Titik Nadir Industri Tekstil

Titik Nadir Industri Tekstil

Industri tekstil nasional kian terpuruk akibat  banjir produk impor. Mulai dari benang, kain, garmen hingga pakaian bekas.

(Bisnis Tempo) 07/11/25 09:00 30663

MENTERI Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkap data yang cukup menohok. Seusai acara di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Kamis 6 November 2025, politikus Partai Golkar itu mengungkapkan ada 1.800 ton pakaian bekas yang masuk ke Indonesia per Agustus lalu. Dilihat dari 2021, jumlah impor pakaian bekas ini melonjak drastis. Pada 2021, volume yang masuk hanya 7 ton. Lalu pada 2022 dan 2023 sebanyak 17 ton. Sedangkan pada 2024 mencapai 3.600 ton.

Lonjakan volume impor ini berhubungan dengan tren thrifting alias belanja produk bekas pakai dari luar negeri. Bisa pakaian, aksesori, atau tas dan sepatu. Di mata konsumen, thrifting adalah cara yang pas untuk mendapatkan barang bermerek dengan harga sangat murah. Misalnya, di bursa pakaian bekas Gedebage, Bandung, Jawa Barat, harga satu potong T-shirt dari sebuah produsen apparel olahraga asal Jerman dibanderol Rp 150 ribu. Barang yang sama, jika dijual di mal dalam kondisi baru, bisa menembus Rp 1 juta. Siapa yang tak tergiur? Apalagi kondisi pakaian bekas itu masih sangat bagus.

Bagi para pelaku industri tekstil, tren thrifting adalah ancaman serius yang menjadi momok selama bertahun-tahun. Betapa tidak, gara-gara baju bekas impor itu, produk mereka kehilangan pasar alias tak laku. Padahal para pelaku industri sudah berinvestasi besar untuk membangun pabrik, membeli mesin dan bahan baku, serta menggaji karyawan. Beda dengan pedagang dan importir baju bekas yang hanya perlu modal untuk menebus barang di pelabuhan atau negara asal. Gara-gara baju bekas membanjiri pasar, banyak pabrik tekstik tutup dan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Pelaku industri tekstil di sisi hulu juga tak kalah merana. Benang dan kain asal Cina serta sejumlah negara lain terus membanjiri pasar meski pemerintah memberlakukan kuota impor. Di sektor ini ada modus yang lebih canggih dan berbau korupsi. Sejumlah asosiasi produsen tekstil menduga beberapa perusahaan yang berada di kawasan berikat merembeskan benang dan kain ke pasar retail. Padahal barang itu seharusnya menjadi bahan baku pabrik yang mengajukan permohonan impor.

Itu sebabnya industri tekstil kita kian hari kian suram. Ibarat kata, industri tekstil ada di titik nadir, bertahan hidup, padahal jika dilihat dari aspek keuangan sudah default atau mengalami kekurangan modal. PHK terjadi di mana-mana. Salah satu jumlah PHK terbesar terjadi pada karyawan PT Sri Rejeki Isman atau Sritex, produsen seragam militer yang bermarkas di Solo, Jawa Tengah, yaitu 11.025 pekerja dari Agustus 2024 hingga Februari 2025. Jika pemain besar seperti Sritex tumbang, bagaimana dengan pabrik konfeksi kelas rumah tangga?

Untuk mendapatkan gambaran lengkap soal karut-marut industri tekstil ini, Anda bisa membaca tulisan berjudul "Penyebab Bisnis Tekstil Makin Lesu" dan "Bekerja di Bawah Ancaman PHK". ●

#industri-tekstil #phk #kementerian-perindustrian #impor-tekstil #tekstil

https://tempo.co/ekonomi/titik-nadir-industri-tekstil-2087205