalam downgrade watch list.
Menurut Liza, kondisi itu berarti sebagian risiko yang saat ini ditakuti pasar masih berupa kemungkinan, bukan fakta yang telah terjadi.
"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," ungkap dia.
Sementara pasar masih mencerna implementasi awal Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), ada lagi aturan baru pajak untuk UMKM.
Liza berpandangan, saat ini pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual.
Sebaiknya, pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual.
Dalam jangka pendek, FTSE dan MSCI kemungkinan akan menjadi ujian terpenting berikutnya.
"Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh?, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya," ungkap dia.
Tekanan global ke pasar Asia
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menjelaskan, pasar Asia bergerak beragam karena meningkatnya kekhawatiran setelah tarif baru diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) mengusulkan tarif tambahan hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang karena dianggap gagal melarang barang yang menggunakan tenaga kerja paksa, termasuk Uni Eropa, China, dan Jepang.
"Para pelaku pasar juga terus melanjutkan perkembangan konflik AS-Iran setelah ketegangan kembali meningkat," ungkap dia.
Washington menuduh Teheran melancarkan serangan baru meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Sedangkan di dalam negeri, IHSG melemah setelah surplus neraca perdagangan pada bulan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sehingga mengurangi dukungan dari aliran devisa hasil ekspor.
Selain itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,08 persen pada Mei dari 2,42 persen pada bulan April, didorong oleh kenaikan harga pangan dan biaya transportasi.
Risiko inflasi masih berpotensi datang dari kenaikan harga energi global serta gangguan cuaca terkait El Niño.
Hal ini juga diperparah dengan sentimen negatif saat Moody's Ratings menetapkan peringkat kredit Baa2 dengan Outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM), sejalan dengan peringkat Sovereign Indonesia.
Arus deras modal asing keluar
Tak hanya itu, aksi jual investor asing juga membebani pasar saham Indonesia pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Di tengah anjloknya IHSG sebesar 4,11 persen ke level 5.941, investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp 864 miliar.
Tekanan jual terbesar terjadi pada saham perbankan dan sejumlah saham yang terdampak rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan penjualan bersih terbesar oleh investor asing, mencapai Rp 686 miliar.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga tidak luput dari tekanan dengan net sell asing sebesar Rp 428 miliar.
Di posisi berikutnya ada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat penjualan bersih Rp 361 miliar.
Investor asing juga melepas saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp 183 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 106 miliar.
Meski secara agregat mencatatkan net sell, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham berbasis komoditas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Jadi Terburuk di Dunia, Asing Cabut Rp 67 Triliun, Bagaimana Sikap Investor Ritel?
IHSG ambruk 4,11%, sinyal krisis kepercayaan pasar. Hendra Wardana ungkap faktor domestik jadi pemicu utama, bukan hanya konflik AS-Iran. [877] url asal
#ihsg-ambruk #sentimen-domestik #krisis-kepercayaan-pasar #dana-asing-keluar
(Kompas.com - Money) 04/06/26 07:20
v/239380/
JAKARTA, KOMPAS.com - Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dinilai menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.
IHSG ditutup ambruk 4,11 persen atau terkoreksi 254,360 poin ke level 5.941,066, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.841,996.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penurunan IHSG kali ini tidak semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti kembali memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati 100 dollar AS per barrel.
“Jika dilihat dari data, penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati 100 dollar AS per barrel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Rabu malam.
Tekanan terhadap pasar saham domestik juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dollar AS, kekhawatiran terhadap implementasi kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.
Di tengah mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak menguat, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi pada pasar domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal dibandingkan faktor eksternal.
“Pasar pada dasarnya tidak bergerak berdasarkan pidato atau pernyataan optimistis semata, melainkan berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan,” paparnya.
Menurutnya, ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang 2026, investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas yang dirasakan pasar.
“Ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar,” tukas Hendra.
Kepercayaan investor merupakan aset berharga dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ketika kepastian kebijakan mulai berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah perekonomian ke depan, investor cenderung mengambil sikap menunggu atau bahkan mengalihkan investasinya ke negara lain yang dianggap memiliki tingkat stabilitas lebih tinggi.
Kondisi tersebut juga tecermin dari data arus modal asing.
Pada perdagangan Rabu investor asing kembali membukukan aksi jual bersih atau net sell sekitar Rp 864 miliar.
Sementara itu, secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 67 triliun.
