Bisnis.com, JAKARTA — Era kecerdasan buatan (AI) telah melahirkan anomali baru dalam dunia pemasaran. Alih-alih mempermudah penetrasi pasar, masifnya perkembangan teknologi ini justru menciptakan fenomena augmented human, yakni kondisi manusia mengalami transformasi cara berpikir akibat paparan arus informasi yang tak terbendung.
Dalam perhelatan An Intimate Book Talk & Book Signing Marketing 7.0 di Jakarta, Kamis (9/4/2026), para pakar pemasaran menyoroti tantangan berat bagi brand di tengah banjir konten digital.
Iklan yang dahulu dianggap sebagai ujung tombak penjualan, kini terancam menjadi sekadar "sampah visual" yang diabaikan secara otomatis oleh otak konsumen.
Group COO MCorp sekaligus penulis buku Marketing 7.0, Iwan Setiawan, menilai masifnya iklan digital memicu cognitive overload. Kondisi ini merupakan titik jenuh saat konsumen merasa dibombardir oleh ribuan informasi, mulai dari unggahan influencer hingga iklan terprogram.
Meski AI mampu melakukan penargetan audiens secara presisi, volume informasi yang masuk tetap melampaui kapasitas pemrosesan manusia. Akibatnya, muncul perilaku adaptif yang disebut banner blindness. Konsumen secara bawah sadar belajar mengenali pola iklan dan mengabaikannya begitu saja.
“Otak manusia bersifat adaptif. Ketika terus-menerus terpapar iklan, manusia belajar mengenali dan secara otomatis mengabaikannya. Pada awalnya iklan terasa mengganggu, namun seiring waktu, audiens terbiasa dan tidak lagi memperhatikannya,” ujar Iwan.
Efektivitas pemasaran pun kini mengalami degradasi. Walaupun angka tayangan (impressions) terlihat tinggi dalam laporan metrik digital, pesan yang disampaikan sering kali tidak benar-benar meresap ke dalam benak audiens.
Dinamika pasar berubah drastis sejak AI mengintervensi setiap aspek kehidupan manusia. Dahulu, masyarakat masih menyimak konten iklan yang relevan. Namun, saat ini ada fenomena Banner Blindness atau abaikan iklan secara otomatis.
Tidak hanya itu, dahulu tingkat loyalitas konsumen dipengaruhi oleh kualitas dan harga. Saat ini terkunci pada ekosistem preferensi.
Selain dampak pada konsumen, AI membawa risiko internal bagi pelaku industri. Iwan menyoroti kecenderungan praktisi pemasaran menjadi terlalu bergantung pada teknologi, yang berpotensi mematikan kreativitas dan kemampuan berpikir jangka panjang.
Rencana pemasaran yang disusun oleh AI mungkin terlihat rapi secara struktur, namun sering kali kurang berpijak pada realitas lapangan. Iwan mengingatkan perihal potensi AI mengalami "halusinasi"—memberikan data atau strategi yang tampak meyakinkan padahal tidak akurat secara faktual.
Untuk memenangkan persaingan di era ini, pelaku bisnis perlu kembali menyentuh aspek fundamental manusia: attention, social, dan reward. Hermawan menilai peran manusia tetap menjadi kunci utama. Jika sebuah merek sudah mendapatkan kepercayaan personal, konsumen justru akan lebih memercayai rekomendasi manusia daripada mesin.
Pada akhirnya, di tengah dunia yang dikendalikan algoritma, orisinalitas dan koneksi emosional antarmanusia menjadi kemewahan sekaligus senjata paling ampuh bagi keberlangsungan sebuah bisnis.
Sementara itu, Founder & Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, memaparkan tantangan ini melalui konsep 3F. Menurutnya, teknologi AI justru membuat audiens semakin terpecah dan tertutup. Saat ini, masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil atau tribe dan informasi yang sampai ke tangan konsumen telah melewati filter algoritma AI yang ketat.
“Pengguna menjadi kian fanatik terhadap preferensi mereka sendiri karena hanya terpapar informasi serupa secara terus-menerus,” kata Hermawan.
Situasi ini membuat brand baru semakin sulit menembus pasar. Konsumen cenderung menjadi lebih self-centered dan jarang mempertanyakan rekomendasi yang diberikan oleh mesin.