#30 tag 24jam
Mutiara Baswedan Lulus dari Harvard, Anies Ungkap Perjuangan Sang Putri
Keluarga Anies Baswedan tengah berbahagia. Putri sulungnya, Mutiara Annisa Baswedan resmi menyelesaikan pendidikan magisternya di Harvard Graduate School of Education,... | Halaman Lengkap [366] url asal
#anies-baswedan #kuliah-s2 #anies #harvard-university #mutiara-annisa-baswedan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 31/05/26 07:00
v/235957/
JAKARTA - Keluarga Anies Baswedan tengah berbahagia. Putri sulungnya, Mutiara Annisa Baswedan atau yang akrab disapa Tia, resmi menyelesaikan pendidikan magisternya di Harvard Graduate School of Education, Amerika Serikat.Momen membanggakan tersebut dibagikan langsung oleh Anies Baswedan melalui akun Instagram pribadinya @aniesbaswedan, dikutip Minggu (31/5/2026).
Dalam unggahannya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengungkapkan rasa syukur saat menyaksikan sang putri menerima ijazah Master of Education dari salah satu universitas terbaik di dunia.
"Memanjatkan rasa syukur tak terhingga ketika menyaksikan Tia naik ke atas panggung wisuda di Harvard, menerima ijazah sambil menggendong Ibrahim, lalu Ali berdiri menyambut di samping panggung," tulis Anies dalam unggahannya.
Anies mengenang perjalanan putrinya selama menempuh studi di Cambridge, Massachusetts. Setahun sebelumnya, Tia dan dan sang suami, Ali Saleh Alhuraiby, berangkat ke Amerika Serikat bersama anak mereka yang saat itu baru berusia satu bulan.
Menurut Anies, menjalani peran sebagai orang tua baru di negara asing sekaligus menempuh pendidikan magister di Harvard bukanlah perkara mudah. Namun, pasangan muda tersebut berhasil melewati berbagai tantangan hingga akhirnya menyelesaikan studi dengan baik.
"Alhamdulillah, masa penuh perjuangan itu tuntas mereka lalui. Ijazah Master of Education dari Harvard Graduate School of Education yang diterima hari ini adalah simbol pencapaian akademik, yang di baliknya ada harga kesabaran, kerja sama, dan keteguhan yang mereka bertiga harus bayar sebagai keluarga muda," lanjutnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan doa dan dukungan kepada Tia dan Ali selama menjalani kehidupan dan studi mereka di Amerika Serikat.
Ia berharap pengalaman belajar di Harvard dapat menjadi bekal berharga bagi putrinya untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa Indonesia di masa mendatang.
"Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup mereka ke depan, serta ilmu yang didapat bisa menjadi bekal kontribusi Tia dan Ali bagi bangsa dan bagi lingkungan di sekitar mereka. Aamiin yra," tulis Anies.
Unggahan tersebut pun mendapat banyak respons positif dari warganet yang turut mengucapkan selamat atas pencapaian akademik Mutiara Baswedan.
"Welcome to the Club, Kiddo! Very proud of you..????????," tulis putri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid.
"???????????? proud of you @mutiarabaswedan," penyanyi Rossa pun turut menyampaikan selamat.
"MasyaAllah, mantab tiaa????????????❤️," artis multitalenta Chiki Fawzi pun turut menyampaikan selamat di kolom komentar.
Bohongi AS, Ilmuwan Harvard Justru Bantu China Membangun 'Tentara Super'
Charles Lieber pernah dihukum pengadilan AS karena berbohong kepada otoritas AS tentang pembayaran dari China saat dia berada di Universitas Harvard. Seorang ilmuwan... | Halaman Lengkap [1,731] url asal
#amerika-serikat #harvard-university #china #tentara-super #ilmuwan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/05/26 14:06
v/208580/
WASHINGTON - Seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS), yang dihukum karena berbohong kepada otoritas AS tentang pembayaran dari China saat dia berada di Universitas Harvard, telah membangun kembali laboratorium penelitiannya di Shenzhen. Risetnya itu untuk mengejar teknologi yang telah diidentifikasi pemerintah China sebagai prioritas nasional, yakni menanamkan elektronik ke dalam otak manusia—yang dikenal sebagai proyek "tentara super".Charles Lieber (67) adalah salah satu peneliti terkemuka dunia dalam "brain-computer interfaces". Teknologi ini telah menunjukkan potensi dalam mengobati kondisi seperti ALS [Amyotrophic Lateral Sclerosis] dan memulihkan gerakan pada pasien lumpuh.
Menurut Departemen Perang AS, hebatnya, teknologi tersebut juga memiliki potensi aplikasi militer, di mana para ilmuwan di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah menyelidiki "brain interfaces" sebagai cara untuk merekayasa prajurit super dengan meningkatkan ketangkasan mental dan kesadaran situasional.
