Bisnis.com, JAKARTA — Peta persaingan bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia semakin beragam pada kuartal I/2026. Dari tujuh bank yang beroperasi di Tanah Air, hanya sebagian yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba, sedangkan sisanya mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan triwulan, PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) berada di posisi pertama dengan pertumbuhan laba bersih 112,54% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp64,67 miliar pada kuartal I/2026. Bank besutan korporasi keuangan asal Korea Selatan, APRO Financial Co. Ltd. itu pada kuartal I/2025 mencetak laba senilai Rp30,43 miliar.
PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) berada di posisi kedua. Bank Nobu, yang sebagian kepemilikannya berada di tangan Hanwha Life Insurance Co., Ltd. dengan porsi 40% saham, membukukan laba sebesar Rp153,95 miliar, meningkat 39,82% YoY dari Rp110,10 miliar pada kuartal I/2025.
Kemudian, ada PT Bank KEB Hana Indonesia alias Hana Bank mencetak laba bersih sebesar Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026. Realisasi itu meningkat 23,84% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp162,13 miliar.
Capaian ini menempatkan perseroan sebagai bank milik investor Korea Selatan dengan raihan laba bersih tertinggi di antara bank-bank asal Negeri Ginseng lainnya.
Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan menyampaikan, perseroan pada tahun ini menargetkan laba bersih sebesar Rp650,11 miliar. Dengan demikian, realisasi laba pada awal tahun sudah sekitar 30,88% dari total laba yang ditargetkan Hana Bank pada 2026.
Adapun perseroan optimistis dapat mencapai target 2026 dengan target laba bersih sebesar Rp650,11 miliar, aset, kredit Rp43,30 triliun, DPK Rp29,50 triliun, dan aset sebesar Rp56,65 miliar. Untuk mencapai target tersebut, Hendri mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui jaringan kantor cabang.
“Kami fokus mendorong pertumbuhan aset, pertumbuhan pendapatan operasional bruto, efisiensi dan produktivitas, serta memperkuat tata kelola di cabang,” kata Hendri beberapa waktu lalu.
Sementara itu, tidak semua bank yang berada dalam genggaman investor Korea Selatan yang membukukan keuntungan pada awal 2026. PT Bank Shinhan Indonesia misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 12,69% YoY menjadi Rp54,25 miliar hingga Maret 2026, setelah pada periode yang sama tahun lalu meraup laba Rp62,14 miliar.
Laba bersih PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) milik Woori Bank juga menyusut 30,78% YoY dari Rp154,33 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp106,82 miliar pada kuartal I/2026. PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) yang dikendalikan oleh Industrial Bank of Korea turut mencatatkan penurunan laba sebesar 31,90% YoY menjadi Rp37,17 miliar dari Rp54,58 miliar pada kuartal I/2025.
Di antara bank-bank tersebut, laba bersih PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) mencatatkan penurunan terdalam. Hingga Maret 2026, KB Bank membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,67 miliar, turun 96,97% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp352,12 miliar.
Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyampaikan, pihaknya menyadari masih terdapat ruang untuk perbaikan, utamanya dalam kualitas kredit, fundamental bisnis secara keseluruhan, serta penguatan struktur permodalan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Fokus kami ke depan adalah menjaga momentum ini melalui pertumbuhan berkualitas, pengelolaan risiko yang disiplin, serta penguatan sinergi dengan KB Financial Group,” ujar Kunardy dalam keterangan resminya, dikutip pada Senin (1/6/2026).
Rasio Profitabilitas Bank Korsel di Indonesia
Dilihat dari tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE), Bank Nobu menempati posisi teratas di antara bank-bank milik investor Korea Selatan.
Sebagai catatan, rasio ini menunjukkan tingginya keuntungan yang dihasilkan oleh bank dari setiap nilai yang diinvestasikan pemegang sahamnya. Semakin tinggi nilai ROE, semakin baik kinerja bank dalam menghasilkan laba bersih melalui modalnya.
