Pemimpin Negara ASEAN Soroti Dampak Perang Iran Bagi Ekonomi Kawasan

Pemimpin Negara ASEAN Soroti Dampak Perang Iran Bagi Ekonomi Kawasan

Para pemimpin ASEAN di KTT Cebu bahas dampak perang Iran, fokus pada ketahanan energi dan pangan, serta strategi menghadapi krisis akibat blokade Selat Hormuz.

(Bisnis.Com) 09/05/26 18:15 216602

Bisnis.com, SEMARANG — Para pemimpin Asia Tenggara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah berkumpul dan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Jumat (08/05/2026).

Dikutip dari Gulf Time, dalam pertemuan KTT tersebut, para pemimpin Asia Tenggara membicarakan terkait koordinasi mendesak dalam menghadapi dampak perang Iran. Koordinasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi tekanan dari guncangan energi yang telah mengguncang perekonomian mereka yang bergantung pada impor minyak.

Selain itu, para pemimpin Asia Tenggara ini juga menyerukan adanya strategi untuk menjamin ketahanan energi dan pangan, serta mencegah krisis di masa depan di kawasan yang sangat rentan terhadap blokade Selat Hormuz yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.

Ketua ASEAN sekaligus Presiden FilipinaFerdinand Marcos Jr mengatakan bahwa dampak dari perang Iran telah menciptakan efek domino berupa gangguan dan menyoroti perlunya pandangan ke depan, koordinasi, tindakan konkret, serta kolektif.

“Krisis baru-baru ini merupakan pengingat yang jelas tentang betapa rentannya perekonomian kita terhadap perubahan mendadak dalam tatanan internasional dan, akibatnya, ekonomi global. Gangguan yang terjadi selama beberapa minggu ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki,” tutur Ferdinand, dikutip Sabtu (09/05/2026).

Untuk mengurangi tekanan akibat perang Iran, para anggota ASEAN telah menyetujui kerangka kerja berbagi bahan bakar regional, namun belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana program tersebut akan berfungsi, dengan rincian penting yang masih perlu diselesaikan, termasuk negara mana yang akan diprioritaskan selama krisis.

Menanggapi kerangka kerja itu, Ferdinand menyambut baik hasil tersebut, tetapi mengakui bahwa pengaturan praktis masih perlu diklarifikasi.

“Bagaimana pembagiannya? Siapa yang mendapat apa? Bagaimana cara membayarnya? Apakah Anda membayarnya? Apakah ini pertukaran?...Kami belum pernah melakukannya sebelumnya,” tutur Ferdinand, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (09/05/2026).

Tak hanya upaya untuk berbagi bahan regional, para anggota ASEAN juga telah sepakat untuk mengembangkan jaringan listrik regional dan cadangan bahan bakar, untuk mengurangi ketergantungan mereka pada aktivitas impor energi dari Timur Tengah.

Terkait impor, ASEAN diketahui saat ini mengimpor lebih dari setengah minyak mentah dan 17% gas alamnya dari kawasan tersebut. Pada akhir bulan Maret lalu, Filipina menjadi negara pertama di dunia yang menyatakan keadaan darurat nasional akibat menipisnya cadangan energi.

Akan tetapi, langkah koordinasi ini masih menjadi tantangan terbesar bagi ASEAN. Meski perekonomian masing-masing negara anggotanya berkembang pesat, proses integrasi di kawasan berjalan cukup lambat karena adanya perbedaan yang sangat besar di antara 11 negara anggota. Selain itu, ASEAN juga tidak memiliki otoritas pusat yang dapat memastikan setiap negara bisa mematuhi kesepakatan dan inisiatif bersama.

Mengenai kondisi perang Iran yang masih terus berlangsung, para pemimpin ASEAN diperkirakan akan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta mendesak dibukanya kembali Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, jalur ini biasa dilintasi sekitar 130 kapal setiap harinya dan mengangkut seperlima pasokan minyak serta gas dunia.

#asean #perang-iran #dampak-ekonomi #ketahanan-energi #krisis-pangan #blokade-selat-hormuz #efek-domino #koordinasi-asean #impor-minyak #jaringan-listrik-regional #cadangan-bahan-bakar #krisis-energi #n-a

https://kabar24.bisnis.com/read/20260509/19/1972599/pemimpin-negara-asean-soroti-dampak-perang-iran-bagi-ekonomi-kawasan