Lieber dinyatakan bersalah oleh hakim dan dihukum pada Desember 2021 karena membuat pernyataan palsu kepada penyelidik federal tentang hubungannya dengan program negara China untuk merekrut talenta luar negeri, dan pelanggaran pajak terkait pembayaran yang dia terima dari sebuah universitas di China.
Dia menjalani hukuman dua hari penjara dan enam bulan tahanan rumah, serta didenda USD50.000 dan diperintahkan untuk membayar ganti rugi sebesar USD33.600 kepada Dinas Pajak Internal. Selama persidangan, pembelaannya mengatakan bahwa dia menderita limfoma yang tidak dapat disembuhkan, yang saat itu sedang dalam masa remisi, dan dia sedang berjuang untuk hidupnya.
Tiga tahun setelah dijatuhi hukuman, Reuters mengetahui bahwa Lieber sekarang mengawasi i-BRAIN yang didanai negara China, atau Institute for Brain Research, Advanced Interfaces and Neurotechnologies, dengan akses ke peralatan nanofabrikasi khusus dan infrastruktur penelitian primata yang tidak tersedia baginya di Universitas Harvard. Laboratorium tersebut merupakan bagian dari Shenzhen Medical Academy of Research and Translation atau SMART.
"Saya tiba pada 28 April 2025 dengan sebuah mimpi dan tidak banyak lagi, mungkin beberapa tas pakaian," kata Lieber tentang kepindahannya ke China pada konferensi pemerintah Shenzhen pada bulan Desember. "Secara pribadi, tujuan saya adalah menjadikan Shenzhen sebagai pemimpin dunia."
Lieber, melalui seorang asisten, menolak permintaan wawancara, dengan alasan "komitmen saat ini". Dia tidak menanggapi pertanyaan tertulis dari Reuters.
SMART tahun lalu menunjuk Lieber sebagai investigator, menurut sebuah unggahan di situs web i-BRAIN tertanggal 1 Mei 2025. Berita itu diliput oleh beberapa media. Pada hari yang sama, i-BRAIN mengatakan Lieber juga telah diangkat sebagai direktur pendirinya—sebuah pengumuman yang tidak dilaporkan pada saat itu.
Kisah ini adalah laporan paling komprehensif tentang aktivitas Lieber sejak dia pindah ke China. Reuters melaporkan untuk pertama kalinya bahwa laboratoriumnya memiliki akses ke fasilitas penelitian primata khusus dan peralatan pembuatan chip; bahwa laboratorium tersebut berada dalam ekosistem luas lembaga-lembaga yang didukung negara.
Didukung oleh pendanaan pemerintah senilai miliaran dolar, laboratorium tersebut berada di dalam sebuah institusi yang menarik kembali talenta ilmiah terbaik dari Amerika Serikat.
Pada tahun 2011, Lieber dinobatkan sebagai ahli kimia terbaik dunia dekade sebelumnya dalam serangkaian peringkat ilmiah yang diterbitkan oleh Thomson Reuters, perusahaan induk dari kantor berita Reuters. Thomson Reuters, yang pada tahun 2016 menjual bisnis yang menyusun peringkat tersebut, menolak untuk berkomentar.
Beberapa analis mengatakan kemampuan Lieber untuk membangun kembali laboratoriumnya setelah hukuman pidana federal karena berbohong tentang hubungannya dengan China menunjukkan bagaimana pengamanan AS terhadap teknologi dengan potensi penggunaan militer belum sejalan dengan upaya pemerintah China untuk memperolehnya. Kekhawatiran itu diperkuat karena strategi fusi militer-sipil Beijing, di mana sumber daya dan penelitian ilmiah sipil dibagi dengan militer.
"China telah mempersenjatai keterbukaan dan upaya inovasi kita sendiri terhadap kita," kata Glenn Gerstell, penasihat senior non-residen di Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan mantan penasihat umum Badan Keamanan Nasional AS dari tahun 2015 hingga 2020.
"Mereka telah membalikkan keadaan dan menggunakannya untuk melawan kita, dan mereka memanfaatkannya," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Jumat (1/5/2026).
Kementerian Sains dan Teknologi serta Kementerian Pertahanan China tidak menanggapi pertanyaan tentang pengembangan "brain-computer interfaces" China. SMART dan i-BRAIN juga tidak menanggapi permintaan komentar tentang penelitian mereka dan perekrutan Lieber.
Penelitian Primata
Tempat baru Lieber tampaknya memberinya sumber daya yang lebih kaya daripada yang dimilikinya di Amerika Serikat.
Di Shenzhen, i-BRAIN pada bulan Februari memasang sistem litografi ultraviolet dalam yang dibuat oleh raksasa peralatan semikonduktor ASML, menurut situs web laboratorium tersebut. Mesin perusahaan Belanda tersebut mencetak sirkuit kecil yang penting untuk chip canggih.