Hendra mencatat angka tersebut tergolong sangat besar dan menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan mengapa tekanan jual terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama pergerakan IHSG.
“Selama arus keluar dana asing masih berlangsung dan belum ada katalis positif yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan,” tukas dia.
Meski demikian, Hendra memandang kondisi saat ini tidak serta-merta harus disikapi dengan kepanikan berlebihan.
Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengalami koreksi yang cukup dalam sehingga mulai memasuki area yang menarik untuk investasi jangka panjang.
Namun, ia mengingatkan bahwa pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.
Oleh karena itu, peluang terjadinya tekanan lanjutan masih terbuka.
Adapun, IHSG masih berpotensi menguji area psikologis berikutnya di kisaran 5.800 hingga 6.000, sebelum akhirnya menemukan titik keseimbangan baru dan berpeluang melakukan pemulihan secara bertahap.
Menjawab pertanyaan mengenai strategi investasi saat ini, Hendra menilai keputusan untuk melakukan pembelian atau bertahan sangat bergantung pada kualitas saham yang dimiliki serta profil risiko masing-masing investor.
Bagi investor jangka panjang yang memiliki portofolio berisi saham-saham dengan fundamental kuat, strategi hold bahkan akumulasi secara bertahap masih dapat dipertimbangkan karena valuasi saat ini jauh lebih murah dibandingkan beberapa bulan lalu.
Meski demikian, ia menyarankan agar pembelian dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus dalam satu waktu mengingat risiko koreksi lanjutan masih cukup terbuka.
Sementara itu, bagi investor jangka pendek maupun trader, disiplin terhadap manajemen risiko tetap harus menjadi prioritas utama.
Pasalnya, volatilitas pasar saat ini berada pada level yang sangat tinggi sehingga pergerakan harga saham dapat berubah dengan cepat dalam waktu singkat.
Hendra menambahkan, pemulihan pasar saham Indonesia ke depan tidak hanya bergantung pada stabilisasi nilai tukar rupiah atau meredanya konflik geopolitik global, tetapi juga sangat ditentukan oleh kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik.
Pasar membutuhkan kepastian, konsistensi, dan langkah-langkah konkret yang mampu meyakinkan pelaku pasar bahwa berbagai risiko yang ada dapat dikelola dengan baik.
Ketika kepercayaan mulai pulih, dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar domestik dan memberikan dorongan bagi pemulihan IHSG yang saat ini masih berada dalam tekanan.
Namun selama proses tersebut belum terlihat secara jelas, investor perlu bersikap lebih selektif dalam memilih saham, berfokus pada fundamental perusahaan, menjaga likuiditas portofolio, serta menghindari keputusan investasi yang didorong oleh kepanikan sesaat.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Ambruk 4 Persen: Rupiah, Moody’s, dan Investor Asing Jadi Pemicu
IHSG ambruk 4,11% imbas tekanan jual masif pasca pelemahan rupiah dan peringkat Baa2 Danantara. [651] url asal
#rupiah-melemah #sentimen-pasar #ihsg-ambruk #cost-push-inflation
(Kompas.com - Money) 04/06/26 05:40
v/239313/
JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan jual besar-besaran menghantam pasar saham Indonesia pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 4,11 persen atau terkoreksi 254,36 poin ke level 5.941,066, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.841,996.
Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah dan tidak mampu keluar dari tekanan hingga akhir sesi.
Indeks dibuka pada posisi 6.207,102 dan sempat menyentuh area tertinggi di 6.213,801.
Namun, derasnya aksi jual membuat IHSG terus melorot hingga menembus angka psikologis 6.000.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai, penurunan tajam indeks hingga menyentuh level 5.941 dipicu oleh sentimen domestik dan eksternal yang secara bersamaan menekan kepercayaan pelaku pasar.
Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup signifikan, serta keputusan Moody’s Ratings yang memberikan peringkat perdana (first-time issuer rating) Baa2 kepada Danantara Investment Management (DIM), entitas manajemen investasi yang berada di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Baa dengan outlook negatif dinilai jadi katalis utama yang memicu aksi jual di pasar saham.
“Dinamika ini merefleksikan kompleksitas situasi saat ini, di mana penyesuaian kebijakan domestik berinteraksi langsung dengan ketidakpastian makro global, sehingga menciptakan volatilitas jangka pendek di pasar ekuitas,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.
Terkait pergerakan aliran modal asing, Azharys menilai kondisi saat ini tidak mencerminkan hilangnya kepercayaan investor global terhadap fundamental jangka panjang Indonesia.
