Bos Danantara Buka-Bukaan Soal Proyek DME
Menteri Investasi Rosan Roeslani mengevaluasi 18 proyek hilirisasi, termasuk DME, untuk memastikan keberhasilan dan menghindari kegagalan proyek di masa lalu.
(Bisnis.Com) 06/11/25 20:08 30266
Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan pihaknya saat ini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap 18 proyek hilirisasi yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Hal ini dia sampaikan usai melaporkan perkembangan evaluasi proyek hilirisasi usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (6/11/2025). Salah satu proyek yang menjadi fokus pembahasan adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).
“Ya kita tentunya yang disampaikan oleh Pak Bahlil itu kemudian kita kan melakukan evaluasi secara keseluruhan. Itu tadi yang saya sampaikan di awal. Jadi kita evaluasi secara keseluruhan untuk proyek-proyek yang visible ya itu segera kita tindak lanjuti, gitu ya,” kata Rosan usai rapat.
Khusus untuk proyek DME, Rosan menjelaskan bahwa pemerintah melalui lembaga investasi Danantara akan memastikan penggunaan teknologi yang mutakhir dan efisien agar proyek tidak mengalami kegagalan seperti sebelumnya.
“Ya memang DME termasuk salah satu yang kita evaluasi dan baik. Tapi kita juga memastikan dulu untuk teknologinya, teknologi yang yang kita utamakan adalah yang up to date juga dan yang paling efisien lah. Karena kan DME ini dulu pernah dicoba dijalankan. Ya kan? Sempat groundbreaking malah, tetapi kemudian berhenti kan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan, Danantara tidak ingin pengulangan proyek berhenti di tengah jalan seperti pengalaman masa lalu.
“Nah, hal itu yang kami kalau di Danantara tidak ada, tidak mau ada hal itu terjadi lagi. Jadi kita benar-benar kalau melakukan evaluasi benar-benar secara menyeluruh sehingga pada saat kita mulai berjalan atau groundbreaking, itu akan berjalan secara full dan sesuai dengan target-target yang dicanangkan. Itu aja ya,” tutur Rosan.
Terkait dengan skema investasi proyek DME, Rosan menyebut Danantara berpotensi menanamkan investasi langsung.
“Kita bisa investasi langsung sih mungkin ya,” katanya.
Namun, dia belum bisa menyebutkan besaran investasi yang akan dikucurkan.
“Saya enggak ingat angkanya soalnya ada ada banyak angka-angkanya,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut bahwa terdapat 18 proyek hilirisasi yang akan dikoordinasikan dengan BPI Danantara.
Mengingat, rencananya proyek ini akan dimulai pada tahun depan. Adapun,beberapa proyek yang dimaksud adalah pabrik Dimethyl Ehter (DME) yang akan menggantikan produk Liquified Petroleum Gas (LPG), hingga kilang minyak.
"Kami akan selesaikan di tahun ini [persiapan], untuk semuannya dan di 2026 langsung pekerjaan di lapangan bisa berjalan," katanya.
Berikut daftar 18 Proyek Hilirisasi yang bakal dikejar pada 2026, sebagai berikut:
1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit) yang berada di wilayah Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp 60 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 14.700 pekerja
2. Industri DME (batu bara) yang berada di Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, Banyuasin dengan nilai investasi Rp 164 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 34.800 pekerja
3. Industri aspal yang berada di Buton, ulawesi Tenggara dengan nilai investasi Rp 1,49 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 3.450 pekerja
4. Industri Mangan Sulfat yang berada di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nilai investasi Rp 3,05 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 5.224 pekerja
5. Industri Stainless Steel Slab (Nikel) yang berada di Kawasan Indutri Morowali, Sulawesi Tengah dengan nilai investasi Rp 38,4 Triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 12.000 pekerja
6. Industri Cooper Rod, WIre & Tube (katoda tembaga) yang berada di Gesik, Jawa Timur dengan nilai investasi Rp 19,2 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 9.700 pekerja
7. Industri Besi Baja (Pasir Besi) yang berada di Kabupaten Sarmi, Papua dengan nilai investasi Rp 19 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 18.000 pekerja
8. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit) yang berada di Kendawangan, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp 17,3 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 7.100 pekerja
9. Industri Olresin (Pala) yang berada di Kabupaten Fakfak, Papua Barat dengan nilai investasi Rp 1,8 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 1.850 pekerja
10. Industri Oleofood (Kelapa Sawit) yang berada di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan Timur (MBTK) Rp 3 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 4.800 pekerja
11. Industri Nata de Coco, Medium-Chain Triglycerides (MTC), Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa) yang berada di Kawasan Industri Tenayan, Riau dengan nilai investasi Rp 2,3 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 22.100 pekerja
12. Industri Chlor Alkali Plant (Garam) di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, Banten, dan NTT dengan nilai transaksi Rp 16 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 33.000 pekerja
13. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia) di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan nilai investasi Rp 1 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 27.600 pekerja
14. Industri Carrageenan (Rumput Laut) di Kupang, NTT dengan nilai investasi sebesar Rp 212 miliar. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 1.700 pekerja
15. Oil Refinery di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak dengan nilai investasi sebesar Rp 160 Triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 44.000 pekerja
16. Oil Storage Tanks di Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara dan Fakfak dengan nilai investasi sebesar Rp 72 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 6.960 pekerja
17. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika) di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah dengan nilai investasi Rp 24 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 19.500 pekerja
18. Industri Boavtur (Used Cooking Oil) di KBN Marunda, Kawasan Industri Cikarang dan Kawasan Industri Karawang dengan nilai investasi Rp 16 triliun. Proyek ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja hingga 10.152 pekerja.
#proyek-hilirisasi #evaluasi-proyek #dimethyl-ether #pengganti-lpg #teknologi-mutakhir #investasi-langsung #proyek-dme #menteri-investasi #rosan-roeslani #danantara #menteri-esdm #bahlil-lahadalia #ind
https://ekonomi.bisnis.com/read/20251106/44/1926822/bos-danantara-buka-bukaan-soal-proyek-dme