Pengamat Kritik Pembangunan Gudang Bulog Prioritaskan BUMN Karya
Pengamat kritik pembangunan 100 gudang Bulog yang hanya melibatkan BUMN Karya, menyarankan skema pembiayaan campuran untuk efisiensi dan transparansi.
(Bisnis.Com) 12/11/25 15:54 36488
Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat menyoroti langkah Perum Bulog dalam membangun 100 gudang penyimpanan beras dan jagung yang hanya melibatkan BUMN karya.
Rencananya, ratusan gudang Bulog itu akan mulai dibangun pada Januari 2026 dan ditargetkan rampung pada tahun depan.
Nantinya, setiap gudang Bulog memiliki kapasitas beragam, yakni dari 1.000–7.000 ton. Kapasitasnya tergantung dari luas sawah yang dimiliki setiap daerah.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai semestinya pembangunan gudang Bulog menggunakan skema pembiayaan campuran (blended financing) agar tidak membebani APBN.
“Jangan 100% APBN melibatkan BUMN Karya, tetapi bisa ajak koperasi atau pelaku usaha. Semestinya program-program andalan pemerintah ini ada yang dikonvergensikan, jangan masing-masing sendiri,” kata Eliza kepadaBisnis, Rabu (12/11/2025).
Eliza mencontohkan, Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih memiliki tujuan awal ingin menyerap hasil panen petani dan bisa mengolah gabah menjadi beras.
“Nah itu kan pasti butuh gudang, ya sebaiknya dorong KopDes ini bekerja sama dengan Bulog untuk mengelola gudangnya,” ujarnya.
Selain itu, sambung dia, KopDes/Kel Merah Putih tidak semua berasal dari pinjaman himpunan bank milik negara (Himbara), melainkan juga ada pendanaan lain.
Menurutnya, selain KopDes/Kel Merah Putih menggandeng swasta lokal, Bulog juga menyewa kepada swasta asalkan gudangnya sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) Bulog.
“Karena kalau bangun sendiri di awal, pasti butuh investasi besar, ditengah kondisi fiskal yang terbatas maka jangan 100% bergantung ke APBN,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Eliza menilai efisiensi anggaran akan terjadi jika tidak ada transparansi. Untuk itu, dia menyebut yang perlu diperhatikan adalah transparansi dan pengawasan pembangunan gudang. Dia menilai, masyarakat juga dapat turut serta mengawasi jalannya pembangunan gudang.
Eliza juga menyinggung terkait anggaran Rp5 triliun dalam pembangunan gudang Bulog. Menurutnya, tidak semua anggaran tersebut terealisasi, lantaran itu hanya dialokasikan.
“Keliru jika berasumsi setiap gudang jatahnya Rp50 miliar karena Rp5 triliun dibagi 100 gudang,” imbuhnya.
Dia menyebut, biaya pembangunan gudang di setiap daerah akan berbeda, apalagi lahan di Pulau Jawa yang sudah relatif mahal dan bisa mencapai lebih dari Rp50 miliar.
“Sementara gudang di nonsentra produksi yang nggak ada RMU [rice milling unit] atau dryer-nya ini bisa jadi kurang dari Rp50 miliar. Jadi akan ada subsidi silang antargudang, nggak bisa disamaratakan,” terangnya.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani sebelumnya mengatakan pembangunan akan diprioritaskan di kabupaten dan kota yang belum memiliki gudang untuk mengefisiensi dan mengefektifitaskan agar gudang tersebut lebih dekat sehingga ongkos menjadi lebih murah.
Nantinya, Bulog juga akan memprioritaskan pembangunan gudang di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti di Nias Selatan dan Morotai.
“Kenapa? Kalau begitu musim pasang airnya tinggi atau musim barat, itu kapal nggak bisa berlayar ke sana, sehingga perlu mengandalkan gudang tersebut, sedangkan di sana belum ada gudang. Nah ini prioritasnya seperti itu,” ujar Rizal saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Namun, Rizal menuturkan tidak semua gudang dilengkapi dengan mesin penggiling padi (RMU) maupun dryer, alias hanya gudang. Untuk lokasi daerah yang tidak sentra produksi pangan, Bulog hanya akan membangun gudang.
“Namun kalau yang wilayahnya punya sentra produksi pangan, itu dilengkapi dengan RMU, dryer, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Ke depan, Bulog akan melakukan sinkronisasi data dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui daerah mana saja yang menjadi sentra produksi, infrastruktur, SDM, hingga teknologi.
Adapun, Bulog akan memprioritaskan BUMN Karya untuk membangun 100 gudang Bulog. Namun, hingga saat ini Bulog belum memutuskan siapa BUMN Karya yang akan membangun gudang tersebut.Meski begitu, Bulog menargetkan 100 gudang tersebut akan rampung pada tahun ini.
“Kita penginnya sih 100 [gudang] itu setahun jadi. Penginnya. Tapi kan kita nggak tahu, kaitannya masalah material, alam, cuaca, dan sebagainya itu kan kami tidak bisa prediksikan,” tandasnya.
#bulog-gudang #pembangunan-gudang-bulog #bumn-karya #gudang-penyimpanan-beras #gudang-penyimpanan-jagung #kapasitas-gudang-bulog #blended-financing #apbn-bulog #koperasi-desa-bulog #swasta-lokal-bulog #n-a