Bisnis.com, JAKARTA — Prospek bank asing di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan tetap terbuka, tetapi akan bergerak lebih selektif dan tidak lagi menggarap pasar secara luas (broad-based).
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menyampaikan, meski pasar Indonesia masih besar, bank asing cenderung mengunci diri pada segmen yang mereka kuasai seperti korporasi multinasional, trade finance, treasury, dan nasabah affluent.
“Artinya, prospeknya bukan hilang, tetapi mengalami spesialisasi. Pasarnya yang masih menarik, tapi bukan lagi medan ekspansi agresif tanpa diferensiasi,” kata Ronny, Selasa (5/5/2026).
Ronny menyebut langkah HSBC Indonesia melepas bisnis wealth ke Bank OCBC NISP lebih tepat dibaca sebagai realokasi strategi global. Banyak bank global tengah merapikan portofolio, mengurangi bisnis yang margin-nya tertekan atau tidak mencapai skala ekonomis.
Menurutnya, wealth management di Indonesia sebenarnya menjanjikan, tetapi butuh kedalaman jaringan lokal dan cost structure yang efisien, dua hal yang sering justru lebih dimiliki pemain domestik atau regional.
“Jadi bukan Indonesia kurang menarik, tapi tidak semua model bisnis cocok dijalankan di Indonesia oleh semua pemain,” ujarnya.
Di sisi lain, dia tidak menampik bahwa tekanan bagi bank asing untuk bersaing dengan bank domestik saat ini sangat tinggi, bahkan mungkin yang tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Ronny menuturkan, bank-bank domestik sudah jauh lebih efisien, digital-native, memiliki Current Account Savings Account (CASA) kuat, dan jaringan distribusi yang sangat luas. Bank-bank ini juga diuntungkan oleh pemahaman perilaku nasabah lokal yang lebih granular.
Sementara itu, bank asing sering terkendala cost of funds yang lebih mahal, jaringan terbatas, dan regulasi yang mengharuskan adaptasi lokal. Dalam konteks ini, Ronny menyebut bahwa bank asing yang mencoba “menjadi seperti bank lokal” hampir pasti kalah.
“Pertandingan di Indonesia kini bagi bank asing tidak lagi simetris,” ungkapnya.
Strategi kunci bagi bank asing justru terletak pada keberanian untuk tidak bermain di semua lini. Ronny menilai, bank asing harus fokus pada keunggulan komparatif seperti jaringan global, kemampuan cross-border financing, structured products, treasury sophistication, serta layanan wealth untuk ultra-high-net-worth yang membutuhkan akses internasional.
Selain itu, kemitraan dengan institusi lokal menjadi semakin penting, baik dalam distribusi, digital platform, maupun co-lending. Bank asing juga perlu mengadopsi pendekatan “asset-light but intelligence-heavy” alias tidak perlu jaringan cabang besar, tetapi harus unggul dalam data, advisory, dan solusi finansial yang kompleks.
“Kalau masih mencoba bersaing di kredit ritel massal, akan seperti masuk arena bulu tangkis tapi pakai raket tenis, bisa main, tapi tidak akan menang,” pungkasnya.