Sebaliknya, investor asing lebih memilih mengambil posisi hati-hati saat meningkatnya berbagai risiko yang membayangi pasar keuangan domestik.
Menurutnya, investor global saat ini cenderung mengurangi porsi kepemilikan aset Indonesia atau mengambil posisi underweight dalam portofolionya.
Sikap tersebut tecermin dari aksi rebalancing yang dilakukan sejumlah indeks global, termasuk MSCI dan FTSE.
Langkah pengurangan bobot investasi tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan terhadap posisi fiskal Indonesia.
Pasalnya, sebagian utang pemerintah masih berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS), sehingga nilainya meningkat seiring pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
“Mengenai aliran modal, situasi ini tidak mengindikasikan hilangnya kepercayaan investor asing secara total terhadap fundamental jangka panjang Indonesia, melainkan sebuah sikap antisipatif (cautious),” pungkas dia.
Tekanan tersebut semakin terlihat dari kinerja neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 yang mencatat surplus terendah sejak 2019.
Pada periode tersebut, surplus perdagangan hanya mencapai sekitar 90 juta dollar AS akibat meningkatnya biaya impor.
Meski demikian, Azharys menilai koreksi tajam di pasar saham dan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini belum dapat dikategorikan sebagai sinyal terjadinya krisis ekonomi yang bersifat sistemik.
Dampak yang paling mungkin dirasakan dalam waktu dekat terhadap perekonomian riil adalah meningkatnya tekanan inflasi dari sisi biaya produksi (cost-push inflation). Kondisi ini terjadi ketika kenaikan biaya bahan baku impor mendorong produsen menaikkan harga jual produk kepada konsumen.
“Dampak yang akan langsung dirasakan pada ekonomi riil dalam waktu dekat adalah jalur transmisi harga (cost-push inflation), di mana kenaikan biaya bahan baku impor berpotensi menaikkan harga produk di pasar dan menguji daya beli masyarakat,” lanjutnya.
Sementara itu, risiko terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal dinilai masih relatif terbatas.
Menurut Azharys, PHK merupakan indikator ekonomi yang muncul pada tahap akhir atau lagging indicator, sehingga potensi terjadinya gelombang PHK dalam waktu dekat masih kecil selama stabilitas makroekonomi tetap dapat dijaga dengan baik.
Ia menambahkan, efektivitas kebijakan pemerintah dan otoritas terkait dalam menjaga stabilitas ekonomi akan menjadi faktor penting untuk meredam tekanan pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.
“Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dinilai masih relatif kecil; PHK merupakan indikator paling ujung (lagging indicator) yang potensinya minim terjadi selama mitigasi stabilitas makroekonomi tetap berjalan efektif,” kata dia.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Geopolitik Global Panaskan Pasar, IHSG Terjun Bebas! Asing Gencar Jual Saham Big Caps
IHSG anjlok 4,32% ke level 7.596 pada sesi I. Analis menilai sentimen geopolitik global dan aksi jual asing di saham big caps jadi pemicu. [329] url asal
(WE Finance - Finansial) 04/03/26 14:35
v/154802/
Warta Ekonomi, Jakarta -Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cukup dalam hingga penutupan sesi I perdagangan hari ini dipicu kombinasi sentimen geopolitik global dan aksi jual pada saham-saham big caps. Tekanan terutama terjadi pada sektor perbankan serta saham-saham likuid yang menjadi target utama dana asing.
“Ketika bursa Asia juga melemah, tekanan di IHSG biasanya ikut membesar karena investor global cenderung mengurangi eksposur di emerging market,” ujar Reydi kepada Warta Ekonomi, Rabu (4/3/2026).
Di sisi lain, Reydi menilai belum ada sentimen negatif yang signifikan dari kebijakan keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1 persen yang resmi dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, dampak kebijakan tersebut cenderung bersifat jangka pendek.
Transparansi tersebut, kata dia, memang berpotensi memicu reaksi awal pasar karena investor mulai membaca ulang struktur kepemilikan saham tertentu. Namun secara fundamental, langkah ini justru dinilai positif dalam jangka panjang karena meningkatkan transparansi dan integritas pasar modal.
“Jadi, koreksi IHSG saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan tekanan jual teknikal di saham-saham besar, sementara kebijakan keterbukaan data lebih merupakan katalis tambahan yang membuat pasar sementara menjadi lebih sensitif,” jelasnya.
