Hilirisasi Energi Bisa Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah
Indef menilai hilirisasi yang berbasis energi terbarukan berpotensi memperkuat perekonomian daerah dan meningkatkan penerimaan asli daerah.
(Bisnis Tempo) 10/12/25 20:17 68268
DIREKTUR Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Imaduddin Abdullah, mengatakan transisi energi dapat menjadi mesin baru pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan begitu, daerah yang selama ini bergantung kepada sumber daya alam mentah dapat membuka peluang diversifikasi sumber pendapatannya.
“Di level nasional kita sudah mulai menjadi negara dengan ekonomi yang lebih terdiversifikasi. Prinsip ini perlu diadopsi di level daerah, apalagi dengan momentum transisi hijau saat ini,” kata Imaduddin dalam acara "Tempo Energi Day" di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Desember 2025.
Imaduddin berkaca kepada daerah yang punya potensi sumber daya alam melimpah seperti Kalimantan Timur dengan batu baranya. Daerah semacam ini memiliki kapasitas fiskal yang kuat. Namun ia menilai model ekonomi berbasis eksploitasi SDA tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Menurut Imaduddin, hilirisasi yang berbasis energi terbarukan berpotensi memperkuat struktur ekonomi daerah sekaligus meningkatkan penerimaan asli daerah (PAD). Ia mencontohkan peluang karbon kredit yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah yang mampu mengembangkan proyek-proyek berbasis energi bersih.
Pemerintah saat ini telah menetapkan program hilirisasi untuk 18 komoditas dan memetakan proyek-proyek prioritas di berbagai provinsi. Imaduddin menilai kebijakan ini dapat memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di luar Jawa dan mengurangi ketergantungan daerah terhadap dana transfer berbasis SDA.
Ia mengatakan Indef melakukan kajian mengenai dampak penggunaan energi terbarukan dalam proses hilirisasi. Hasil awal menunjukkan industri yang lebih hijau memiliki akses pasar lebih luas seperti nikel dalam industri mobil listrik.
Menurut perhitungan Indef, penggunaan energi terbarukan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah hingga 0,4 persen. “Jika pertumbuhan awalnya 5 persen, maka dengan menginjeksi energi terbarukan, pertumbuhannya bisa menjadi 5,4 persen karena peningkatan daya saing dan perluasan pasar,” ujar Imaduddin.
Untuk itu, ia menekankan masa depan ekonomi daerah akan sangat ditentukan oleh kemampuan wilayah memanfaatkan hilirisasi energi dan momentum transisi hijau. “Ini menjadi tulang punggung ekonomi berkelanjutan, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga di daerah,” ujarnya.
Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional sebelumnya sudah menyusun studi kelayakan hilirisasi 18 komoditas sektor energi. Proyek ini diusulkan untuk digarap oleh Danantara.
Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi Bahlil Lahadalia mengatakan proyek itu terdiri dari delapan proyek di sektor mineral dan batu bara (minerba). Lalu tiga proyek pertanian, tiga proyek kelautan dan perikanan, dua proyek transisi energi, serta dua proyek ketahanan energi.
“Total nilai 18 proyek prioritas ini mencapai Rp 618,13 triliun dengan potensi penyerapan lapangan pekerjaan sebanyak 276.636 orang,” kata Bahlil di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Selasa, 22 Juli 2025.
Dia menuturkan bahwa pemerintah akan membentuk Satgas Investasi dan Ketahanan Energi yang diinisiasi langsung oleh Danantara bersama Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. “Kami akan terus intensif bergerak bersama Danantara, termasuk dalam hal pendanaan, penyelesaian hukum, pembebasan lahan, dan dampak sosial-lingkungan,” ucap Bahlil Lahadalia.
#hilirisasi #transisi-energi #tempo #bahlil-lahadalia #energi-terbarukan #danantara #pertumbuhan-ekonomi
https://tempo.co/ekonomi/hilirisasi-energi-bisa-jadi-mesin-baru-ekonomi-daerah-2097770