Hingga Maret 2026, bank dengan kode saham NOBU itu membukukan ROE sebesar 15,47%, mengungguli ROE Hana Bank 6,91%, OK Bank 6,78%, Bank Shinhan 4,35%, Bank Woori Saudara 4,01%, IBK 2,60%, dan KB Bank 0,16%.
Sementara itu dari sisi tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA), OK Bank menjadi yang terdepan. Rasio ini mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari aset yang dimiliki. Semakin tinggi ROA, semakin efisien bank dalam mendayagunakan asetnya untuk mencetak keuntungan.
Pada kuartal I/2026, OK Bank membukukan ROA sebesar 2,42%, disusul Hana Bank 1,93%, Bank Nobu 1,91%, Bank Shinhan dan Bank Woori Saudara 0,97%,, IBK 0,80%, dan KB Bank 0,02%.
Transformasi Belum Seragam
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, perbedaan kinerja laba bank-bank Korea di Tanah Air pada periode ini lebih mencerminkan perbedaan tahap transformasi dan kualitas fundamental masing-masing bank daripada faktor kepemilikan.
“Bank yang mampu menjaga kualitas kredit, menekan biaya dana, dan meningkatkan efisiensi operasional cenderung mencatat pertumbuhan laba,” ujar Trioksa kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, tercermin pada Hana Bank yang membukukan laba bersih Rp200,78 miliar pada kuartal I/2026, tumbuh 23,84% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kinerja itu ditopang oleh rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross yang rendah sebesar 0,72% serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 11,78%.
Di sisi lain, sejumlah bank masih menghadapi tekanan dari tingginya biaya pencadangan, proses penyehatan portofolio kredit, hingga biaya transformasi bisnis yang belum sepenuhnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Kondisi tersebut pada akhirnya menekan kemampuan bank dalam membukukan pertumbuhan laba.
Trioksa menilai fenomena tersebut menunjukkan proses transformasi bank-bank Korea di Indonesia belum berlangsung secara seragam. Sebagian bank telah memasuki fase pemanenan hasil (harvesting) setelah menjalankan berbagai upaya perbaikan bisnis dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan sebagian lainnya masih berada pada tahap konsolidasi dan penguatan fundamental.
Ke depan, Trioksa menyebut bahwa kemampuan menjaga kualitas aset dan efisiensi pendanaan akan menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan profitabilitas bank-bank tersebut. Terlebih, industri perbankan saat ini dihadapkan pada kondisi likuiditas yang semakin ketat dan persaingan penghimpunan dana yang kian intens.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai strategi bisnis turut memengaruhi perbedaan kinerja bank Korea Selatan.
Dia menuturkan, bank yang fokus pada niche market seperti ekosistem perusahaan Korea, supply chain industri, atau pembiayaan korporasi cenderung lebih stabil dibanding bank yang terlalu agresif masuk ke segmen retail berisiko tinggi atau digital lending tanpa mitigasi risiko kuat.
Di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya suku bunga, menurutnya strategi ekspansi yang terlalu agresif justru dapat meningkatkan tekanan NPL dan kebutuhan pencadangan.
“Artinya, kondisi saat ini memperlihatkan bahwa kemampuan manajemen risiko menjadi faktor yang semakin menentukan daya tahan profitabilitas bank,” jelas Rizal kepada Bisnis, Senin (1/6/2026).
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa proses transformasi dan ekspansi sejumlah bank Korea di Indonesia memang nampak belum sepenuhnya menghasilkan profitabilitas optimal.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia menjelaskan bahwa investor Korea cukup agresif melakukan akuisisi, digitalisasi, hingga injeksi modal besar di Indonesia. Kendati begitu, transformasi perbankan membutuhkan waktu panjang karena harus diikuti pembentukan basis nasabah, penguatan dana murah, efisiensi operasional, serta kualitas kredit yang sehat.