IHSG masih mencatatkan kinerja negatif hingga akhir sesi pertama perdagangan Rabu (4/3/2026). Berdasarkan data RTI, IHSG anjlok 343,19 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,57.
Pada perdagangan pagi, IHSG sempat turun lebih dalam hingga menyentuh level 7.584,85, sementara posisi tertingginya berada di 7.897,81.
Pergerakan saham pada siang hari didominasi tren negatif. Sebanyak 713 saham melemah, hanya 63 saham menguat, dan 37 saham stagnan.
Seluruh sektor mencatatkan pelemahan. Sektor bahan baku memimpin penurunan sebesar 8,03 persen, diikuti sektor transportasi yang turun 6,8 persen, barang konsumen nonprimer 5,6 persen, serta infrastruktur 5,07 persen.
Selanjutnya, sektor energi melemah 4,82 persen, industri 4,46 persen, barang konsumen primer 3,62 persen, properti 3,34 persen, keuangan 2,97 persen, teknologi 2,06 persen, dan kesehatan 2,22 persen.
IHSG Ambruk 4%, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Dinilai Jadi Pemicunya
IHSG berada dalam fase minor bearish didukung MA20&60 yang membentuk pola bearish crossover. Menunjukkan sinyal negatif serta didukung penurunan volume. [245] url asal
(WE Finance - Finansial) 04/03/26 11:11
v/154526/
Warta Ekonomi, Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 4,02% ke level 7.620 pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026). Mengutip data RTI pada pukul 10:24, IHSG sempat dibuka di level 7.896 dan menyentuh level tertinggi di angka 7.897.
Senior Technical Analyst, Nafan Aji Gusta melihat secara teknikal, IHSG berada dalam fase minor bearish didukung MA20&60 yang membentuk pola bearish crossover. Berdasarkan indikator, Stochastics KD dan RSI menunjukkan sinyal negatif serta didukung penurunan volume.
Dia mengungkapkan, pelemahan indeks masih terjadi akibat sentimen perang AS-Iran yang berdampak terhadap harga energi dan inflasi global. Sentimen risk-off diperkirakan masih terjadi seiring dengan faktor geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta volatilitas market.
"Jika berkepanjangan, perang itu dapat menekan perekonomian sebab ongkos logistik meningkat dan menekan peluang ekspor," jelas Nafan kepada wartaekonomi, Rabu (4/3/2026).
Hal senada disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa. Ia menuturkan tekanan IHSG hari ini lebih dipicu sentimen eksternal, khususnya eskalasi konflik Timur Tengah yang meningkatkan risk off dari investor.
""Saya melihat tekanan ini lebih bersifat jangka pendek dan berbasis sentimen, bukan karena perubahan fundamental domestik," ujarnya dihubungi terpisah.
Menurutnya selama konflik tidak melebar dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi secara ekstrim, koreksi ini cenderung menjadi fase konsolidasi.
Adapun lanjut Reydi, untuk saham-saham migas, secara teori memang diuntungkan jika harga minyak dunia naik akibat gangguan pasokan Namun investor tetap harus selektif, karena lonjakan harga minyak yang terlalu tinggi juga bisa memicu kekhawatiran inflasi.
Hashim Djojohadikusumo Ungkap Alasan Petinggi BEI dan OJK Diminta Mundur: Tidak Ada Transparansi
Gejolak pasar modal Indonesia mengakibatkan pengunduran diri petinggi BEI dan OJK. Transparansi menjadi sorotan utama! [725] url asal
#ihsg-ambruk #transparansi-pasar #pengunduran-diri-bei-ojk #reaksi-presiden-prabowo
(Kompas.com - Money) 13/02/26 10:33
v/135600/
JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak pasar modal Indonesia berujung pada pengunduran diri sejumlah petinggi otoritas pasar modal secara serentak pada Jumat (30/1/2026). Hal itu terjadi tak lama setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk menyusul peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu transparansi pasar.
Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan alasan pengunduran pejabat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lantaran isu transparansi pasar, sehingga mereka pun diminta mengundurkan diri.
“Itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri, dan ada alasannya, karena tidak ada transparansi,” ujar Hashim dalam acara ASEAN Climate Forum di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Menurut Hashim, Presiden Prabowo Subianto geram lantaran tekanan tajam di pasar modal. Amblasnya IHSG dinilai mencoreng kredibilitas Indonesia di mata investor global.
Pemerintah pun memberi sinyal tegas untuk memperketat pengawasan terhadap BEI dan OJK demi memulihkan kepercayaan pasar.
