Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran, kewaspadaan terhadap penyakit menular seperti campak kian penting. Pergerakan orang dalam jumlah besar, termasuk perjalanan mudik dan berbagai kegiatan berkumpul, dapat memperbesar risiko penularan penyakit, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Ketua Pengurus Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan campak merupakan salah satu penyakit yang sangat mudah menular melalui droplet, seperti percikan batuk atau bersin. Dalam situasi mobilitas tinggi dan interaksi yang intens, virus ini dapat menyebar lebih cepat apabila masih terdapat kelompok masyarakat dengan cakupan vaksinasi rendah.
Oleh karena itu, membangun kekebalan kelompok atau herd immunity menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Ketika sebagian besar masyarakat telah terlindungi melalui imunisasi, risiko penularan dapat ditekan sehingga anak-anak yang rentan pun ikut terlindungi.
"Konsep herd immunity itu kan proyek gotong royong. Bagaimana masing-masing kita bisa ikut bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan anak-anak Indonesia bersama-sama," kata dokter Piprim.
Dokter Piprim pun mengingatkan orang tua untuk mengecek kembali jadwal vaksin campak anak. Untuk imunisasi campak, jadwal vaksin diberikan sebanyak tiga kali, yakni dosis pertama pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 15–18 bulan, dan dosis ketiga saat anak berusia 5 tahunan.
Jika jadwal vaksin sudah tiba, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat, dan apabila terlambat, imunisasi tetap perlu dikejar sebelum memasuki periode dosis berikutnya.
"Vaksinasi adalah benteng pertahanan terkuat yang bisa kita berikan kepada anak. Langkah paling krusial sebelum mudik adalah memastikan imunisasi anak Anda lengkap, terutama vaksin MR/MMR," imbuhnya.
Menurutnya, vaksinasi dua dosis terbukti menjadi cara paling efektif untuk mencegah penularan campak yang sangat mudah menyebar. Jika imunisasi anak sudah lengkap, dokter Piprim menyebut perlindungan anak saat mudik akan lebih optimal.
Dokter Piprim menyebut saat ini, Indonesia tengah menghadapi kasus campak yang meningkat. Data Kemenkes melaporkan hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan 6 kematian.
Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), tiga negara dengan jumlah kasus campak tertinggi pada 2025 adalah Yaman sebanyak 11.288 kasus, diikuti Indonesia dengan 10.744 kasus, dan India yang mencatat 9.666 kasus.
Tak bisa dimungkiri, katanya, sejak pandemi Covid-19, angka vaksinasi di Indonesia masih belum pulih. Masih banyak anak yang mungkin melewatkan vaksin saat periode tersebut. Di sisi lain, dirinya juga melihat adanya fenomena anti vaksin yang kembali naik. Gabungan faktor tersebut membuat angka imunisasi campak dan penyakit lain menurun.
"Campak ini penyakit yang membutuhkan cakupan imunisasi tinggi, harus di atas 95 persen. Dulu kita pernah mencapai itu. Namun, sekarang karena banyak masyarakat yang galau atau ragu, dampaknya signifikan," tegasnya.
Sebab, untuk campak, tidak perlu sampai cakupan imunisasinya nol atau 50 persen baru terjadi KLB. Turun menjadi 80 persen saja sudah bisa memicu wabah karena penyakit ini sangat menular.