Karena itu, dia menilai bank Korea yang berpotensi bertahan dan tumbuh bukan hanya yang agresif berekspansi, tetapi yang mampu membangun model bisnis yang efisien, fokus, dan resilien terhadap tekanan likuiditas maupun volatilitas ekonomi global.
OK! Bank (DNAR) berencana meningkatkan free float saham publik dari 9,49% menjadi minimal 15% sebelum 2029, dengan opsi right issue dan investor strategis. [250] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan porsi saham publik atau free float seiring pembaharuan ketentuan dari bursa efek Indonesia.
Wakil Direktur Utama OK! Bank Hendra Lie mengatakan, saat ini porsi free float perseroan telah mencapai 9,49% atau berada di atas ketentuan minimum yang berlaku saat ini bagi emiten dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun.
“Kami saat ini sudah 9,49% dan di atas regulasi saat ini,” ujar Hendra dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Meski demikian, dia menyebut terkait regulasi baru OJK agar perusahaan memiliki saham publik minimal 15%, pihaknya masih memiliki waktu pemenuhan sebelum 2029.
Direktur Kepatuhan DNAR Efdinal Alamsyah mengatakan, pemegang saham pengendali (PSP) tengah mempertimbangkan sejumlah strategi yang dapat berdampak pada peningkatan free float perseroan untuk memenuhi target minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan ialah aksi korporasi melalui right issue dengan skema injeksi modal yang tidak berasal dari pemegang saham pengendali.
Selain itu, perseroan juga membuka peluang masuknya investor strategis sebagai bagian dari upaya memperbesar kepemilikan publik.
Efdinal menambahkan, opsi lain yang turut menjadi pertimbangan ialah delisting dari bursa. Namun, ia menyebut belum ada keputusan yang diambil terkait beragam opsi aksi korporasi tersebut.
Sementara itu, dari sisi pengembangan bisnis, OK! Bank juga memperkuat layanan digital melalui pengembangan mobile banking. Perseroan berencana menambah fitur pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Menurut Hendra, persetujuan regulator untuk pengembangan fitur QRIS pada mobile banking ditargetkan dapat diperoleh pada semester II 2026.
OK! Bank tunjuk Sonny Manopo sebagai Direktur Bisnis, efektif setelah persetujuan OJK. Bank targetkan pertumbuhan kredit 9,5% dan NPL di bawah 1,5%. [288] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) menunjuk Sonny Firdaus Manopo sebagai direktur bisnis baru perseroan. Keputusan tersebut ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar hari ini di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Wakil Direktur Utama OK! Bank Hendra Lie mengatakan, pengangkatan Sonny baru akan efektif setelah memperoleh persetujuan dari regulator.
“Direktur bisnis Sonny Firdaus efektif setelah mendapatkan persetujuan dari OJK dan instansi berwenang lainnya,” ujar Hendra dalam paparan publik usai RUPS di Kantor Pusat OK Bank Jakarta.
Posisi direktur bisnis sebelumnya ditempati Vincentia M Djuniwati Wijaya sejak Juli 2023. Berdasarkan laporan tahunan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA), Sonny sebelumnya menjabat sebagai Chief of Business Officer di bank tersebut.
Hendra menambahkan, dari sisi bisnis OK! Bank menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 9,5% hingga akhir 2026. Target tersebut setara dengan tambahan penyaluran kredit sekitar Rp1 triliun dari posisi April 2026 yang tercatat sebesar Rp10,23 triliun.
Perseroan juga menargetkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) nett tetap terjaga di bawah 1,5%. Hingga saat ini, rasio NPL nett bank berada di level 1,22%.
Hendra mengatakan, perseroan akan memperkuat manajemen risiko di tengah dinamika ekonomi global, termasuk kenaikan harga minyak.
“Kami tahun ini lebih prepare. Di tengah kenaikan harga minyak kami akan menguatkan manajemen risiko,” katanya.
Sementara itu, Direktur Kepatuhan Efdinal Alamsyah menyebut untuk mengelola risiko, perusahaan secara rutin melakukan stress test. "Hasilnya kami tidak ada kesulitan likuiditas," katanya.
