#30 tag 24jam
5 Perusahaan asal China Jadi Peserta Tender Waste to Energy Danantara, Cek Profilnya
Lima perusahaan China ikut tender proyek Waste to Energy di Indonesia, dengan fokus pada proyek di Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. [1,092] url asal
#waste-to-energy #perusahaan-china #danantara-indonesia #tender-wte #teknologi-energi-hijau #pengolahan-sampah #konsorsium-lokal #chongqing-sanfeng #wangneng-environment #zhejiang-weiming #sus-indonesi
(Bisnis.Com - Terbaru) 13/02/26 09:43
v/135524/
Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak 24 perusahaan telah terpilih sebagai peserta tender dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE). Lima di antaranya tercatat berasal dari China, negara eksportir teknologi energi hijau terbesar di dunia.
Adapun tahap pertama proyek WtE yang dikelola Danantara Indonesia bakal difokuskan pada empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta. Kota-kota tersebut dinilai paling siap secara administratif serta memiliki volume sampah yang mendesak untuk ditangani. Proyek ini memasuki tahap krusial dengan rencana pengumuman pemenang tender pada akhir Februari 2026.
Dalam proses tersebut, Danantara Indonesia melakukan peninjauan menyeluruh terhadap ratusan calon penyedia teknologi. Dari lebih dari 200 perusahaan yang masuk Daftar Penyedia Teknologi (DPT), 24 perusahaan dari China, Prancis, Jepang, Singapura, dan Hong Kong, dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti tender sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola PSEL.
“Perusahaan-perusahaan yang menjadi peserta tender WtE kami wajibkan untuk membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Adanya konsorsium ini kami harapkan bisa memberikan transfer teknologi dengan perusahaan lokal atau pemda,” ujar Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman dalam siaran pers yang dikutip Jumat (13/2/2026).
Fadli juga memastikan bahwa waste to energy bukan hanya sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari kebijakan publik lintas sektor.
“Kami juga ingin memastikan bahwa terjadinya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya.
Dari 24 perusahaan yang lolos menjadi peserta tender, berikut profil lima perusahaan yang berasal dari China.
Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd.
Perusahaan ini hadir sebagai spesialis waste to energy dengan rekam jejak panjang sebagai investor, pengembang, sekaligus operator fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah. Berbeda dengan kontraktor Engineering Procurement Construction (EPC) umum yang memiliki divisi lingkungan, Sanfeng Environment sejak awal menempatkan WtE sebagai inti bisnis.
Perusahaan yang berdiri pada 2009 dan berkantor pusat di Chongqing, China, ini telah tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Saham Shanghai dengan kode saham 601827.SH.
Sanfeng Environment dikenal sebagai pemegang lisensi teknologi grate incinerator dari Martin GmbH (Jerman). Teknologi ini kemudian dilokalisasi dan dikembangkan hingga mampu memproduksi sendiri peralatan inti WtE, mulai dari tungku pembakaran, pemurnian gas buang, hingga pengolahan residu. Hingga akhir 2023, teknologi dan peralatan Sanfeng telah diterapkan di lebih dari 250 proyek WtE dengan lebih dari 400 lini insinerasi di berbagai negara, berkapasitas total lebih dari 220.000 ton sampah per hari.
Selain sebagai penyedia teknologi, Sanfeng Environment juga berperan sebagai investor dan operator proyek melalui skema build, operate, dan transfer (BOT) dan Public Private Partnership (PPP), dengan lebih dari 50 proyek WtE yang telah beroperasi atau dalam tahap konstruksi. Model terintegrasi ini memungkinkan pengendalian kualitas, efisiensi biaya, serta kepastian kinerja fasilitas jangka panjang.
Wangneng Environment Co., Ltd.
Wangneng Environment Co., Ltd merupakan perusahaan asal China dengan kantor pusat yang berlokasi di Huzhou, Zhejiang. Aktivitas perusahaan yang mulai beroperasi pada 2012 ini mencakup pemanfaatan sumber daya limbah dapur, pengolahan air limbah, pengolahan lumpur, hingga daur ulang karet.
Wangneng Environment Co memiliki 98 anak perusahaan, termasuk lima anak perusahaan di luar negeri yang berlokasi di Thailand, Kamboja, Australia, dan Singapura. Terkait WtE yang menjadi fokus utama bisnisnya, perusahaan ini mengubah limbah, terutama limbah padat, menjadi energi (listrik atau panas) melalui berbagai proses, seperti pembakaran, gasifikasi, atau bioteknologi.