Di Harvard, Lieber menggunakan peralatan litografi bersama di Pusat Sistem Nanoscale universitas tersebut. Pusat tersebut melayani lebih dari 1.600 pengguna setiap tahunnya, menurut situs webnya.
Model i-BRAIN tertinggal dua generasi dari mesin yang terbatas, tetapi kemungkinan masih akan berharga sekitar USD2 juta, menurut Jeff Koch dari perusahaan riset semikonduktor SemiAnalysis.
ASML mengatakan kepada Reuters bahwa mereka tidak akan berkomentar secara publik tentang pelanggan mereka.
Di kampus yang sama, Lieber juga memiliki akses ke Brain Science Infrastructure (BSI) Shenzhen, sebuah laboratorium penelitian dengan 2.000 kandang primata dan ruang khusus untuk pekerjaan i-BRAIN, menurut situs webnya. Banyak peneliti di bidang ini menganggap uji coba primata sebagai prasyarat untuk uji coba pada manusia untuk "brain-computer interfaces" invasif.
Fasilitas BSI merupakan bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan China dan didanai oleh pemerintah Shenzhen. Tidak satu pun dari mereka yang menanggapi pertanyaan tentang teknologi "brain-computer interfaces" dan peran penelitian primata dalam pengembangannya.
Menurut unggahan di situs web i-BRAIN pada September 2025, peneliti domestik dan internasional sedang direkrut untuk studi elektrofisiologi pada monyet rhesus sebagai model untuk "brain-computer interfaces" manusia, dan mengundang calon pelamar untuk menghubungi Lieber.
Tidak ada indikasi bahwa Lieber melakukan penelitian primata di Harvard. Universitas elite Massachusetts tersebut menutup Pusat Penelitian Primata New England pada tahun 2015 karena tekanan berkelanjutan terkait kesejahteraan hewan dan tantangan pendanaan.
Jung Min Lee, seorang peneliti yang ikut menulis makalah nanofabrikasi bersama Lieber di Harvard, telah bergabung dengannya di i-BRAIN sebagai profesor riset, menurut situs webnya. Lee, yang tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar, adalah seorang ahli dalam menjahit elektronik fleksibel ke dalam jaringan otak.
Harvard tidak menanggapi pertanyaan Reuters tentang Lieber dan Lee.
John Donoghue, seorang profesor Universitas Brown dan ahli saraf yang mempelopori sistem "brain-computer interfaces" yang dikenal sebagai BrainGate, mengatakan bahwa penelitian pada primata "sangat penting" dalam menerjemahkan teknologi interfaces saraf ke manusia, tetapi menghadapi hambatan regulasi dan pendanaan di Amerika Serikat.
"Dengan begitu banyak kendala dalam penelitian primata non-manusia di sini, memiliki seseorang yang memberi Anda semua dukungan ini, akses ke teknologi, pusat yang terkonsentrasi, inisiatif nasional—ini adalah hal-hal yang sangat menarik," katanya kepada Reuters.
Anggaran SMART tahun 2026, yang sepenuhnya didanai oleh pemerintah Shenzhen, meningkat hampir 18% menjadi sekitar USD153 juta. Dokumen anggaran akademi tidak menunjukkan proporsi pendanaan tersebut yang dialokasikan untuk i-BRAIN.
SMART didirikan pada tahun 2023 di bawah presiden pendiri Nieng Yan, seorang ahli biologi struktural. Kepulangannya ke China setahun sebelumnya setelah lima tahun di Universitas Princeton disambut di media domestik sebagai kepulangan seorang "dewi ilmuwan". Yan dan Princeton tidak menjawab pertanyaan Reuters tentang perannya di Shenzhen dan perekrutan Lieber.
Di samping SMART, terdapat Shenzhen Bay Laboratory yang secara hukum terpisah tetapi secara fungsional kembar, yang diluncurkan pada tahun 2019 dengan anggaran lima tahun dari pemerintah Shenzhen sekitar USD2 miliar. Keduanya berbasis di Guangming Science City, pusat sains nasional dengan taman dan jalur air yang terawat rapi. Kedua institusi tersebut berbagi kepemimpinan dan kantor yang sama, dan juga akan menempati lahan seluas 750.000 meter persegi yang sedang dibangun dengan biaya yang direncanakan sebesar USD1,25 miliar. Laboratorium Shenzhen Bay tidak menanggapi permintaan komentar.
Rambu-rambu yang mengarahkan pengunjung ke lokasi SMART bertuliskan slogan: "Berinovasi dengan Partai". Seorang reporter Reuters ditolak aksesnya ke kantor i-BRAIN saat mencoba mengirimkan surat kepada Lieber.
Lieber bergabung dengan setidaknya enam orang lainnya yang telah pindah ke SMART dari institusi AS, meskipun semuanya adalah peneliti kelahiran China yang kembali ke tanah air.