“Jadi, saya mengambil kesempatan ini untuk mengatakan dengan tegas, Presiden Prabowo sangat marah. Beliau marah dengan apa yang terjadi minggu lalu, terutama dengan kehormatan negara kita yang dipertaruhkan,” paparnya.
Atas kondisi tersebut, Hashim menyebutkan bahwa pemerintah melakukan pengawasan terhadap otoritas pasar modal.
“Jadi saya tujukan ini kepada Anda, Pak Jeffrey (BEI) dan Anda Pak Hasan (OJK). Pemerintah akan mengawasi Anda dengan ketat, dan saya serius,” kata Hashim.
“Kalian semua tahu kan apa yang terjadi minggu lalu? Morgan Stanley, jatuhnya pasar saham, dan saya tidak tahu apakah kalian mengikutinya, tapi itu menjadi topik hangat minggu lalu, kan? Beberapa orang diminta untuk mengundurkan diri,” tambah dia.
Sorotan terhadap pasar modal Indonesia juga datang dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International.
Hashim menyebut MSCI mengirim empat surat kepada pemerintah Indonesia untuk mempertanyakan sejumlah aspek dalam pengelolaan pasar modal.
Meski tidak merinci isi surat tersebut, Hashim menegaskan persoalan utamanya berkaitan dengan transparansi.
“Dan ada alasannya, karena tidak ada transparansi, dan ada ketidaktransparanan, itu dianggap sebagai pasar yang tidak transparan, Pak. Rupanya, Morgan Stanley mengirim empat surat, empat surat kepada pemerintah Indonesia,” ungkap Hashim.
Lebih jauh, ia menekankan kepercayaan dan kredibilitas merupakan fondasi utama dalam sistem pasar keuangan.
Tanpa kedua elemen tersebut, pasar tidak akan berfungsi secara optimal dan sehat.
Hashim juga menyampaikan bahwa delapan investor yang menemuinya secara langsung meminta pemerintah menjaga integritas pasar modal nasional.
“Namun, ini semua tentang kepercayaan dan kredibilitas. Pasar-pasar ini hanya akan berhasil jika ada kepercayaan dan kredibilitas. Jadi, delapan investor yang bertemu dengan saya pada hari Senin lalu, mereka meminta saya dan pemerintah untuk menjaga kredibilitas pasar kita,” lanjutnya.
ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).Respons BEI
Menanggapi pernyataan tersebut, manajemen BEI memandang sikap pemerintah sebagai bentuk dukungan institusional.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pemerintah memberikan dorongan agar jajaran direksi yang baru segera mengambil langkah-langkah strategis dan korektif untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan transparansi.
“Kami tentu berterima kasih mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah. Seperti tadi Pak Hashim sampaikan, beliau memberikan dukungan bagi kami yang baru menjabat untuk bisa melakukan hal-hal yang penting dan perlu dilakukan dalam sesegera mungkin. Dan itu akan kami lakukan,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu.
Menurutnya, komunikasi dengan pemerintah berlangsung substansial.
Meski tidak ada arahan teknis secara detail, pesan yang disampaikan dinilai tegas dan jelas.
Sebelumnya IHSG mengalami koreksi besar-besaran dipicu sentimen negatif dari kebijakan pengelola indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI Rabu (28/1/2026), memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. Saat itu IHSG turun 742,58 poin atau 8,27 persen ke level 8.237,64. Trading halt pun diaktifkan BEI.
Tekanan jual berlanjut pada Kamis (29/1/2026). Tak lama setelah pembukaan perdagangan, BEI kembali mengaktifkan trading halt setelah IHSG anjlok 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Pada Jumat (30/1/2026), IHSG akhirnya ditutup menguat di posisi 8.329,60. Namun, indeks sempat anjliok ke level 7.400 di tengah perdagangan.
Tekanan kembali berlanjut pada Senin (2/2/2026). Hingga penutupan sesi pertama, IHSG merosot 5,31 persen atau 442,44 poin ke level 7.887,16.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Ditutup Koreksi ke 7.922, Sektor Teknologi-Transportasi Anjlok 6 Persen
Sebanyak 63 saham menguat, 753 saham melemah, dan 142 saham stagnan. [239] url asal
#ihsg #ihsg-hari-ini #ihsg-ambruk #teknologi #transportasi
(IDX-Channel - Market News) 02/02/26 16:25
v/122877/
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi tajam 4,88 persen ke level 7.922,73 pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026).
