Head of Research DealStreetAsia Andi Haswidi menyatakan indeks peluang investasi ekuitas swasta (Private Equity/PE) dan modal ventura (Venture Capital/VC) di ... [508] url asal
Skor tersebut tidak menandakan kurangnya peluang investasi di Indonesia, tapi justru mencerminkan ekspektasi investor yang lebih terkendali.
Jakarta (ANTARA) - Head of Research DealStreetAsia Andi Haswidi menyatakan indeks peluang investasi ekuitas swasta (Private Equity/PE) dan modal ventura (Venture Capital/VC) di Indonesia kini berada di posisi 0,57.
Angka tersebut berdasarkan APAC (Asia-Pacific) PE/VC Opportunity Index yang disampaikan dalam kajian “Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow APAC PE/VC Edition 2026”. Skala indeks tersebut dibuat dalam rentang 0-1, dengan nilai yang semakin besar menandakan semakin banyak pula peluang untuk berinvestasi.
Dalam media briefing pembahasan hasil riset tersebut yang diikuti dari Jakarta, Rabu, Andi menuturkan bahwa dengan nilai indeks tersebut, Indonesia berada dalam kelompok menengah ke bawah (lower-middle range) bersama Selandia Baru (nilai indeks 0,59), Taiwan (0,58), Filipina (0,57), dan Thailand (0,55).
Ia menyatakan skor tersebut tidak menandakan kurangnya peluang investasi di Indonesia, tapi justru mencerminkan ekspektasi investor yang lebih terkendali.
Dia mengatakan, peluang investasi di Indonesia masih menjanjikan sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara dengan konsumsi yang semakin meningkat, mengingat jumlah populasi yang besar dengan usia yang relatif lebih muda dibandingkan negara-negara anggota ASEAN lainnya.
Namun, pertumbuhan kelas menengah tidak sebesar dulu, bahkan beberapa laporan menunjukkan adanya penurunan jumlah kelas menengah.
Hal tersebut mendorong investor untuk memfokuskan investasi mereka di sektor-sektor tertentu dengan tingkat permintaan yang tinggi.
“Tentu saja ada peluang besar (untuk berinvestasi) dalam (sektor) inklusi keuangan. Lalu, ada juga kebutuhan yang sangat besar terhadap pelayanan kesehatan, logistik, transisi energi, dan sebagainya,” ujar Andi Haswidi.
Tangkapan layar - Founder & CEO of Bintang Capital Partners Johan Rozali-Wathooth menjelaskan hasil kajian “Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow APAC PE/VC Edition 2026” dalam media briefing yang diikuti dari Jakarta, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Uyu Septiyati Liman
Meskipun memiliki peluang investasi yang besar, tata kelola korporasi yang baik masih menjadi tantangan dan sorotan bagi para investor yang ingin menyalurkan modal mereka kepada para pelaku usaha di Indonesia.
Founder & CEO of Bintang Capital Partners Johan Rozali-Wathooth menyatakan, banyak pelaku usaha skala menengah di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang mampu berkembang dengan cepat, tapi masih beroperasi secara informal.
Ia menuturkan, entitas-entitas usaha seperti itu biasanya memiliki struktur kepemilikan yang sangat terfragmentasi dan masih didominasi oleh hubungan keluarga.
Hal tersebut membuat badan usaha tersebut cenderung memiliki tata kelola dan pelaporan keuangan belum terstandardisasi, sehingga belum siap beroperasi secara institusional.
Namun, dia menilai kekurangan tersebut dapat menjadi peluang investasi yang signifikan bagi para mitra (General Partners/GP), termasuk ekuitas swasta dan modal ventura, yang memiliki kemampuan operasional yang mumpuni.
“Dalam hal ini, (investasi) ini bukan hanya tentang mempercayai narasi (ekonomi) makro, tetapi lebih tentang mempercayai rencana mikro dalam membangun bisnis tertentu,” kata Johan Rozali-Wathooth.
Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow APAC PE/VC Edition 2026 merupakan hasil survei eksklusif terhadap 105 manajer dana dan modal swasta dengan mandat investasi di seluruh Asia Pasifik yang diselenggarakan pada April 2026 oleh DealStreetAsia dan Vistra Fund Solutions.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekayaan milik keluarga konglomerat di India tengah menghadapi perombakan besar yang didorong oleh generasi penerus. Para pewaris kaya India kini secara agresif mengalihkan fokus dari aset tradisional seperti tanah dan emas menuju investasi berisiko tinggi di sektor teknologi dan startup.
Pergeseran ini terjadi menjelang transfer kekayaan antargenerasi senilai estimasi US$1,5 triliun (Rp 25.057 triliun). Salah satu yang melakukan adalah Rajat Mehta.
Ia adalah pewaris Mehta Group yang berbasis di Mumbai. Ketika perusahaanstartupyang ia dukung sejak 2016, Groww, dengan valuasi awal US$1,3 juta, listing di Bursa Saham Nasional dengan nilai fantastis US$8,6 miliar, Rajat Mehta merasa "terjustifikasi".
Rajat, seorang millennial, adalah yang mendorong keluarganya untuk berinvestasi di aset yang tidak terdaftar (unlisted assets) dan startup. Meskipun keluarga Mehta secara tradisional lebih menyukai kenyamanan perusahaan yang sudah terdaftar.
Mehta telah berinvestasi di 35 startup, termasuk beberapa yang bernilai lebih dari US$1 miliar. Ia mengakui bahwa startup pertamanya langsung bangkrut dalam tiga bulan.
"Tapi saya belajar dari itu dan terus berinvestasi," kenangnya.
Generasi millennials dan Gen Z ini, yang sering kali berpendidikan tinggi dengan gelar internasional, tidak lagi semata-mata berfokus pada pelestarian kekayaan. Melainkan menciptakan lebih banyak kekayaan melalui investasi berisiko tinggi yang menghasilkan alpha.
Minat ini terbukti ketika family office India menyalurkan US$300 juta ke startup quick commerce (niaga cepat) India bernama Zepto hanya dalam waktu empat minggu. Para ahli mencatat bahwa investasi startup menawarkan kemungkinan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan pengembalian tahunan rata-rata 15% dari investasi lain.
Para ahli mencatat bahwa investasi startup menawarkan kemungkinan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan pengembalian tahunan rata-rata 15% dari investasi lain. Shailesh Balachandran, pendiri TriGen Wealth, mengatakan, investor India yakin akan ada peluang kenaikan besar bila berinvestasi secara jamak di beberapa start up.
"Ada keyakinan bahwa kaum muda merasa dari 10 startup, satu akan muncul dan menjadi sangat besar, seperti Zomato," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa perusahaan tradisional yang terdaftar membutuhkan dua dekade untuk mencapai kapitalisasi pasar multi-triliun rupee, sementara Zomato mencapainya dalam hitungan bulan setelah listing.
Muralil Krishna Gunturu, mitra di Inflexor Ventures, mengamati bahwa hampir setengah dari modal di dana kedua perusahaannya berasal dari perusahaan keluarga India, sebuah tren yang mulai terasa sejak 45 startup India menjadi unicorn pada tahun 2021. Pendorong utama pergeseran ini adalah transfer kekayaan dari aset fisik-yang tidak likuid dan sulit didistribusikan-menjadi aset finansial, yang jauh lebih mudah dibagikan.
Perubahan ini memaksa family office di India untuk beradaptasi, dengan beberapa bahkan mengalokasikan 20% atau lebih dari portofolio mereka untuk startup. Sementara itu, Venture Capital kini memanfaatkan tren ini dengan mendirikan dana baru yang menargetkan startup di bidang kecerdasan buatan, robotika, luar angkasa, dan otomatisasi.