Menjahit Kemandirian Fashion Syariah

Menjahit Kemandirian Fashion Syariah

Ironinya, negara Muslim terbesar justru lebih banyak mengimpor pakaian Muslim daripada memproduksinya. Kita harus menjahit kemandirian fashion syariah

(Kompas.com) 15/10/25 11:58 4052

Saya terkagum-kagum dengan desain busana Muslim Indonesia, tapi ternyata 99 persen dipasok dari China.

PERNYATAAN Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (7/10/2025) itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah tamparan keras bagi wajah ekonomi syariah nasional.

Di tengah kebanggaan terhadap kreativitas desainer lokal dan geliat modest fashion, fakta itu menunjukkan satu hal: industri fashion syariah kita belum mandiri.

Kegelisahan Purbaya bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan kekagumannya saat menghadiri peragaan busana yang digelar Bank Indonesia beberapa waktu lalu.

Rancangan busana Muslim yang ditampilkan memukau, tetapi nyaris semua diproduksi di pabrik luar negeri.

Ungkapan ini membuka tabir betapa nilai tambah industri halal kita bocor ke luar negeri, sementara pasar domestik terus tumbuh.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat kekhawatiran itu. Pada Maret 2024, impor pakaian jadi rajutan (HS 61) mencapai 23,98 juta dollar AS, dan pakaian nonrajutan (HS 62) 24,91 juta dollar AS. Lebih dari 30 persen di antaranya berasal dari China.

Sementara Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, sekitar 50 persen impor tekstil dan produk tekstil (TPT) dari negara tersebut bahkan tidak tercatat secara resmi—menyebabkan potensi kerugian negara hingga Rp 46 triliun per tahun.

Artinya, industri modest fashion nasional yang kini tumbuh pesat justru bergantung pada rantai pasok asing. Bahan baku, benang, hingga pewarna kain masih diimpor.

UMKM hanya bertindak sebagai perancang dan pengecer, bukan produsen utama. Akibatnya, lapangan kerja dan nilai tambah hilang. Ini bukan sekadar masalah dagang, tetapi indikasi lemahnya struktur ekonomi sektor riil halal Indonesia.

Padahal, menurut laporan DinarStandard (2024), pasar busana Muslim global bernilai 320 miliar dollar AS dan akan naik menjadi 375 miliar dollar AS pada 2028.

Indonesia menjadi konsumen terbesar kedua setelah Turkiye, tapi bukan pemain utama dalam produksi. Ironinya, negara Muslim terbesar di dunia justru lebih banyak mengimpor pakaian Muslim daripada memproduksinya.

Fenomena ini menegaskan apa yang disebut para ekonom sebagai “paradoks ekonomi syariah”—besar di retorika halal, kecil di kapasitas produksi.

Dalam ajaran Islam, keberkahan ekonomi lahir dari kerja nyata, dari tangan-tangan yang memproduksi dan menambah nilai.

Ketika pakaian Muslim Indonesia dijahit di pabrik luar negeri, yang tumbuh bukan sektor riil umat, melainkan defisit industri nasional.

Upaya pemerintah sebenarnya tidak sedikit. Setiap tahun, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) menampilkan ribuan karya lokal, menonjolkan busana syariah berkelanjutan.

Tahun 2025, lebih dari 1.100 desainer dan UMKM tampil di ajang itu. Namun, setelah lampu panggung padam, problem klasik muncul lagi: bahan baku impor, sertifikasi halal mahal, dan minim dukungan pembiayaan.

Kita bersemangat memamerkan label halal, tapi belum menenun ekonomi halal dari serat lokal.

Sebagai perbandingan, Turkiye dan Uni Emirat Arab (UEA) sudah membuktikan bahwa modest fashion bisa menjadi sektor ekspor unggulan.

Turkiye membangun kawasan industri tekstil halal, menyiapkan pelatihan tenaga kerja, dan memberi insentif fiskal bagi produsen.

UEA mengembangkan Dubai Modest Fashion Council untuk memperkuat branding dan ekspor global.

Indonesia tertinggal karena masih sibuk dengan koordinasi antarlembaga: Kemenperin, KNEKS, Kemenkop UKM, BI, dan MUI, yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Untuk keluar dari jebakan ini, arah kebijakan harus bergeser dari simbol ke struktur.

Pertama, pemerintah perlu membangun rantai nilai halal nasional—mulai dari riset bahan baku, industri tekstil, hingga digitalisasi pemasaran.

Kawasan seperti Bandung, Pekalongan, dan Aceh dapat dijadikan klaster Halal Fashion Hub Indonesia, menggabungkan riset serat alami, manufaktur, dan UMKM berbasis ekspor.

Kedua, perlu pembiayaan syariah yang pro-sektor riil. Saat ini, lebih dari 80 persen pembiayaan syariah terserap di sektor konsumsi.

Padahal, pembiayaan produktif seperti industri kain, mesin jahit, dan logistik halal justru berpotensi menyerap tenaga kerja besar. Skema mudharabah atau musyarakah harus dihidupkan untuk membiayai UMKM busana syariah.

Ketiga, pendidikan vokasi dan riset halal mesti diperkuat. Politeknik tekstil, pesantren kewirausahaan, dan universitas bisa melahirkan teknologi mode halal—bukan sekadar desainer.

Kita perlu riset bahan ramah lingkungan berbasis lokal seperti serat bambu, kapas, dan ecoprint alami agar industri halal Indonesia juga berwawasan keberlanjutan.

Kebangkitan sektor riil halal bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan umat.

Setiap penjahit di Garut, pembatik di Lasem, atau pengrajin tenun di Lombok adalah simpul kecil dari ekonomi syariah yang hidup.

Ketika mereka terlibat dalam rantai nilai nasional, maka barakah bukan sekadar jargon, melainkan hasil nyata dari kerja bersama.

Pemerintah kini tengah menyiapkan Peta Jalan Ekonomi Syariah 2025–2030, menempatkan industri halal sebagai pilar pertumbuhan baru.

Namun, peta jalan itu hanya akan bermakna jika disertai langkah konkret: penguatan industri, substitusi impor, dan ekspor halal mandiri. Tanpa itu, ekonomi syariah hanya akan menjadi label tanpa jahitan—indah di nama, rapuh di substansi.

Pernyataan Purbaya seharusnya menjadi momentum koreksi nasional. Ia bukan sekadar mengungkap keterkejutan seorang pejabat, tetapi memotret kesenjangan mendasar antara konsumsi dan produksi dalam ekonomi umat.

Indonesia punya pasar besar, talenta kreatif, dan warisan budaya busana yang unik. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian menjahit masa depan sendiri.

Menjahit kemandirian fashion syariah berarti menenun ulang struktur ekonomi nasional agar lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan. Karena bangsa yang menjahit pakaiannya sendiri, sejatinya sedang menjahit kedaulatannya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#fashion-muslim #pakaian-muslim

https://money.kompas.com/read/2025/10/15/115842526/menjahit-kemandirian-fashion-syariah