China menetapkan teknologi "brain-computer interfaces" sebagai prioritas pertumbuhan nasional dalam rencana lima tahun barunya pada Maret 2026. Zheng Shanjie, kepala Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China, mengatakan pada bulan Oktober bahwa munculnya "brain-computer interfaces" dan teknologi terkait akan setara dengan menciptakan sektor teknologi tinggi China lainnya dalam 10 tahun ke depan.
Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan AS (DARPA) juga berinvestasi dalam "brain-computer interfaces" untuk aplikasi drone dan pertahanan siber, menurut deskripsi program badan tersebut.
Proyek penelitian yang dipimpin oleh Lieber di Harvard menerima pendanaan lebih dari USD8 juta dari Departemen Pertahanan sejak tahun 2009, menurut dokumen pengadilan. Pentagon tidak menanggapi pertanyaan tentang penggunaan militer teknologi tersebut dan peran Lieber di Shenzhen.
Bersaing untuk Hadiah Nobel
Hukuman Lieber pada tahun 2021 adalah salah satu dari sedikit kemenangan bagi Inisiatif China Departemen Kehakiman AS, yang diluncurkan selama pemerintahan Trump pertama untuk melawan spionase ekonomi dan pencurian kekayaan intelektual China. Inisiatif tersebut dihentikan di bawah Presiden Joe Biden setelah serangkaian kegagalan dan kritik atas profil rasial.
Meskipun masih dalam pengawasan, Lieber memperoleh persetujuan pengadilan untuk setidaknya tiga perjalanan ke China pada tahun 2024, termasuk satu perjalanan yang diberikan oleh Hakim Distrik AS Denise Casper untuk "jaringan pekerjaan", menurut dokumen pengadilan. Hakim Casper tidak menanggapi permintaan komentar.
Tim pembela Lieber mengatakan dalam memorandum pra-hukuman pada tahun 2023 bahwa ilmuwan tersebut menderita limfoma dan sebagian besar terkurung di rumahnya, hanya keluar untuk janji temu medis, jalan-jalan singkat, dan kunjungan sesekali ke pertanian setempat. Selama 30 tahun kariernya di Harvard, dia menghabiskan lebih dari 80 jam seminggu di laboratorium, dan ketika tidak bekerja, Lieber menghabiskan waktu "melatih gulat, dan menanam labu raksasa di halaman belakang," menurut pembelaannya.
Lieber mengakui bahwa dia "masih muda dan bodoh" karena terlibat dalam Program Seribu Talenta China, inisiatif yang didukung negara untuk merekrut para ahli dari luar negeri, kata pengacaranya kepada pengadilan pada tahun 2021. Ketika dia ditangkap pada tahun 2020, Lieber mengatakan kepada agen FBI bahwa dia "ingin memenangkan Hadiah Nobel" dan diakui atas karyanya, menurut jaksa penuntut.
FBI menolak berkomentar dan Departemen Kehakiman tidak menanggapi pertanyaan. Kasus Lieber menggambarkan kegagalan kebijakan AS yang lebih luas, kata beberapa analis.
"Jika Anda menganggapnya sebagai vektor akuisisi teknologi yang bertentangan dengan kepentingan AS, kita telah mengidentifikasinya, menghukumnya, dan itu tidak menghentikan tren gambaran besar," kata Emily de La Bruyere, salah satu pendiri konsultan Horizon Advisory yang berfokus pada China dan peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies yang berbasis di Washington, sebuah lembaga penelitian nirlaba yang dianggap agresif dalam kebijakan luar negeri.
Gerstell, mantan pejabat AS, menggambarkan Lieber sebagai "Bukti A" tentang bagaimana alat hukum AS tidak memadai.
"Ini adalah orang yang dihukum karena hal yang persis sama dengan yang kita inginkan agar dia dihukum dalam konteks ini, namun begitu dia dibebaskan dari tahanan rumah, dia langsung pergi ke China," katanya.
Kepala BPOM Bahas Dampak Dampak Kesehatan Global di Harvard Medical School
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar jadi pembicara di forum akademik global Harvard Medical School Amerika Serikat pada 30-31 Maret 2026.... | Halaman Lengkap [468] url asal
#masalah-kesehatan #bpom #forum-internasional #harvard-university #taruna-ikrar
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/04/26 13:25
v/178734/
JAKARTA - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menjadi pembicara dalam forum akademik global Harvard Medical School, Amerika Serikat pada 30-31 Maret 2026. Dia diundang oleh Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear Department of Ophthalmology at Harvard Medical School.Taruna Ikrar membawakan topik strategis bertajuk “Global Burden of GBS Diseases & Vaccine Platforms Challenges”, yang mengupas kompleksitas beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) serta tantangan pengembangan platform vaksin modern. Kehadirannya di Harvard bukan sekadar forum akademik, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas keilmuan sekaligus representasi Indonesia dalam percaturan kesehatan global.
