Peluang El Nino Tembus 90% hingga Akhir 2026, Waspada Cuaca Ekstrem
El Nino diprediksi terjadi Juni-Agustus 2026 dengan peluang 80% dan memicu cuaca ekstrem serta kekeringan di Indonesia.
(Bisnis.Com) 02/06/26 17:42 237875
Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El Nino hampir pasti terjadi pada pertengahan tahun ini dengan probabilitas mencapai 80% pada periode Juni–Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko cuaca ekstrem, gelombang panas, hingga kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia.
Dalam pembaruan El Nino/La Nina terbaru, WMO menyebut peluang berlanjutnya fenomena El Nino hingga setidaknya November 2026 mencapai 90%. Mayoritas model iklim global juga memperkirakan intensitas El Nino kali ini berada pada kategori moderat hingga kuat.
WMO menjelaskan perkembangan El Nino dipicu oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Pemanasan tersebut diperkuat oleh kondisi bawah permukaan laut yang tercatat lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengingatkan dunia untuk bersiap menghadapi dampak El Nino dalam beberapa bulan mendatang.
“Ilmu pengetahuan sudah sangat jelas, El Nino akan tiba dalam beberapa bulan ke depan dengan tingkat kepastian 90%. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak. Kondisi El Nino akan memperparah dampak pemanasan global. Dampaknya akan makin berat, menjangkau wilayah yang lebih luas, dan melintasi batas negara dengan sangat cepat,” ujar Guterres dalam pernyataan video resminya, Selasa (2/6/2026).
Dia menilai respons yang diperlukan dalam menghadapi fenomena El Nino adalah mempercepat aksi iklim, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat transisi energi terbarukan, melindungi kelompok rentan, serta memperluas sistem peringatan dini.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan El Nino berpotensi memperparah kekeringan, hujan ekstrem, serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di daratan maupun lautan.
“Kita perlu bersiap menghadapi potensi El Nino yang kuat, yang dapat memperparah kekeringan dan curah hujan ekstrem serta meningkatkan risiko gelombang panas di daratan maupun lautan,” kata Celeste.
Dia menambahkan bahwa El Nino terakhir pada 2023–2024 merupakan salah satu dari lima yang terkuat dalam catatan sejarah. Fenomena El Nino kala itu turut berkontribusi terhadap rekor suhu global yang terjadi pada 2024.
Menurut WMO, El Nino merupakan fase hangat dari fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang secara alami terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan biasanya berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.
Fenomena tersebut umumnya mulai berkembang antara Maret hingga Juni, kemudian mencapai puncaknya pada periode November hingga Februari. Dampaknya terhadap suhu global biasanya paling terasa pada tahun kedua setelah El Nino terbentuk.
Bagi Indonesia, El Nino umumnya berkaitan dengan penurunan curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan. WMO mencatat kondisi yang lebih kering dari normal berpotensi terjadi di Indonesia, Australia, sebagian Asia Selatan, Amerika Tengah, serta kawasan Karibia.
Sebaliknya, sejumlah wilayah seperti Amerika Selatan bagian selatan, Tanduk Afrika, dan sebagian Asia Tengah berpotensi mengalami peningkatan curah hujan.
Meski demikian, WMO menekankan bahwa dampak setiap peristiwa El Nino dapat berbeda-beda tergantung pada intensitas, durasi, waktu kemunculan, serta interaksinya dengan fenomena iklim lain seperti Indian Ocean Dipole (IOD).
WMO juga menegaskan belum terdapat bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas El Nino. Namun, pemanasan global dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan karena suhu laut dan atmosfer yang lebih tinggi menyediakan energi lebih besar bagi terjadinya cuaca ekstrem.
Untuk itu, WMO meminta pemerintah, lembaga kemanusiaan, serta sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air untuk memperkuat sistem peringatan dini dan langkah mitigasi sejak dini guna mengurangi dampak ekonomi maupun sosial yang ditimbulkan.
#el-nino #cuaca-ekstrem #gelombang-panas #kekeringan-indonesia #suhu-permukaan-laut #pemanasan-global #transisi-energi-terbarukan #risiko-gelombang-panas #curah-hujan-ekstrem #fenomena-el-nino #dampak