Ekonomi AS Tumbuh 4,3% pada Kuartal III/2025, Tercepat dalam Dua Tahun
Ekonomi AS tumbuh 4,3% di Q3 2025, tercepat dalam dua tahun, didorong belanja konsumen dan kebijakan perdagangan. Proyeksi pemulihan moderat di 2026.
(Bisnis.Com) 24/12/25 06:19 83395
Bisnis.com, JAKARTA — Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 4,3% pada kuartal III/2025 atau tercepat dalam dua tahun terakhir. Kinerja ekonomi AS ditopang oleh ketahanan belanja konsumen dan dunia usaha serta kebijakan perdagangan yang lebih kondusif.
Laporan Biro Analisis Ekonomi atau Bureau of Economic Analysis (BEA) yang dilansir dari Bloomberg pada Rabu (24/12/2025) mencatat, produk domestik bruto (PDB) riil AS, yang telah disesuaikan dengan inflasi, meningkat dengan laju tahunan 4,3%.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan hampir seluruh proyeksi dalam survei Bloomberg dan melanjutkan pertumbuhan 3,8% pada periode sebelumnya.
BEA sejatinya dijadwalkan merilis estimasi awal PDB pada 30 Oktober, namun laporan tersebut tertunda akibat penutupan pemerintahan AS. Biasanya, BEA merilis tiga estimasi PDB setiap kuartal seiring masuknya data tambahan, tetapi untuk periode ini hanya akan diterbitkan dua laporan menjelang penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS.
Laporan yang tertunda itu menunjukkan momentum ekonomi tetap terjaga hingga pertengahan tahun, didorong belanja konsumen yang kuat serta pencabutan sebagian tarif paling ketat yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Meski penutupan pemerintahan diperkirakan menekan pertumbuhan kuartal IV/2025, para ekonom memproyeksikan pemulihan moderat pada 2026 seiring pencairan pengembalian pajak rumah tangga dan potensi putusan Mahkamah Agung yang dapat membatalkan tarif global Trump.
Proyeksi terbaru Federal Reserve sejalan dengan pandangan tersebut. Ketua The Fed Jerome Powell menyebut dukungan kebijakan fiskal, belanja pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta konsumsi rumah tangga yang berkelanjutan sebagai faktor pendorong proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat pada tahun depan.
Para pembuat kebijakan memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 setelah tiga kali penurunan berturut-turut hingga akhir tahun ini.
Salah satu alasan kehati-hatian sebagian pejabat The Fed untuk memangkas suku bunga lebih jauh adalah inflasi yang masih berada di atas target 2%.
Laporan BEA menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) inti—indikator inflasi favorit The Fed—naik 2,9% pada kuartal III/2025.
Namun, BEA belum menjadwalkan ulang rilis data PCE bulanan untuk Oktober dan November.
"Meski terdapat tanda-tanda perlambatan belanja konsumen pada kuartal IV, fondasi ekonomi masih cukup kuat,” ujar ekonom senior Nationwide, Ben Ayers.
Dia menambahkan, pihaknya optimistis ekonomi AS akan kembali berakselerasi pada 2026.
Data lain yang dirilis Selasa menunjukkan kepercayaan konsumen AS turun untuk bulan kelima berturut-turut pada Desember, menyamai tren terpanjang sejak 2008. Pelemahan tersebut mencerminkan kekhawatiran berkelanjutan terkait inflasi, tarif, dan dinamika politik. Kendati demikian, indeks S&P 500 tetap menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS memangkas pelemahannya.
Belanja konsumen—mesin utama pertumbuhan ekonomi AS—tetap meningkat dengan laju tahunan 3,5% pada kuartal III. Kenaikan tersebut didorong oleh pengeluaran jasa, termasuk layanan kesehatan dan perjalanan internasional, meski belanja kendaraan bermotor mengalami penurunan.
Namun, pasar tenaga kerja yang mulai melunak serta tingginya biaya hidup diperkirakan menjadi tantangan bagi konsumen pada 2026. Kondisi tersebut turut memperlebar kesenjangan belanja rumah tangga berdasarkan tingkat pendapatan.
Dari sisi korporasi, investasi bisnis tumbuh 2,8%, didorong lonjakan belanja peralatan komputer. Investasi pusat data—yang menjadi tulang punggung infrastruktur AI—mencapai rekor tertinggi baru.
Peralatan Bisnis Turun
Data terpisah menunjukkan pesanan peralatan bisnis AS pada Oktober turun lebih dalam dari perkiraan. Meski demikian, pengiriman barang modal nonpertahanan termasuk pesawat—komponen yang langsung masuk dalam perhitungan investasi PDB—lebih kuat dari ekspektasi, menandakan adanya momentum menuju kuartal IV.
Laporan lain mencatat produksi industri hanya meningkat tipis secara rata-rata pada Oktober dan November, tertahan oleh lemahnya output manufaktur.
Ekspor bersih menyumbang sekitar 1,6% terhadap pertumbuhan PDB setelah berfluktuasi pada paruh pertama tahun ini. Barang dan jasa yang tidak diproduksi di AS dikurangkan dari perhitungan PDB meski tetap dihitung saat dikonsumsi. Sementara itu, persediaan dan investasi perumahan justru menekan pertumbuhan pada kuartal III.
Presiden Trump dalam unggahan di Truth Social menyatakan tarif perdagangan bertanggung jawab atas kinerja ekonomi AS yang hebat.
Namun, secara tahunan, laju pertumbuhan ekonomi lebih moderat, yakni 2,3%, mencerminkan dampak tarif impor yang lebih tinggi serta inflasi yang masih bertahan.
Karena fluktuasi perdagangan dan persediaan mendistorsi angka PDB sepanjang tahun ini, para ekonom lebih mencermati indikator penjualan akhir kepada pembeli domestik swasta (final sales to private domestic purchasers), ukuran yang lebih sempit untuk permintaan konsumen dan investasi bisnis. Indikator ini naik 3%, tertinggi dalam setahun.
Indikator utama lainnya, yakni pendapatan domestik bruto (gross domestic income/GDI), meningkat 2,4% setelah revisi kenaikan 2,6% pada kuartal II.
Jika PDB mengukur belanja barang dan jasa, GDI mencerminkan pendapatan dan biaya yang dihasilkan dari proses produksi.
Laporan tersebut juga memuat data terbaru laba perusahaan, yang naik 4,2% pada kuartal III—kenaikan tertinggi sepanjang tahun ini. Rasio laba setelah pajak perusahaan nonkeuangan terhadap nilai tambah bruto—sebagai proksi margin keuntungan—terus menyempit sepanjang tahun ini, meski masih berada jauh di atas level era 1950-an hingga sebelum pandemi.
Estimasi final PDB kuartal III dijadwalkan rilis pada 22 Januari. BEA belum menetapkan tanggal baru untuk estimasi awal PDB kuartal IV dan kinerja ekonomi sepanjang 2025 yang semula dijadwalkan pada 29 Januari, dengan alasan data yang tersedia belum mencukupi.
#ekonomi-as #pertumbuhan-ekonomi #pdb-as #belanja-konsumen #kebijakan-perdagangan #inflasi-as #federal-reserve #suku-bunga #investasi-bisnis #pasar-tenaga-kerja #tarif-perdagangan #konsumsi-rumah-tangg