GDP Venture Ungkap Kunci Bertahan Startup di Era AI, Tidak Cukup Produk Bagus

GDP Venture Ungkap Kunci Bertahan Startup di Era AI, Tidak Cukup Produk Bagus

GDP Ventures menekankan pentingnya pemahaman AI bagi startup untuk bertahan. Startup harus mengkalkulasi risiko AI dan fokus pada model bisnis kuat serta manajemen keuangan.

(Bisnis.Com) 19/06/26 13:45 254451

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan modal ventura sekaligus venture builder, GDP Venture, mengingatkan para pelaku startup untuk memahami implementasi serta mengalkulasi risiko pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) agar model bisnis yang dijalankan tidak tergerus oleh perkembangan teknologi tersebut.

GDP Ventures menilai hadirnya teknologi AI memberi peluang sekaligus tantangan bagi bisnis startup.

Investing Partner GDP Ventures Antonny Liem mengatakan pemahaman terhadap AI saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen krusial bagi keberlanjutan bisnis rintisan. Pelaku usaha dituntut jeli melihat potensi disrupsi teknologi ini, baik sebagai peluang efisiensi maupun ancaman eksistensial yang dapat melenyapkan bisnis mereka dalam waktu singkat.

“Startup harus sudah tau AI itu dia bisa pakai buat apa? Ataupun AI itu bakal jadi resiko baru bisnisnya dia ke depan kah? Bisa aja misalnya dia mulai sebuah perusahaan yang dalam 2 tahun, atau lebih cepat digantikan oleh AI," ujar Antonny kepada Bisnis, dikutip Jumat (19/7/2026).

Menurutnya, kalkulasi risiko makro ini tidak hanya berlaku bagi korporasi skala besar, tetapi juga menjadi kewajiban mutlak bagi perusahaan rintisan sejak fase awal.

Selain memikirkan aspek produktivitas, profitabilitas, dan efisiensi, para pendiri (founders) harus mengantisipasi kemungkinan layanan atau produk mereka tidak lagi dibutuhkan pasar akibat tergantikan oleh ekosistem AI yang bergerak cepat.

Di sisi lain, dalam hal penilaian potensi pendanaan di tengah ketidakpastian global, GDP Ventures tetap memprioritaskan kekuatan model bisnis dan fundamental keuangan.

Antonny menyebut tantangan makro, tensi geopolitik, serta lonjakan biaya operasional menuntut pelaku usaha memiliki kompetensi tinggi dalam pengelolaan arus kas (cash flow management) dan manajemen keuangan.

Para pendiri startup tidak bisa lagi sekadar mengandalkan narasi potensi pasar yang besar tanpa kalkulasi unit ekonomi (unit economics) dan margin kotor (gross margin) yang jelas untuk mencetak laba.

“Startup harus tahu bagaimana untuk mencapai sana, bagaimana, butuh uang berapa. Dan kalau udah mencapai sana bisa membuat profit seberapa. Jadi betul-betul fundamental,” kata Antonny.

Dalam memetakan potensi investasi, GDP Ventures menerapkan tiga pilar evaluasi utama. Faktor manusia, yang mencakup kualitas pendiri, manajemen, dan soliditas tim, menempati posisi teratas. Faktor kedua adalah pemahaman mendalam terhadap teknologi secara luas, bukan terbatas pada AI semata.

Sementara itu, aspek produk justru ditempatkan pada urutan ketiga karena sifatnya yang harus terus berubah dan menyesuaikan diri dengan dinamika pasar.

Terkait strategi bisnis perusahaan saat ini, Antonny mengungkapkan GDP Ventures sedang mengambil posisi tidak aktif dalam menyuntikkan investasi baru. Sebagai venture builder yang telah beroperasi selama 15 tahun, fokus utama perusahaan kini dialihkan pada optimalisasi dan penguatan portofolio serta lini bisnis internal yang dikelola sendiri di dalam ekosistem.

Selain mendukung Blibli Group yang telah melantai di bursa saham, GDP Ventures sedang agresif mendorong ekspansi portofolio di sektor hiburan dan media, seperti PT Rising dan Visinema. Perusahaan berkomitmen memperbesar skala bisnis operating yang ada agar memiliki fundamental yang lebih kuat di tengah situasi pasar yang menantang.

#startup-ai #gdp-ventures #teknologi-ai #risiko-ai #bisnis-rintisan #disrupsi-teknologi #investasi-startup #model-bisnis #fundamental-keuangan #cash-flow-management #unit-economics #gross-margin #ventu

https://teknologi.bisnis.com/read/20260619/266/1981891/gdp-venture-ungkap-kunci-bertahan-startup-di-era-ai-tidak-cukup-produk-bagus