Efdinal juga memastikan pihaknya menyiapkan contingency plan di tengah ketatnya likuiditas bisnis perbankan.
IDXChannel—Saham DNAR bergerak di bidang apa? PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) adalah emiten sektor keuangan yang menjalankan kegiatan usaha utamanya di bidang jasa perbankan. Saham ini tercatat di papan pengembangan bursa efek.
Melansir laman resmi Bank Oke Indonesia (12/2/2025), perseroan berdiri pada 1990 dan awalnya beroperasi dengan nama PT Liman International Bank. Lalu berganti nama pada 2012 menjadi Bank Dinar Indonesia.
Perseroan mengantongi izin operasi sebagai bank umum pada 1991. Perusahaan ini mencatatkan sahamnya secara perdana pada 2014 dan menggunakan kode ticker DNAR. Lalu pada 2018, bank ini diakuisisi oleh OK Next Co., Ltd.
OK Next adalah perusahaan keuangan asal Korea Selatan. Kemudian pada 2019, Bank Dinar melakukan merger dengan PT Bank Oke Indonesia yang juga dimiliki oleh OK Next. Dengan merger ini, Bank Dinar menjadi bank yang menerima penggabungan (surviving bank).
Sedangkan Bank Oke Indonesia menjadi bank yang menggabungkan diri. Selayaknya bank umum, DNAR juga menyediakan produk simpanan dan pinjaman. Pinjaman yang diberikan adalah kredit modal kerja dan kredit tanpa agunan.
Sementara produk simpanan yang ditawarkan mulai dari deposito, rekening tabungan, tabungan bisnis, giro, pembelian SBN, safe deposit box, dan sebagainya. DNAR beroperasi dengan nama OK Bank.
Bagaimana dengan struktur kepemilikan saham di Bank Oke Indonesia saat ini? Mengutip data Bursa Efek Indonesia, berikut ini adalah informasi kepemilikan saham di PT Bank Oke Indonesia Tbk.
Saham DNAR Bergerak di Bidang Apa? Informasi Sahamnya yang Paling Anyar
PT Bank Oke Indonesia Tbk mencatatkan sahamnya secara perdana di bursa pada 2014 dengan melepas 500 juta saham di harga penawaran Rp110 per saham. Dari IPO ini perseroan mengantongi dana sebanyak Rp55 miliar.
Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek, per 31 Oktober 2025 pengendali saham DNAR adalah OK Next Co., Ltd dengan kepemilikan sebanyak 15,28 miliar saham, setara 89,73 persen dari total saham terdaftar.
Jajaran direksi dan komisaris juga tercatat memiliki saham DNAR, tetapi dengan jumlah yang tidak signifikan. Sedangkan masyarakat memiliki saham DNAR sebanyak 1,44 miliar, setara 8,47 persen.
Adapun penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham DNAR, atau pemilik perusahaan, adalah Yoon Choi. Sedangkan pengendali dari OK Next, selaku pengendali DNAR, adalah J&K Capital.
Pada perdagangan Selasa 2 Desember 2025, saham DNAR ditutup di harga Rp214 per saham pada sesi pertama, naik 7,54 persen dari pembukaan. Dalam satu bulan terakhir, DNAR mencatatkan pertumbuhan harga sebesar 79,83 persen.
Itulah informasi singkat tentang DNAR bergerak di bidang apa.
Bank Raya Indonesia (AGRO), Bank Oke Indonesia (DNAR) alias OK Bank, dan Bank Neo Commerce (BBYB) menyiapkan strategi untuk meraih kinerja positif tahun ini. [86] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank kecil seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) alias OK Bank, dan PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC terus berupaya menciptakan tren pertumbuhan kinerja positif hingga akhir tahun ini.
Jika mengacu pada capaian kinerja sepanjang 6 bulan pertama tahun ini, ketiga bank yang masuk dalam Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I atau bank-bank dengan modal inti di bawah Rp6 triliun tersebut mencatatkan laba bersih naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56