“Ini saya rasakan sebagai sebuah pengakuan atas keahlian dan kepakaran yang saya miliki, sekaligus menjadi kebanggaan, baik atas nama keluarga maupun atas nama lembaga negara di Indonesia,” ujar Taruna Ikrar dalam keterangannya, Rabu, (1/4/2026).
Taruna menambahkan, Harvard sebagai salah satu institusi akademik terbaik dunia menjadi ruang penting dalam membentuk arah kebijakan kesehatan global berbasis sains.
Bahas Penyakit Langka hingga Vaksin Modern
Dalam paparannya, Taruna Ikrar akan mengangkat dua isu besar yang saat ini menjadi perhatian dunia. Pertama, beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS), yakni gangguan saraf langka yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Meski prevalensinya relatif rendah, dampaknya sangat signifikan terhadap sistem kesehatan, terutama karena membutuhkan perawatan intensif dan biaya tinggi.Kedua, tantangan pengembangan platform vaksin modern, termasuk teknologi mRNA, viral vector, dan protein subunit.
Perkembangan pesat teknologi ini membuka peluang percepatan inovasi, namun juga menuntut penguatan aspek keamanan jangka panjang, distribusi yang merata, serta peningkatan kepercayaan publik.
Dalam konteks ini, Taruna menekankan pentingnya keseimbangan antara percepatan inovasi dan prinsip kehati-hatian ilmiah. “Regulator tidak lagi hanya menjadi penjaga gerbang, tetapi harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik secara simultan,” tegasnya.
Diskursus yang diangkat Taruna Ikrar juga menegaskan transformasi peran lembaga regulator seperti BPOM, dari sekadar otoritas persetujuan produk menjadi aktor strategis dalam ekosistem kesehatan global. Hal ini sejalan dengan capaian BPOM yang telah meraih status WHO Listed Authority (WLA), yang memperkuat posisi Indonesia sebagai rujukan global dalam pengawasan obat dan makanan.
Dalam konteks nasional, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan tantangan geografis yang kompleks, Indonesia dituntut memiliki sistem regulasi yang adaptif, berbasis sains, serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Indonesia dari Objek Menjadi Kontributor Global Keterlibatan Taruna Ikrar dalam forum akademik di Harvard juga mencerminkan pergeseran posisi Indonesia di tingkat global dari sebelumnya sebagai objek kebijakan menjadi kontributor aktif dalam pembentukan wacana kesehatan dunia.
Partisipasi ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kapasitas nasional, mulai dari riset, regulasi, hingga industri farmasi. Lebih jauh, kehadiran Indonesia di forum ilmiah kelas dunia membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks.
Ke depan, tegas Taruna tantangan terbesar bukan lagi sekadar hadir dalam forum global, tetapi bagaimana Indonesia mampu mengambil peran dalam menentukan arah kebijakan kesehatan dunia berbasis kekuatan sains, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Cerita Agatha Chelsea yang Diterima S2 di Harvard, Columbia, NYU, dan NUS
Penyanyi sekaligus aktris Indonesia Agatha Chelsea mengumumkan sukses diterima di program magister dari dua institusi pendidikan paling bergengsi di dunia, Harvard... | Halaman Lengkap [310] url asal
#penyanyi #agatha-chelsea #national-university-of-singapore #harvard-university #columbia-university
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/03/26 11:11
v/168093/
JAKARTA - Penyanyi sekaligus aktris Indonesia Agatha Chelsea mengumumkan sukses diterima di program magister (S2) dari4 universitas terbaik dunia. Dua kampus terbaik Amerika dan ada satu di Singapura, lalu kampus mana yang akan dipilih Agatha?4 universitas yang berhasil ditembus Agatha adalah Harvard Graduate School of Education dan Teachers College, Columbia University,New York University dan National University of Singapore.
Pelantun lagu Lebih Baik Darinya mengungkapkan bahwa keputusan untuk melanjutkan studi tidak datang secara instan. Setelah menyelesaikan studi sarjananya, ia memilih untuk lebih dulu terjun ke dunia kerja sebelum kembali ke dunia akademik.
“Sejak menyelesaikan studi sarjana, sebenarnya ada bagian dari diri saya yang tahu bahwa saya ingin terus belajar. Namun setelah mempertimbangkannya, saya memutuskan untuk tidak langsung kembali ke bangku kuliah dan memilih bekerja terlebih dahulu,” ujar Chelsea, dikutip Rabu (18/3/2026).
Setelah menyelesaikan studi sarjana di University of Melbourne, Chelsea meraih gelar Bachelor of Science di bidang Neuroscience dan Psychology dengan prestasi akademik yang sangat baik. Latar belakang tersebut membentuk ketertarikannya pada hubungan antara otak, teknologi, dan cara manusia belajar.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya menemukan arah yang semakin jelas dalam perjalanan akademiknya.
