Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja pasar saham 2025 masih menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk dibenahi. Sepanjang 2025, indeks harga saham gabungan (IHSG) meningkat 22,13% year to date (YtD) ke 8.646.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, meski IHSG menguat dua digit saham-saham LQ45 yang berisi saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan fund manajer global maupun domestik, hanya tumbuh 2,41% YtD.
"Kontribusi pasar saham terhadap PDB juga naik signifikan dari 56% pada akhir 2024 menjadi 72% pada akhir 2025. Meski tumbuh, angka ini masih di bawah negara kawasan seperti India 140%, Thailand 101% dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing. Ini potensi untuk pengembangan lebih besar," kata Mahendra dalam pembukaan pasar 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2026).
Pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana melibatkan investor institusi lebih banyak. Mahendra mencatat porsi transaksi investor ritel di Indonesia mendominasi pasar saham sepanjang 2025. Angkanya tumbuh dari 38% di akhir 2024 menjadi 50% di akhir 2025. Menurutnya, porsi investor ritel di Indonesia sangat besar dibanding negara lain yang lebih mengandalkan investor institusi.
"Artinya ini semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek perlindungan, termasuk investor ritel dari kemungkinan goreng menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta bentuk manipulasi lainnya," ujarnya.
Menurutnya, perlindungan investor tersebut menjadi sangat penting, apalagi dari total investor ritel sebesar 70% didominasi Gen Z dan Gen Y. Segmen investor ini, menurut dia, masih melihat pasar saham sebagai tempat transaksi harian untuk mengejar kekayaan jangka pendek. Padahal, OJK berharap pasar saham menjadi sumber pendanaan jangka menengah panjang untuk kesejahteraan finansial pelaku pasar.
"Hal-hal itu menunjukkan bahwa untuk merealisasikan ruang dan potensi pertumbuhan pasar modal yang masih sangat besar dan terus meningkatkan perbaikan ekosistem termasuk aspek integrasi pasar," pungkasnya.
Adapun, BEI menargetkan pada 2026 terdapat investor baru sebanyak 2 juta pelaku pasar, nilai rata-rata transaksi harian mencapai Rp15 triliun per hari, serta listing baru sebanyak 555 pencatatan efek yang 50 di antaranya berupa emiten IPO baru.
Direktur BEI Iman Rachman mengatakan, melalui masterplan BEI 2026-2030 pihaknya berupaya membangun pasar modal yang semakin inovatif, transparan, inklusif dan terhubung secara global.
"Kami berharap pasar modal Indonesia dapat masuk ke dalam top 10 pasar modal dunia dalam hal kapitalisasi pasar, atau nilai transaksi, sekaligus memberi manfaat optimal bagi investor, emiten dan perekonomian nasional," kata Iman.