PHK Tekstil Melonjak, Jabar Harus Optimalkan Sektor Baru untuk Tekan Pengangguran
Pengangguran di Jabar meningkat akibat penurunan sektor tekstil. Solusinya dengan optimalkan UMKM, pariwisata, pertanian, dan investasi padat karya.
(Bisnis.Com) 10/11/25 17:25 34101
Bisnis.com, BANDUNG— Tingkat pengangguran di Jawa Barat harus segera diatasi dengan menggerakkan sektor padat karya non-TPT (Tekstil Produk Tekstil), seperti UMKM, Pariwisata, Pertanian serta Perkebunan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhamad Nur menjelaskan angka pengangguran yang meningkat di tengah laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat merupakan dampak dari menurunnya bisnis TPT akibat permasalahan yang kompleks.
Dia menuturkan, sektor TPT saat ini memang tengah mengalami tekanan. Dengan demikian, pemerintah bisa mengalihkan pertumbuhan perekonomian pada sektor padat karya lainnya seperti UMKM, pertanian, termasuk perkebunan.
Pasalnya, kata dia, sektor-sektor tersebut masih bisa masih memiliki room for growth yang bisa diandalkan sehingga bisa menjadi tulang punggung pada perekonomian Jabar ke depannya.
Ia menjelaskan saat ini banyak negara yang mulai melirik produk-produk UMKM domestik dan hal ini berpeluang untuk menjadi salah satu cara dalam peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sekaligus mempersempit ruang pengangguran.
"Mudah-mudahan ke depan anomali ini tidak terus menerus, tapi karena ini adalah kondisi di mana ada dampak terjadi pada padat karya seperti tekstil," paparnya.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di kuartal III/2025 secara tahunan mencapai 5,20% dan menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Namun, kondisi ini terbalik karena tingkat pengangguran terbuka TPT pada Agusus 2025, misalnya, TPT di Jabar justru naik 6,77% atau 1,78 juta orang.
Di sisi lain, optimisme peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan memperkecil angka pengangguran juga hadir dari proyeksi belanja pemerintah yang diperkirakan akan dioptimalkan untuk sektor usaha.
“Kelihatannya tahun depan akan ada peningkatan belanja dari pemerintah, ini akan memberikan dorongan yang luar biasa,” ungkapnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, masalah pengangguran di Jawa Barat yang meningkat bisa diatasi dengan investasi padat karya yang akan menyerap tenaga kerja besar.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa investasi di Jawa Barat saat ini mayoritas merupakan investasi padat modal dan teknologi.
“Sekarang memang mayoritas investasi padat karya dan padat modal, namun tidak menutup kemungkinan nanti investasi tersebut akan menyerap banyak tenaga kerja. Salah satunya BYD yang kemungkinan akan membutuhkan 18.000 tenaga kerja jika sudah beroperasi seluruhnya,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemprov Jabar pun sekarang sedang mengupayakan investasi dari berbagai sektor agar bisa menambah jumlah pekerja baru di Jawa Barat.
Bukan hanya pada industri kendaraan listrik, tapi juga sektor lainnya seperti pemanfaatan di kawasan pesisir yang belum maksimal.
Pelatihan pun terus digenjot khususnya pada pendidikan vokasi agar mereka bisa lebih mudah terserap industri.
Kegiatan tersebut tidak diinisiasi dari pemda saja, tapi justru dari pelaku industrinya yang meminta karena memang membutuhkan tenaga kerja,
"Karena memang mau tidak mau harus gotong royong begitu agar penurunan pengangguran bisa signifikan. Kita targetkan akhir tahun ini bisa turun lagi ke angka 6,75%," tutupnya.
#phk #angka-phk #pengangguran-jawa-barat #sektor-padat-karya #umkm-jawa-barat #pertumbuhan-ekonomi-jabar #investasi-padat-karya #pengangguran-tekstil #sektor-pertanian-jabar #pariwisata-jawa-barat #per