“Pada masa itu juga saya menemukan arah yang terasa sangat bermakna bagi saya, yaitu menjembatani learning science dan media. Memahami bagaimana manusia belajar, lalu menerjemahkan pemahaman itu menjadi storytelling dan hiburan yang dapat membantu orang berpikir dan berkembang,” tambahnya.
Dalam proses pendaftaran, Chelsea mengaku sempat merasa ragu untuk melamar ke universitas yang selama ini menjadi impiannya. Ia mengatakan mulanya tak berharap banyak usai memutuskan mendaftarkan diri di sejumlah kampus top dunia.
“Sejujurnya saya tidak terlalu berharap banyak. Karena itu saya memutuskan untuk mendaftar ke empat universitas, agar memiliki lebih banyak kemungkinan,” ungkapnya.
Saat ini, Chelsea tengah mempertimbangkan pilihan universitas yang akan menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan akademiknya.
“Sekarang muncul pertanyaan baru yang akan menentukan bab berikutnya dalam perjalanan saya: kota mana, universitas yang mana,” tambahnya.
Beasiswa Akselerasi LPDP 2026 Dibuka, Kuliah di Oxford hingga MIT Gratis
Program Beasiswa Akselerasi pada Universitas Unggulan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi dibuka mulai 6–27 Maret 2026. Program Beasiswa Akselerasi... | Halaman Lengkap [477] url asal
#universitas-terbaik #beasiswa-lpdp #university-of-oxford #harvard-university #lpdp
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/03/26 19:48
v/159601/
JAKARTA - Program Beasiswa Akselerasi pada Universitas Unggulan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ( LPDP ) resmi dibuka mulai 6–27 Maret 2026. Berikut informasinya.Program ini memberikan kesempatan bagi talenta terbaik Indonesia untuk menempuh studi magister maupun doktor di berbagai universitas top dunia melalui proses seleksi yang lebih cepat.
Beasiswa LPDP ini dirancang untuk mempercepat proses seleksi, memperluas akses pendidikan global, serta meningkatkan representasi mahasiswa Indonesia di institusi pendidikan tinggi terbaik dunia.
Melalui program ini, dikutip dari Instagram LPDP, Senin (9/3/2026), penerima beasiswa berkesempatan menempuh pendidikan di kampus-kampus bergengsi seperti University of Oxford, University of Cambridge, Massachusetts Institute of Technology, Stanford University, hingga Harvard University. Selain itu, terdapat pula universitas ternama di Asia seperti University of Tokyo dan Tsinghua University.
Program Beasiswa Akselerasi LPDP terbuka bagi masyarakat umum maupun aparatur negara seperti CPNS, PNS, TNI, dan Polri. Salah satu keunggulan program ini adalah pendaftar tidak diwajibkan mengikuti Seleksi Bakat Skolastik (SBS).
Untuk jenjang pendidikan, batas usia pendaftar maksimal 35 tahun untuk program magister dan 40 tahun untuk program doktor. Lulusan D4 atau S1 juga dapat langsung mendaftar ke jenjang doktor tanpa harus memiliki LoA Unconditional saat pendaftaran awal.
Khusus untuk program magister, pendaftar wajib memiliki LoA Unconditional dari perguruan tinggi tujuan. Namun tidak ada batas nilai maksimal IPK maupun persyaratan sertifikat kemampuan bahasa Inggris.
Sementara itu, pada jenjang doktor, pendaftar yang telah memiliki LoA Unconditional tidak diwajibkan memenuhi batas minimal IPK maupun sertifikat bahasa Inggris. Bagi pendaftar yang belum memiliki LoA Unconditional, diwajibkan melampirkan bukti pendaftaran ke maksimal tiga perguruan tinggi tujuan, dengan IPK minimal 3,24 serta sertifikat kemampuan bahasa Inggris seperti TOEFL iBT minimal 94, PTE Academic 65, atau IELTS minimal 7,0.
Proses seleksi dalam program ini terdiri dari seleksi administrasi dan seleksi substansi. Peserta yang lolos akan berkesempatan memulai perkuliahan paling cepat pada Juli 2026.
Program Beasiswa Akselerasi pada Universitas Unggulan diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Indonesia untuk belajar di ekosistem akademik kelas dunia dan kembali berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Informasi lengkap mengenai ketentuan dan persyaratan dapat diakses melalui buku panduan di situs resmi LPDP.
Lini Masa Seleksi Beasiswa Akselerasi pada Universitas Unggulan
Pendaftaran: 6–27 Maret 2026Seleksi Administrasi: 30 Maret–8 April 2026
Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi: 9 April 2026
Pengajuan Sanggah: 10–12 April 2026
Pengumuman Hasil Sanggah: 20 April 2026
Seleksi Substansi: 22–30 April 2026
Penyampaian LoA Unconditional ke LPDP: 11–12 Mei 2026
Pengumuman Hasil Seleksi Substansi: 20 Mei 2026
Perkuliahan Paling Cepat: Juli 2026
Daftar Perguruan Tinggi dalam Program Beasiswa Akselerasi pada Universitas Unggulan
Asia
- Tsinghua University- University of Tokyo
Eropa
- Imperial College London- University of Cambridge
- University of Oxford
- Technical University of Munich
- Université Paris Sciences & Lettres
- London School of Economics and Political Science
Amerika
- California Institute of Technology (Caltech)- Cornell University
- Harvard University
- Johns Hopkins University
- Massachusetts Institute of Technology (MIT)
- Princeton University.