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 8.313 dan level terendah di 7.820.
Sebanyak 63 saham menguat, 753 saham melemah, dan 142 saham stagnan. Total volume transaksi tercatat 48,06 miliar saham dengan nilai Rp29,12 triliun.
Sejumlah indeks utama turut mencatatkan koreksi tajam antara lain LQ45 turun 3,27 persen, IDX30 turun 2,07 persen, SRI-KEHATI turun 0,38 persen, JII turun 6,92 persen, dan ISSI turun 6,46 persen.
Seluruh sektor bertahan di zona merah, meliputi sektor bahan baku yang turun 10,74 persen. Lalu sektor energi turun 7,66 persen diikuti infrastruktur dan transportasi yang turun masing-masing 6 persen.
Sektor properti dan teknologi juma melemah masing-masing 6,27 persen dan 6,04 persen, keuangan turun 2,33 persen, industri terkoreksi 5,88 persen, kesehatan turun 1,28 persen, dan non siklikal turun 1,73 persen.
Jajaran saham top gainers dihuni oleh PT Inter Delta Tbk (INTD) naik 24,80 persen, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) naik 24,79 persen, dan PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) naik 17,95 persen.
Sementara itu top losers ditempati oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 15 persen, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 15 persen, dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) turun 15 persen.
(DESI ANGRIANI)
IHSG Ambruk, Pelaku Usaha Batam Pastikan Investasi Industri Batam Tetap Aman
IHSG turun tak pengaruhi investasi Batam; industri tetap aman berkat dominasi FDI. Meski ada risiko jangka panjang, manufaktur terus jadi penggerak ekonomi. [404] url asal
#ihsg #ihsg-ambruk #investasi-batam #industri-batam #pelaku-usaha-batam #manufaktur-batam #investasi-langsung #ekonomi-batam #sektor-manufaktur #investasi-jangka-panjang #kepercayaan-investor #foreign
(Bisnis.Com - Terbaru) 31/01/26 09:02
v/120618/
Bisnis.com, BATAM — Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir diniliai tidak akan berdampak langsung terhadap iklim investasi di Kota Batam. Pelaku usaha berpandangan aktivitas industri dan realisasi investasi di kawasan tersebut tetap berjalan normal karena didominasi investasi langsung jangka panjang.
Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam Adhy Prasetyo Wibowo mengatakan fluktuasi pasar saham lebih berkaitan dengan aktivitas portofolio dan tidak berpengaruh langsung pada sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi Batam.
“Sampai saat ini belum ada dampaknya ke industri manufaktur. Kegiatan produksi masih berjalan normal, karena yang terpengaruh langsung biasanya investasi di pasar saham, bukan industri,” kata Adhy belum lama ini.
Ia menjelaskan, struktur industri Batam didominasi manufaktur elektronik serta sektor-sektor berbasis produksi nyata. Oleh karena itu, gejolak IHSG tidak serta-merta menekan operasional industri maupun penyerapan tenaga kerja.
Namun demikian, Adhy mengingatkan bahwa apabila ketidakpastian ekonomi berlangsung dalam jangka panjang, dampak lanjutan tetap perlu diwaspadai, terutama terkait kepercayaan investor.
“Kalau ini berlangsung lama, tentu bisa memengaruhi persepsi terhadap Indonesia. Rencana ekspansi dan investor baru bisa bersikap wait and see. Tetapi untuk sekarang kondisinya masih aman,” ujarnya.
Terkait prospek industri ke depan, Adhy menyebut sektor manufaktur masih menjadi penggerak utama sepanjang 2025 , ditopang investasi di pusat data serta manufaktur pendukung industri minyak dan gas. Sementara untuk 2026, arah investasi masih menunggu kepastian kebijakan.
“Kendalanya masih klasik, birokrasi yang panjang, kepastian berusaha, serta daya saing Batam dibanding kawasan lain seperti Johor dan Vietnam, termasuk faktor biaya energi seperti harga gas,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafki Rasyid. Ia menegaskan tidak ada hubungan langsung antara pelemahan IHSG dengan investasi yang masuk ke Batam.
“Investasi di Bursa Efek itu portofolio investment, sedangkan yang masuk ke Batam adalah foreign direct investment atau FDI. Faktor yang memengaruhi keduanya sangat berbeda,” ujar Rafki.
Menurutnya, investasi portofolio sangat dipengaruhi faktor psikologis dan persepsi investor, sementara FDI lebih ditentukan faktor struktural seperti iklim usaha, infrastruktur, dan kepastian regulasi.
