Antisipasi Potensi Banjir Lahar Dingin Pascaerupsi Semeru, BMKG-BNPB Modifikasi Cuaca
BMKG dan BNPB modifikasi cuaca di Lumajang untuk cegah banjir lahar dingin pascaerupsi Semeru, fokus kurangi hujan ekstrem guna hindari bencana.
(Bisnis.Com) 28/11/25 14:25 53793
Bisnis.com, SURABAYA – Untuk mengantisipasi potensi banjir lahar dingin di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menyusul banyaknya material vulkanik Gunung Semeru, yang erupsi pada Rabu (19/11/2025), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari, terhitung sejak Rabu (26/11/2025).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan bahwa fokus utama OMC di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Lumajang adalah untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah hulu untuk mencegah banjir lahar dingin yang bersifat destruktif.
Selain itu, Seto menjelaskan bahwa pelaksanaan OMC juga ditujukan untuk antisipasi kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi basah lainnya, seperti longsor di Provinsi Jawa Timur.
“Objektivitas misi OMC di Provinsi Jawa Timur kali ini lebih difokuskan untuk antisipasi banjir lahar dingin pasca erupsi Gunung Semeru. Setiap hari kami monitor hasil prakiraannya, apabila ada potensi hujan yang tinggi, maka kami upayakan intervensi melalui OMC supaya hujan di hulu tidak terlalu ekstrem. Dengan berkurangnya intensitas hujan, maka potensi banjir lahar dingin dapat direduksi,” ucap Seto dalam keterangan resminya, Jumat (28/11/2025).
Pelaksanaan OMC tersebut didasarkan pada analisis meteorologi yang menunjukkan potensi peningkatan pembentukan awan hujan signifikan di Jawa Timur. Seto menjelaskan, nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) pada periode 30 November hingga 2 Desember 2025 menunjukkan nilai negatif di sebagian wilayah Jawa Timur, yang mengindikasikan peningkatan pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan.
Di sisi lain, BMKG juga mendeteksi adanya aktivasi Gelombang Rossby Equator dan Low Frequency di sebagian besar wilayah Jawa Timur pada periode 25 November sampai 2 Desember 2025.
"Kondisi cuaca ini bertepatan dengan telah masuknya musim hujan di area Jawa Timur, yang meningkatkan risiko bencana susulan mengingat material erupsi vulkanik banyak mengendap di permukaan, khususnya di aliran material erupsi di Kabupaten Lumajang," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa pengoperasian OMC yang diberangkatkan dari Lanudal Juanda Sidoarjo telah dilakukan sebanyak empat sorti penerbangan, dengan total empat ton bahan disemai.
Dalam operasi kali ini, pesawat Cessna Caravan akan mengintervensi awan yang berpotensi menjadi hujan lebat sebelum awan tersebut mencapai area target yang ingin diamankan, yakni Kabupaten Lumajang.
“Hal ini tidak lepas dari pertimbangan safety penerbangan agar selain efektif, OMC juga berjalan dengan aman akibat faktor Gunung Semeru yang masih aktif,” tegas Budi.
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan menekankan pentingnya sinergitas antara BMKG dan BNPB dalam misi kebencanaan ini.
Selain itu, BMKG juga secara aktif memberikan rekomendasi implementasi OMC kepada BNPB, apabila terdeteksi potensi cuaca pemicu bencana guna memastikan upaya mitigasi dapat dilaksanakan secara tepat waktu dan tepat sasaran.
“Dalam pelaksanaan OMC di lapangan, personel kami aktif mendampingi BNPB dalam memberikan rekomendasi teknis dan umum terkait pelaksanaan OMC agar objektivitas misi dapat tercapai,” pungkasnya.
#banjir-lahar-dingin #erupsi-gunung-semeru #modifikasi-cuaca #bmkg-bnpb #kabupaten-lumajang #intensitas-hujan #bencana-hidrometeorologi #operasi-modifikasi-cuaca #potensi-banjir #jawa-timur #gelombang