- Stanford University
- University of California, Berkeley
- Babson College.
Delegasi SMA Labschool Jakarta Kembali Wakili Indonesia di HMUN 2026 Harvard
Delegasi siswa dari SMA Labschool Jakarta kembali berpartisipasi dalam simulasi sidang PBB Harvard Model United Nations (HMUN) di Boston, Massachusetts, Amerika... | Halaman Lengkap [528] url asal
#simulasi #sidang-umum-pbb #harvard-university #sma-labschool
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/02/26 09:39
v/126380/
JAKARTA - Delegasi siswa dari SMA Labschool Jakarta kembali berpartisipasi dalam simulasi sidang PBB Harvard Model United Nations (HMUN). HMUN tahun ini digelar pada 29 Januari – 1 Februari 2026 di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. HMUN adalah konferensi dan kompetisi tahunan yang dihelat Universitas Harvard.SMA Labschool Jakarta mengirimkan 20 siswa kelas XI dengan pendamping Rinawati, Aditya Nugraha, dan Doni Zain. Sebagai salah satu konferensi MUN terbesar dan tertua di dunia, HMUN 2026 mempertemukan lebih dari 3.500 delegasi siswa tingkat SMP dan SMA berasal dari 60 negara.
Pihak sekolah dan para siswa berharap program ini dapat membawa harapan besar untuk membuktikan kapasitas siswa dalam forum diplomasi global bergengsi. Dalam HMUN, siswa dituntut tidak hanya memahami isu global, tetapi juga mampu berargumentasi, public speaking, bernegosiasi, dan membangun konsensus dalam simulasi sidang PBB.
Badru Zaman, Kepala SMA Labschool Jakarta mengatakan, partisipasi rutin SMA Labschool Jakarta dalam HMUN untuk memberi pengalaman ajang kompetisi global kepada siswa. Selain bisa menambah ilmu pengetahuan, pertemanan, interaksi budaya lintas negara, para siswa juga diuji kompetensi, skill dalam bersidang, berdebat, dan lainnya.
“Para siswa alhamdulillah banyak prestasi di dalam negeri, maka harapannya mereka tak hanya jago kandang, mereka juga harus mampu tampil kompetitif di ajang internasional seperti yang diselenggarakan kampus Harvard ini,” jelas Badru.
Salah satu delegasi dari SMA Labschool Jakarta, Fadya Isshafira Kamila Akbar tergabung dalam Ad Hoc Committee of the Secretary-General. Melalui HMUN, dia berharap dapat memperluas jejaring pertemanan dengan delegasi negara lain.
Harapan serupa juga disampaikan Ezhar Zakaria Sutoyo. Ia tergabung dalam komite International Civil Aviation Organization (ICAO), menargetkan capaian akademik dan diplomatik sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya selama sidang berlangsung.
Menurutnya perolehan penghargaan menjadi refleksi dari proses panjang persiapan dan kerja keras yang telah dijalani sebelum keberangkatan ke Boston.
“Saya berharap menang honorable mention atau best delegate ataupun most outstanding delegate” harap Ezhar. Meskipun tahun ini penghargaan tersebut akhirnya diraih sekolah dari Amerika dan lainnya.
Di sisi lain, Alia Athaya Rulindova memandang HMUN 2026 tidak semata sebagai ajang kompetisi untuk mengejar gelar atau penghargaan. Ia tergabung dalam komite Islamic Educational, Scientific, and Cultural Organization (ICESCO).
Bagi Alia, proses pembelajaran dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman justru menjadi tujuan utama keikutsertaannya dalam konferensi internasional tersebut. Ia berharap pengalaman berpartisipasi di HMUN dapat menjadi bekal berharga yang membekas dalam perjalanan hidupnya, baik secara akademik maupun personal.
“Selain membuat saya bangga dengan diri sendiri, saya juga ingin membanggakan kedua orang tua saya yang telah memberikan fasilitas dan dukungan luar biasa, dan juga sekolah yang telah totalitas membimbing kami latihan berbulan-bulan,” katanya.
Sedangkan bagi Muhammad Ghaizan Anhen Arrafi, yang tergabung dalam komite Futuristic General Assembly (FGA), HMUN bukan semata ajang kompetisi antar pelajar dari berbagai negara.