Ia menambahkan sektor-sektor industri di Batam relatif tidak terpengaruh oleh naik-turunnya IHSG. Pertumbuhan ekonomi dan investasi di Batam masih terjaga seiring dengan perbaikan iklim investasi.
“Tidak ada tekanan ekonomi langsung ke Batam akibat melemahnya IHSG. Pelemahan ini sifatnya sementara dan sudah sering terjadi,” kata Rafki.
Ia pun mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak panik menyikapi pergerakan pasar saham.
“Kalau kepercayaan investor kembali, IHSG juga akan membaik. Jadi tidak perlu khawatir berlebihan, karena investasi dan industri di Batam tetap aman,” ujarnya.
Bikin Ngerti Soal MSCI dan Saham Gorengan yang Buat Dirut BEI Mundur
Masa kerja Dirut BEI memang akan berakhir di Juni 2026. [572] url asal
#ihsg-ambruk #indeks-saham #msci #morgan-stanley #saham-gorengan #menkeu-purbaya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dirut Bursa Efek Indonesia (IDX) Iman Rachman mundur di tengah krisis ambruknya harga saham Indonesia dalam tiga hari terakhir. Iman mundur pada Jumat (30/1/2026) pagi, setelah menjabat sebagai dirut IDX sejak 29 Juni 2022. Masa jabatan Iman memang bakal berakhir pada tengah tahun ini.
Iman mundur di tengah situasi sentimen negatif investor asing dan dalam negeri atas keterbukaan bursa Indonesia. Ini menyusul surat Morgan Stanley Capital International (MSCI) atas IDX dan Kustodian Sentral Efek Indonesia soal data pemegang saham publik dari saham-saham di IDX.
Untuk lebih mudah memahami konteksnya berikut analogi MSCI dan situasi indeks harga saham Indonesia terkini: Morgan Stanley Capital International adalah salah satu tangan dari Morgan Stanley, bank investasi asal Amerika Serikat. Morgan Stanley ini adalah bank besar yang pekerjaan utamanya mengelola harta konglomerat untuk diinvestasikan kembali ke seluruh dunia yang menawarkan imbal hasil mbesar.
Selain itu, Morgan Stanley juga jadi penasihat merger dan akuisisi perusahaan, ikut bermain saham-obligasi-produk keuangan lainnya, mengelola aset reksadana triliunan dolar AS. Singkat kata: Morgan Stanley adalah pemain pasar keuangan internasional.
Nah MSCI adalah awalnya bagian dari Morgan Stanley. Namun di tengah jalan, melepaskan diri dan menjadi entitas bisnis sendiri. Apa sih tugas MSCI? Ssderhananya: pembuat rapor pasar saham dunia. Mereka bikin indeks saham global, menilai peluang investasi di seluruh negara, menentukan standar transparansi, likuiditas dan akses pasar.
Karena itu, bilamana MSCI ngomong, maka pasar mendengarkan dengan saksama, karena investor menganggap standar MSCI adalah salah satu yang terbaik. Kalau MSCI kasih sinyal negatif ke negara atau pasar saham, maka dana investor triliunan dolar AS bisa pindah, rem mendadak, atau menahan diri.
Nah, sekarang analogi sederhananya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seperti sebuah rumah konten kreator yang isinya influencer (saham-saham emiten). Selama ini rating rumah konten kreator IHSG bagus banget, selalu tinggi. Karena ada 'top influencer' (saham big cap tertentu) yang follower nya jutaan dan engagement-nya gila-gilaan. Harga endorse mereka ini mahal banget.
Masuklah MSCI sebagai agensi internasional super elit yang mengatur standar siapa influencer yang layak dapat endorse global (dana asing). Tapi MSCI mencium ada bau yang aneh dari rumah IHSG. "Eh, kok ada top influencer di rumah ini yang followers nya kayak bot semua. Valuasi (saham) ketinggian yang aslinya nggak seterkenal itu deh (free float saham publik padahal sedikit).
MSCI menganggap ada red flag di IHSG. Dia kirim surat ke pengelola rumah konten kreator (IDX). Nadanya mengancam untuk blacklist atau menurunkan ranking rumah kreator ini. Gara-gara ini dan belum ada tindakan dari IDX terkait pernyataan MSCI, maka investor asing yang tadinya mau endorse di rumah IGSG jadi 'fomo' cabut (jual saham) karena takut ada tipu-tipu. Inilah sentimen negatif yang membuat indeks dalam dua hari anjlok dari tadinya 8.900 poin ke 7.500 poin, sebelum akhirnya rebound kembali.
