Bisnis.com,BANDUNG—Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Jawa Barat menjadi 4,4 pada 2030 untuk meningkatkan efisiensi investasi.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Barat (DPMPTSP) Jawa Barat, Dedi Taufik, mengatakan saat ini angka ICOR Jabar sebesar 4,8. Angka tersebut mencerminkan kondisi investasi Jabar yang relatif produktif dibandingkan rata-rata nasional.
“ICOR 4,8 menunjukkan investasi yang masuk ke Jawa Barat cukup efisien dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, kami tidak berhenti di sini. Target kami adalah meningkatkan kualitas investasi agar lebih produktif dan berdampak luas,” ujar Dedi Taufik di Bandung, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, struktur ekonomi Jawa Barat yang ditopang sektor industri pengolahan menjadi faktor utama efisiensi tersebut. Kawasan industri di wilayah Karawang, Bekasi, dan Purwakarta berkontribusi besar terhadap pembentukan PDRB. Selain itu, dukungan infrastruktur seperti jalan tol dan konektivitas logistik memperkuat daya tarik investasi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan penurunan ICOR secara bertahap hingga mencapai 4,4 pada 2030. Target tersebut mencerminkan komitmen daerah untuk meningkatkan kualitas investasi dan memperkuat hilirisasi industri.
“Kami mendorong investasi yang memiliki nilai tambah tinggi, berbasis teknologi, dan menciptakan lapangan kerja. Dengan strategi itu, kami optimistis ICOR bisa ditekan menjadi 4,4 pada 2030,” katanya.
Ia menambahkan, reformasi perizinan, percepatan layanan berbasis digital, serta kepastian regulasi menjadi fokus utama untuk menjaga tren penurunan ICOR. Sebagai ilustrasi, jika Jawa Barat menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen dengan ICOR 4,8, kebutuhan investasi berada di kisaran 28%–29% dari PDRB.
“Peningkatan Investasi merupakan kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi seiring dengan peningkatan kapasitas ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat di tengah keterbatasan pendanaan dalam negeri,” ujarnya.
Namun jika ICOR berhasil ditekan menjadi 4,4, kebutuhan investasi untuk mencapai pertumbuhan yang sama akan turun menjadi sekitar 26–27 % dari PDRB. Meski demikian, Dedi menilai perlambatan ekonomi global, dinamika geopolitik, serta perubahan rantai pasok dunia dapat memengaruhi realisasi investasi. Karena itu, peningkatan kualitas belanja modal dan arah investasi yang tepat sasaran menjadi kunci.
“Bagi kami, bukan hanya angka investasi yang penting, tetapi seberapa besar investasi tersebut menghasilkan output ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dedi Taufik.