Ia menilai konferensi ini sebagai ruang belajar lintas budaya yang memberikan pengalaman berharga dalam membangun kerja sama dan jejaring internasional. Ghaizan berharap, melalui HMUN 2026, ia dapat membawa pulang pengalaman bermakna dari proses bertukar ide dan bekerja sama dengan delegasi dari berbagai latar belakang budaya.
Saat laporan ini dituliskan, para delegasi SMA Labschool Jakarta berkunjung dan diterima oleh Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo di kantor KBRI Indonesia di Washington DC. Rombongan dijadwalkan balik ke Indonesia pada Kamis malam, 5 Februari waktu DC, USA.
10 Jurusan yang Mulai Ditinggalkan dan 6 Prodi Primadona Baru dari Ahli Harvard
Penelitian dari Harvard University meneliti sejumlah jurusan kuliah yang mengalami penurunan nilai dan program studi yang bakal diburu pasar kerja. Berikut ini... | Halaman Lengkap [416] url asal
#jurusan-dengan-peluang-kerja-bagus #jurusan-kuliah #harvard-university #jurusan-favorit #program-studi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/10/25 10:08
v/7880/
JAKARTA - Penelitian dari Harvard University meneliti sejumlah jurusan kuliah yang mengalami penurunan nilai dan program studi yang bakal diburu pasar kerja. Berikut ini ulasannya.Menurut penelitian David J Deming dan Kadeem Noray (2020), sejumlah jurusan terapan seperti teknik, bisnis, dan ilmu komputer mengalami penurunan nilai seiring perjalanan karier karena obsolesensi keterampilan yang cepat.
Melansir Times of India, kedua ahli Harvard ini mencatat bahwa keunggulan gaji lulusan bidang teknologi menurun tajam jika tidak diimbangi peningkatan kompetensi.
Laporan dari Harvard Business School dan pusat karier Ivy League awal 2025 juga menunjukkan semakin sulitnya lulusan MBA mendapatkan pekerjaan elite dengan cepat. Tren reset gelar yang dipublikasikan Harvard pada 2022 menegaskan bahwa banyak perusahaan mulai meninggalkan syarat gelar umum dan lebih memilih kandidat dengan keterampilan spesifik.
Selain itu, minat terhadap ilmu sosial dan humaniora terus menurun sejak 2013, berdasarkan laporan The Harvard Crimson. Mahasiswa kini lebih memilih bidang STEM dan program dengan jalur karier yang jelas.
10 Jurusan yangTurun Pamor
1. Administrasi Bisnis dan MBA
Pasar kerja jenuh dan preferensi rekrutmen berubah2. Ilmu Komputer
Gaji awal tinggi, tetapi keterampilan cepat usang jika tidak diperbarui3. Teknik Mesin
Terdampak otomasi dan relokasi industri manufaktur4. Akuntansi
Peran manusia tergeser AI dan sistem otomatis5. Biokimia
Fokus akademik sempit dengan aplikasi kerja terbatas6. Psikologi jenjang sarjana
Karier terbatas tanpa studi lanjutan7. Bahasa Inggris dan Humaniora
Penurunan minat akibat ketidakjelasan prospek8. Sosiologi dan Ilmu Sosial
Minim kesinambungan langsung ke pekerjaan9. Sejarah
Premi gaji menurun di usia karier menengah10. Filsafat
Bernilai secara pemikiran, tetapi kurang aplikatif di pasar kerjaJurusan Pengganti yang Disarankan Harvard
Riset Harvard dan proyeksi pasar kerja menekankan pentingnya kombinasi keterampilan teknis, kreativitas, dan kecerdasan sosial. Jurusan interdisipliner dengan pembelajaran berkelanjutan dianggap lebih relevan untuk masa depan.
1. Data Science dan Analitik
Tumbuh cepat dan fleksibel di berbagai industri2. Ilmu Kesehatan dan Profesi Kesehatan Terapan
Permintaan tenaga kerja terus tinggi3. Ilmu Lingkungan dan Studi Keberlanjutan
Menjawab isu global yang mendesak4. Pemasaran Digital dan Media
Perpaduan kreativitas dan teknologi5. Kecerdasan Buatan dan Machine Learning
Menjadi tulang punggung teknologi masa depan
6. Kewirausahaan berbasis Teknologi
Menggabungkan inovasi dan kemampuan bisnis
Laporan Student Choice 2025 juga menyoroti ROI tinggi pada teknik, ilmu komputer, dan keperawatan. Sementara itu, bidang kreatif tetap relevan jika didukung kecerdasan emosional dan kemampuan berpikir kritis.
Harvard menegaskan bahwa gelar pendidikan tetap penting, tetapi definisinya berubah. Jurusan klasik kini membutuhkan keterampilan tambahan agar tetap kompetitif.
Bagi calon mahasiswa, investasi terbaik adalah pada program yang adaptif, berbasis teknologi, dan relevan secara sosial. Pendidikan masa depan bertumpu pada pembelajaran berkelanjutan serta kombinasi kecakapan teknis dan human-centered skills.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56