Red flag yang disebut MSCI ini adalah 'saham gorengan' yang kemarin juga disebut oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ini macam influencer biasa saja, yang disuntik followers palsu (harga saham dinaikkan) biar kelihatan hype. Tapi saat diaudit MSCI, ketahuan itu bubble dan manipulatif secara harga dan pemilik.
Efek kejut ini memang bikin investor pusing. Harga saham ambruk. Dirut BEI mundur. Tapi juga bikin otoritas saham bersih-bersih kembali dari saham gorengan dan data-data pemegang sahamnya. Sementara fundamental ekonomi Indonesia yang tercermin di bursa efek, diyakini Menkeu Purbaya maupun Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tetap kuat.
Artikel ini dibuat dengan bantuan akal imitasi dan melewati proses penyuntingan redaksi.
Kenapa Bursa Efek Indonesia Dua Hari Ini Ambruk? Simak Penjelasan Sederhananya
Otoritas terkait berkomitmen memperbaiki penyajian data pemegang saham. [431] url asal
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Awan hitam masih menggantung di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di hari kedua setelah adanya pernyataan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) kemarin. Pada Kamis (29/1/2026), IHSG dibuka di level 8.027 poin langsung terseret ke bawah akibat investor terutama asing melepas saham-saham blue chips. Dalam 20 menit perdagangan, indeks sudah terkapar di 7.730 poin, langsung dibekukan oleh otoritas selama 30 menit.
Apa sebenarnya yang terjadi di bursa saham dalam dua hari ini? Berikut analogi sederhana untuk menggambarkan situasinya:
Kita bisa bayangkan pasar saham itu sebagai sebuah gedung apartemen besar. Perusahaan tercatat atau emiten adalah unit-unit. Para pemegang saham dengan demikian adalah para penghuni unit apartemen. Pengelola apartemennya adalah IDX alias otoritas bursa. Sementara Kustodian Sentral Efek Indonesia adalah kantor administrasi yang mengurusi dan menyimpan data penghuni. Investor dalam dan luar negeri adalah orang yang ingin membeli atau menyewa unit apartemennya.
Nah, selama ini daftar penghuni apartemen memang sudah ada dan tersimpan baik. Tapi memang diakui tidak semua ditel penghuni apartemen dipajang di papan pengumuman. Yang ditampilkan menyerupai ringkasan: berapa unit terisi, siapa pemilik utama apartemennya, bagaimana kondisi apartemen nya.
Lalu datang pihak luar (MSCI) yang mengatakan, "Kalau daftar penghuninya tidak ditampilkan lebih rinci dan seragam, orang bisa ragu loh, siapa sih yang sebenarnya tinggal di sini."Pernyataan MSCI ini juga mengacu pada aturan publikasi free float yang masih berlaku di IDX. Free float adalah terminologi untuk menggambarkan porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik.
Atau dalam analogi apartemen itu adalah unit apartemen yang benar-benar boleh dijual beli sewa milik publik. Gara-gara pernyataan MSCI ini, maka sentimen negatif dan kekhawatiran merebak. MSCI ini bisalah disebut sebagai pasar besar apartemen di luar negeri yang tugasnya ikut mendata unit-unit di berbagai negara untuk keperluan sewa beli investor.
Pernyataan MSCI tersebut mendorong calon penghuni dan investor jadi khawatir. Karena khawatir maka sebagian memilih menunda masuk ke apartemen IDX, atau bahkan yang tadinya sudah membeli apartemen, menjualnya kembali karena krisis kepercayaan. Ini memicu harga unit apartemen (saham) langsung melorot dalam dua hari ini.
Kalau begitu, apa yang tengah dilakukan otoritas dan KSEI? Pada intinya data emiten itu tetap ada dan valid. Tidak ada kehilangan data. Yang sedang dilakukan adalah menata ulang cara menyampaikan daftar penghuni agar lebih mudah dipahami MSCI atau pihak luar. Kemudian otoritas bursa juga menyelaraskan standar keterbukaan data itu agar sesuai dengan praktik global tanpa melanggar aturan perlindungan data. Dan tentu saja berkomunikasi aktif dengan investor dan MSCI agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Intinya: Apartemennya tetap berdiri, penghuninya tetap ada. Yang diperbaiki adalah papan informasi, bukan fondasi gedung apartemen.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56