Bisnis.com, JAKARTA — Dolar AS menuju kinerja paling anjlok dalam delapan tahun terakhir. Performa greenback di pasar opsi juga memberikan sinyal kepada para pelaku pasar untuk bersiap menghadapi depresiasi lebih lanjut jelang tutup tahun.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,3% pada Selasa (23/12/2025) atau level terendahnya sejak 3 Oktober 2025. Indeks yang juga mewakili kinerja dolar AS itu sudah amblas 8,2% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) dan depresiasi itu menjadi yang paling rendah sejak 2017.
Selanjutnya, penurunan kecil tambahan untuk dolar AS akan mendorong mata uang Negeri Paman Sam ini mencatatkan kinerja tahunan terburuknya dalam setidaknya dua dekade.
Salah satu tekanan terhadap dolar AS berasal dari ekspektasi bahwa kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) akan semakin menyimpang dari kebijakan bank sentral utama lainnya. Selanjutnya, faktor musiman juga turut menekan dolar AS sepanjang bulan ini.
Sementara itu, mata uang lainnya terpantau melaju di hadapan greenback. Dolar Kanada naik ke level tertinggi sejak Agustus 2025, dolar Australia menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan, dan krona Swedia mencapai level yang terakhir terlihat pada Februari 2022.
Di pasar opsi, harga dolar AS juga semakin menunjukkan sentimen negatif. Risk reversal atau indikator yang mencerminkan posisi dan sentimen pasar menunjukkan bahwa para pedagang opsi menjadi yang paling pesimistis terhadap dolar AS dalam tiga bulan terakhir.
Data dari Depository Trust & Clearing Corporation menunjukkan bahwa euro dan dolar Australia yang menjadi instrumen utama untuk mengekspresikan pandangan bearish terhadap dolar dalam beberapa sesi terakhir.
“Prospek Dolar AS tetap negatif dengan cukup kuat,” tulis Ipek Ozkardeskaya, analis senior di Swissquote, dalam catatan yang dikutip Bloomberg pada Selasa (23/12/2025)
Dia menyebut pada akhir tahun ini seruan yang bersifat bullish terhadap dolar AS semakin sangat jarang. Dia juga menyebut bahwa kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan ketegangan perdagangan juga menjadi faktor penghambat.
Meski demikian, ia memperingatkan bahwa dolar rentan mengalami rebound tajam apabila rilis data ekonomi mendatang mendorong penilaian ulang yang lebih hawkish terhadap ekspektasi kebijakan The Fed.