Beberapa proyek yang telah dilakukan Wangneng Environment dalam bidang WtE melibatkan instalasi pabrik pengolahan limbah. Mereka mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kilowatt hour (kWh) listrik bersih setiap tahun. Dengan pemakaian listrik rata-rata rumah kecil menengah di Indonesia, output ini bisa digunakan untuk 2,53 juta rumah per tahun.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd bukan pemain baru di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan ini masuk dalam daftar penyedia sebagai salah satu pemasok atau calon mitra untuk proyek lingkungan WtE. Melalui anak perusahaannya, Weiming Equipment, mereka menandatangani kontrak penyediaan peralatan insenerator WtE dengan perusahaan Indonesia (Shanghai Dingxin Investment/Qingshan Park). Ini adalah kolaborasi di bidang ekspor teknologi lingkungan.
Selama ini, mereka dikenal sebagai pemain utama dalam teknologi dan operasi WtE di China. Bisnis WtE mereka mencakup desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE, manufaktur dan pemasangan peralatan insenerator dan tenaga WtE, serta pengolahan sampah padat perkotaan (MSW) dengan pembangkit listrik dari limbah.
Pada 2023, Weiming Environment menghasilkan total listrik sekitar 3,85 miliar kWh listrik yang mayoritas berasal dari pembangkit WtE. Perusahaan ini pernah menawarkan kerja sama investasi sekitar US$225 juta kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk pengelolaan sampah dan BOO WtE melalui Weiming Environment Protection. Weiming juga pernah menjajaki penggunaan teknologi insinerasi di calon TPPAS (Cirebon Raya) dan bertemu Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kemenko Marves RI.
SUS Indonesia Holding Limited
Meski bernama SUS Indonesia Holding Limited, perusahaan ini sejatinya terdaftar di China. SUS Indonesia Holding Limited mulai beroperasi pada 19 Juli 2022 dan memiliki fokus bisnis pada waste to energy dan mengelola investasi jangka panjang. Ia merupakan anak usaha dari Shanghai SUS Environment Co., Ltd yang berdiri 2008 di Qingpu District, Shanghai, China.
Sejauh ini, sudah terdapat 84–89 proyek WtE yang sudah dijalankan perusahaan di sejumlah negara. Di Makassar, Sulawesi Selatan, perusahaan ini membangun fasilitas WtE dengan perjanjian kerja sama lewat pemerintah kota setempat. Volume sampah yang dikelola mencapai 1.300 ton sampah setiap hari, dengan dua jalur insinerasi dan turbine generator yang menghasilkan daya listrik 35 megawatt (MW).
PT Jinjiang Environment Indonesia
PT Jinjiang Environment Indonesia yang berdiri pada 8 Agustus 2017 merupakan bagian dari grup perusahaan lingkungan asal China, yakni Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. Grup usaha tersebut merupakan pemain utama dalam industri waste to energy di China sejak 1998.
Pada 16 Februari 2025, Zheneng Jinjiang Environment Holding Co., Ltd. menyelesaikan restrukturisasi internal PT Jinjiang Environment Indonesia. Sebelumnya, 90% kepemilikan saham perusahaan itu dipegang oleh Lamoon Holdings Limited di British Virgin Islands.
PT Jinjiang Environment Indonesia sudah memiliki proyek besar dengan mengembangkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa/WtE) di Kota Palembang, Sumatra Selatan. Kapasitas yang dihasilkan sebanyak 1.000 ton sampah perhari dengan output listrik sebesar 20 MW.
Di Palembang, perusahaan ini membangun kolaborasi dengan perusahaan lokal dengan membentuk Build Own Operate atau BOO melalui kontrak konsesi 30 tahun. Investasi awal untuk pembangunan PLTSa di Palembang, perusahaan ini mengucurkan dana US$120 juta atau setara dengan Rp1,8 triliun.
Fokus utama bisnis dari perusahaan ini di bidang WtE, yakni pengolahan limbah padat menjadi energi listrik. Sementara China Jinjiang Environment Holding Co yang merupakan induk dari PT Jinjiang Environment Indonesia, diketahui memegang 27 fasilitas WtE di China. Mereka juga memiliki tiga fasilitas pengolahan limbah dapur atau organic waste dan delapan fasilitas daur ulang sumber daya limbah dengan total kapasitas pengolahan 44.000 ton limbah per hari.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56