Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat bertujuan untuk mempertahankan hak Iran, bukan sebagai bentuk penyerahan diri di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah IRNA pada Minggu, Pezeshkian mengatakan dialog atau negosiasi tidak boleh dimaknai sebagai kemunduran dari posisi Teheran.
“Jika ada pembicaraan tentang dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur, tetapi bertujuan untuk mengamankan hak bangsa Iran dan secara kuat mempertahankan kepentingan nasional,” ujar Pezeshkian, dikutip dari Anadolu, Senin (11/5/2026)
Ia juga menegaskan Iran tidak akan tunduk kepada pihak yang dianggap sebagai musuh. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat gugus tugas yang membahas rekonstruksi kerusakan akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu Washington di kawasan Teluk, termasuk gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.
Upaya meredakan konflik sempat menghasilkan gencatan senjata pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik. Gencatan senjata kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Sementara itu, Iran mengajukan proposal tandingan terhadap rencana perdamaian yang diajukan Washington. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa proposal tersebut mencakup tuntutan kompensasi dari Amerika Serikat serta penegasan kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz.
Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan sanksi serta pelepasan aset negara yang dibekukan di luar negeri. Teheran menolak rencana perdamaian yang diajukan Washington karena dinilai mengharuskan Iran tunduk pada “tuntutan berlebihan” dari Presiden Trump.
Menanggapi proposal terbaru Iran, Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026), mengatakan telah meninjau respons tersebut dan menyebutnya “sepenuhnya tidak dapat diterima.”
Sejak 13 April 2026, Amerika Serikat juga dilaporkan menerapkan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz, yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut.