Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga riset International Data Corporation (IDC) memprediksi sebanyak 96% perusahaan di ASEAN bakal investasi besar-besaran kepada implementasi kecerdasan artifisial (AI) dalam 1 tahun ke depan.
Rata-rata kenaikan anggaran tersebut diproyeksikan mencapai 15% pada 2026. Data yang terungkap dalam laporan Lenovo CIO Playbook 2026: The Race for Enterprise AI mencatat adanya pergeseran strategis dari fase uji coba konsep menuju penerapan skala penuh yang berdampak langsung pada operasional bisnis.
President Asia Pacific ISG Lenovo Sumir Bhatia menegaskan bahwa keputusan terkait AI saat ini telah menjadi hal yang krusial bagi keberlangsungan perusahaan.
"Pembeda utama keberhasilan terletak pada efektivitas integrasi AI ke dalam infrastruktur, operasional, dan keamanan," tegasnya dalam acara peluncuran Lenovo CIO Playbook 2026 di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Salah satu temuan krusial dalam laporan ini juga terhadap kenaikan adopsi Agentic AI atau AI otonom yang tercatat akan tumbuh dua kali lipat dalam tahun ini. Saat ini, sebanyak 21% organisasi di ASEAN dilaporkan menggunakan Agentic AI, sementara 60% lainnya bersiap akan menjajal teknologi ini.
Sebagai informasi, teknologi ini mencakup Generative AI serta infrastruktur pendukungnya yang dinilai mampu mengakselerasi otomatisasi bisnis.
Kendati adopsi meningkat, kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha. President Director Lenovo Indonesia Budi Janto mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam proses adopsi tersebut.
Tantangan tersebut meliputi penerapan AI responsible AI, isu keamanan data dalam integrasi sistem, serta kualitas data yang dinilai masih buruk. Dia juga menilai bahwa penerapan AI di dalam perusahaan sangat bergantung kepada kepercayaan terhadap teknologi tersebut.
“Pemenangnya di era Agentic AI bukan yang paling cepat bergerak, tapi yang paling dapat dipercaya,” ujarnya dalam acara yang sama.
Adapun mengenai kesiapan perusahaan, tercatat sebanyak 41% perusahaan mengaku membutuhkan waktu 1 tahun untuk benar-benar siap mengimplementasikan teknologi ini secara optimal.
Sementara itu, hanya 10% perusahaan yang merasa infrastrukturnya sudah sepenuhnya siap untuk melakukan skalabilitas pada Agentic AI.
Terkait pengembalian investasi (Return on Investment/ROI), persepsi pasar juga telah bergeser. Sebanyak 88% organisasi ingin ROI yang positif dari AI dengan rata-rata pengembalian investasi sebanyak 2,8x lipat.
Di sisi lain, Indonesia dan kawasan ASEAN dinilai sebagai pasar krusial dengan ekonomi yang berkembang pesat dan tingkat digitalisasi tinggi. Data menunjukkan 67% organisasi di wilayah ini telah melakukan uji coba AI secara sistematis dengan fokus utama pada kemampuan integrasi perangkat dalam lingkungan hybrid. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)