Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi ekonomi yang membaik dan era pelonggaran moneter memberikan ruang bagi emiten-emiten untuk menggalang pendanaan melalui aksi rights issue. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendanai ekspansi perusahaan.
Salah satunya, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) yang mengumumkan rencana rights issue jumbo senilai maksimal Rp3,2 triliun dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE) berencana menerbitkan 1,33 miliar saham baru.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus berbicara ihwal probabilitas semua saham baru akan terserap pasar. Menurutnya, hal itu akan tergantung pada fundamental perusahaan, valuasi, sektor bisnis, dan tujuan dari rights issue tersebut.
"Karena pelaku pasar dan investor pun cenderung akan selektif dalam menyerap rights issue tersebut, terutama dampak dari right issue kepada kinerja keuangan. Apabila tujuannya right issue untuk ekspansi, seberapa cepat perusahaan meng-generate revenue dari ekspansi tersebut, dan memberikan dampak positif terhadap perusahaannya," ujar Nico kepada Bisnis, Selasa (25/11/2025).
Sementara itu, kondisi pemulihan ekonomi dan global yang mulai stabil memang menjadi katalis positif bagi emiten yang melakukan ekspansi. Namun, Nico melihat ketidakpastian global menjadi suatu hal yang lazim terjadi setiap tahunnya.
Menurutnya, hal pasti yang membedakan pada 2026 nanti adalah rencana pemerintah yang tertuang dalam RAPBN 2026 cenderung lebih ekspansif, sehingga ada kemungkinan yang jauh lebih besar bagi ekonomi untuk bisa pulih meskipun tidak berjalan mulus.
Dalam kaitannya dengan penyerapan saham baru right issue, situasi ekonomi tahun depan menurut Nico turut membuat pelaku pasar dan investor cenderung berhati-hati, sekaligus mempersiapkan diri untuk menatap tahun depan di masa pemulihan ekonomi.
"Terutama setiap sektor akan memiliki dampak pemulihan yang berbeda tahun depan. Sektor yang sejalan dengan rencana pemerintah tahun depan tentu akan lebih diuntungkan. Selain itu, regulasi dari pemerintah juga menentukan kebijakan perusahaan dalam melakukan ekspansi," tandasnya.
Sementara itu, Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus menilai peluang right issue yang dilakukan sejumlah emiten pada akhir 2025 ini punya peluang cukup baik, selama ada kejelasan penggunaan dana dan dukungan dari pemegang saham utama.
"Faktor ini biasanya jadi penentu utama keberhasilan. Pulihnya IHSG memang membantu minat investor, tetapi pasar tetap selektif pada emiten dengan fundamental dan rencana bisnis yang jelas," ujar Angga.
Menurutnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menembus rekor all time high (ATH) baru dan derasnya arus dana asing ke pasar saham membuat risk appetite investor meningkat, setelah sepanjang awal tahun pasar cenderung berhati-hati.
Rencana Penggunaan Dana Rights Issue
Adapun, INET berencana menggunakan dana rights issue untuk mempercepat ekspansi jaringan fiber to the home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7. Sebanyak Rp2,8 triliun akan dikucurkan ke anak usaha, PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk menggaet dua juta pelanggan baru di Bali dan Lombok.
Selanjutnya, dana rights issue juga akan dialokasikan untuk anak usaha PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) sebesar Rp213,44 miliar untuk melunasi biaya sewa jaringan kabel bawah laut (IRU) ke PT Jejaring Mitra Persada (JMP). Kemudian, sebesar Rp135 miliar akan dialokasikan ke PT Internet Anak Bangsa (IAB) untuk modal kerja pembangunan FTTH di Pulau Jawa.
Lalu, sisa dana hasil rights issue akan digunakan untuk pengembangan layanan, pembelian perangkat, pemasaran, pelatihan, dan biaya overhead lainnya.
Sementara bagi Jaya Sukses Makmur Sentosa, dana hasil rights issue seluruhnya akan digunakan untuk pengembangan usaha baik secara langsung maupun tidak langsung melalui entitas anak dan/atau perusahaan asosiasi.
Perinciannya, pengembangan usaha tersebut antara lain adalah proyek Tanrise City Bandung, Tanrise City Sidoarjo, Kawasan Industri di Banjarbaru Kalimantan, dan Kawasan Resor Taman Dayu. Selain itu, sebagian dana right issue juga akan dialokasikan sebagai modal kerja dan melunasi pinjaman perusahaan.