Bankir Ungkap Tantangan Utama Bukan Likuiditas, Tapi Risiko & Permintaan Kredit

Bankir Ungkap Tantangan Utama Bukan Likuiditas, Tapi Risiko & Permintaan Kredit

Pertumbuhan kredit 2025 melambat karena lemahnya permintaan dan risiko, bukan masalah likuiditas.

(Bisnis.Com) 22/12/25 15:35 81314

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan kreditperbankan sepanjang 2025 masih bergerak melambat meskipun otoritas moneter dan pemerintah telah menggulirkan berbagai stimulus.

Sejumlah pelaku industri menilai tantangan utama saat ini bukan pada likuiditas, melainkan lemahnya permintaan kredit dan kehati-hatian perbankan dalam mengelola risiko.

Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia Efdinal Alamsyah menyebut perbankan saat ini masih cenderung berhati-hati karena kualitas debitur belum sepenuhnya pulih, sementara dunia usaha masih menahan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Tantangan utama saat ini bukan lagi likuiditas tetapi tantangannya ada pada risiko dan permintaan kredit. Akibatnya, ruang likuiditas yang ada belum sepenuhnya terkonversi menjadi kredit,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (22/12/2025).

Dia bilang, perlambatan kredit terutama berasal dari segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan komersial seiring lemahnya permintaan pembiayaan dan penerapan selektivitas yang lebih ketat. Sementara itu, kredit konsumtif relatif lebih stabil meski tetap menghadapi tekanan dari sisi suku bunga dan daya beli masyarakat.

"Ke depan, pertumbuhan kredit akan lebih optimal jika pelonggaran likuiditas diimbangi dengan penguatan permintaan sektor riil dan perbaikan iklim usaha. Dengan begitu, perbankan otomatis akan menyalurkan kredit dan menurunkan bunga secara berkelanjutan," sebutnya.

Pandangan senada disampaikan Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan. Dia menilai permintaan kredit masih rendah, baik di segmen korporasi maupun UKM.

“Faktor utamanya adalah permintaan kredit yang masih rendah, baik dari korporasi maupun UKM, kemungkinan karena daya beli masyarakat yang belum pulih,” kata Lani kepada Bisnis.

Terkait penurunan suku bunga kredit, Lani menegaskan penetapan bunga tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada sejumlah faktor. “Di kami, suku bunga kredit akan tergantung pada cost of fund, faktor risiko kredit, serta relationship dengan nasabah. Karena itu, bunga kredit tidak seragam,” jelasnya.

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli menambahkan bahwa perbankan dan dunia usaha sama-sama membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap pelonggaran kebijakan.

“Bank memerlukan waktu untuk menurunkan suku bunga kredit secara bertahap, sementara pelaku industri juga butuh waktu untuk memanfaatkan penurunan suku bunga ke dalam rencana ekspansi bisnis,” ujarnya kepada Bisnis.

Melihat kebijakan finansial yang ada saat ini, Ganda menilai langkah-langkah tersebut sebenarnya sudah cukup mendukung pertumbuhan kredit. Tinggal menunggu kesiapan dunia industri untuk mulai berekspansi pada awal 2026 dengan dukungan pemerintah, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia sepanjang 2025 telah menempuh berbagai kebijakan untuk mendorong penyaluran kredit, baik melalui pelonggaran moneter maupun makroprudensial. BI telah memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 125 basis poin sepanjang tahun ini guna menurunkan biaya dana dan mendorong pembiayaan.

Selain itu, BI juga melonggarkan kebijakan makroprudensial melalui kenaikan rasio pendanaan luar negeri (RPLN), penurunan rasio penyangga likuiditas makroprudensial (PLM), serta penguatan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM). Insentif KLM diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas dan padat karya.

Meski demikian, data menunjukkan kredit perbankan hanya tumbuh 7,74% secara tahunan pada November 2025, masih di bawah target pertumbuhan kredit Bank Indonesia di kisaran 8%–11%.

Suku bunga kredit pun baru turun terbatas, dari 9,2% pada awal 2025 menjadi 8,96% per November 2025, meskipun BI Rate telah dipangkas agresif.

#pertumbuhan-kredit #risiko-kredit #permintaan-kredit #likuiditas-perbankan #suku-bunga-kredit #kredit-perbankan #kredit-ukm #kredit-konsumtif #penyaluran-kredit #kebijakan-moneter #ekonomi-indonesia #n-a

https://finansial.bisnis.com/read/20251222/90/1938820/bankir-ungkap-tantangan-utama-bukan-likuiditas-tapi-risiko-permintaan-kredit