Menanti Tuah Kocok Ulang Punggawa Komunikasi Prabowo
Presiden Prabowo merombak tim komunikasi pemerintah untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.
(Bisnis.Com) 30/04/26 15:01 207661
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto telah melakukan reshuffle Kabinet Merah Putih yang keenamnya. Dalam reshuffle-nya kali ini, deretan posisi di bagian komunikasi Presiden dirombak.
Prabowo kemudian melantik deretan posisi baru yang diemban hasil reshuffle pada awal pekan ini, Selasa (27/4/2026). Pelantikan itu mengacu kepada Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 50, 51, 52, dan 53 Tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan Menteri serta Wakil Menteri Negara periode 2024-2029.
Muhammad Qodari dari Kepala Staf Kepresidenan (KSP) berpindah jabatan menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menggantikan Angga Raka Prabowo.
Kemudian, posisi KSP diisi Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman. Dudung yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional rangkap jabatan.
Lalu, masuk Hasan Nasbi yang menjadi Penasehat Khusus Presiden bidang Komunikasi. Hasan Nasbi sebelumnya menjabat sebagai Kepala Presidential Communication Office (PCO).
Sebelum reshuffle kali ini, terdapat sejumlah perombakan dalam urusan komunikasi Istana. Pada 17 September 2025, seiring dengan mundurnya Hasan Nasbi dari Kepala PCO, Prabowo melantik Angga Raka Prabowo sebagai Kepala PCO. Lembaga tersebut kemudian berganti nama menjadi Bakom RI.
Kemudian, dalam reshuffle yang ketiga itu, Prabowo juga melantik Muhammad Qodari sebagai KSP menggantikan Letjen TNI (Purn) Anto Mukti Putranto.
Selain itu, pada 8 Oktober 2025, Prabowo melantik Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan yakni Dirgayuza Setiawan.
Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan dalam reshuffle kali ini, terlihat Prabowo memang berupaya untuk meningkatkan kinerja komunikasi pemerintah. Sebab, menurutnya secara umum komunikasi pemerintah selama ini belum maksimal.
"Banyak sekali isu krusial yang jadi sorotan publik jarang direspon dengan baik. Bahkan ketika Presiden diserang kanan kiri, badan komunikasi pemerintah sering tidak muncul pasang badan membela," katanya kepada Bisnis pada Rabu (29/4/2026).
Dia berharap reshuffle kali ini semakin memperkuat komunikasi pemerintah. Sehingga hal-hal positif dan segala apapun yang sudah diperbuat pemerintah bisa disampaikan dengan baik.
"Termasuk tim komunikasi terbaru ini mulai harus head to head dengan influencer, pegiat media sosial, yang kerap kritis ke program pemerintah," katanya.
Pengamat Politik dari Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan bidang komunikasi memang diperlukan. Akan tetapi, tidak lantas menjadi prioritas. Justru kapasitas elit yang perlu didahulukan. Apabila menteri yang ada di kabinet sudah mapan dalam kerja, maka komunikasi akan mengikuti dengan sendirinya.
"Komunikasi Presiden selama ini buruk, bukan karena Presiden yang tidak bekerja, melainkan tokoh-tokoh di bidang komunikasi yang terlalu banyak dan tidak satupun yang mampu menerjemahkan pesan Presiden," katanya.
Dia menilai alangkah lebih baiknya, Presiden cukup miliki satu juru bicara. Sementara, juru bicara itu dinilai harus sebagai tokoh yang dekat dengan Presiden secara harian.
Strategi Komunikasi Punggawa Baru
Dalam acara serah terima jabatan (sertijab) Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari mengatakan bahwa mengacu Perpres No. 96 Tahun 2025 yang mengatur pembentukan Bakom RI, lembaga tersebut dibuat untuk menjalankan orkestrasi komunikasi pemerintah.
"Ke depan saya berharap Bakom dapat proaktif, dalam komunikasi program pemerintah. Hal ini karena program Presiden banyak dan baru. Paradigma baru harus dijelaskan secara intensif," katanya dalam sambutannya di acara sertijab Kepala Bakom RI pada Selasa (28/4/2026).
Dia bercerita bahwa dalam satu acara, ada pengamat yang mengatakan bahwa Presiden Prabowo terkesan mengajak berperang seiring penunjukan Qodari dan Hasan Nasbi di posisi komunikasi Pemerintah.
Menurut pengamat tersebut berdasarkan cerita Qodari, baik Qodari dan Hasan Nasbi merupakan tipikal penyerang. Qodari pun mengomentari pernyataan pengamat tersebut bahwa dirinya memang berupaya aktif memberikan perimbangan informasi.
Terpisah, seusai pelantikan, Qodari juga mengatakan bahwa jabatan sebagai Kepala Bakom RI berat karena program Presiden Prabowo banyak. Tugasnya kemudian di Bakom RI adalah menjelaskan program-program mulai dari latar belakangnya hingga sebab-sebabnya. Ditambah, terdapat tantangan komunikasi di era media sosial.
"Media sosial pada hari ini juga sebagian berperilaku seperti pers. Tetapi dengan regulasi yang mungkin berbeda dengan teman-teman yang ada di pers. Dan pada titik itu tentu ini suatu tantangan tersendiri dan apa dan bagaimananya tentu nanti kita akan pikirkan ke depan," ujar Qodari.
Adapun, Qodari juga sempat menjawab terkait reshuffle terbaru dari Prabowo yang didominasi perombakan posisi di bidang komunikasi. Menurutnya, perombakan posisi di bidang komunikasi Prabowo dilakukan karena program Prabowo yang sangat banyak, sangat masif, sangat fundamental, bahkan paradigma baru.
"Dan karena itu memang sangat perlu sebuah kegiatan komunikasi yang amat sangat masif. Jadi hemat saya bukan dari caranya, bukan dari orangnya, tetapi dari tugasnya memang yang sangat-sangat besar dan karena itu dari proses-proses yang sudah ada kita akan belajar," tuturnya.
Sementara itu, usai dilantik, Dudung mengatakan bahwa terdapat tugas-tugas KSP ke depan, yakni mensukseskan program strategis nasional serta memastikan program unggulan Presiden Prabowo bisa secara tuntas dan cepat terlaksana.
"Selanjutnya juga, sebagai KSP tentunya nanti saya sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah, sehingga apa yang menjadi keluhan-keluhan ini saya akan buka 24 jam laporan-laporan dari masyarakat," katanya kepada wartawan di Istana Negara pada Senin (27/4/2026).
Dia juga mengatakan yang menjadi tugasnya adalah mengevaluasi dan memonitor program-program kementerian serta lembaga, termasuk bekerjasama dengan kementerian dan pemerintah-pemerintah daerah.
Tujuannya, adalah agar jangan sampai ada hal-hal yang menjadi prioritas Presiden Prabowo kemudian terjadi masalah-masalah birokrasi.
Dudung juga mengatakan akan berupaya memangkas birokrasi yang berbelit.
"Saya mohon bantuan untuk kerjasama dengan seluruh masyarakat dan seluruh kelembagaan apabila ada hal-hal yang program-program KSP yang tidak berjalan dengan semestinya nanti kita akan sidak dan kita tuntaskan," ujarnya.
Adapun, Hasan Nasbi mengatakan bahwa sebagai pembantu Presiden, dirinya akan bekerja sama yang sangat erat dengan Bakom RI serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) guna memperkuat bidang komunikasi.
"Supaya pesan-pesan yang ingin ke publik itu bisa lebih baik lagi, bisa jauh lebih sampai dan bisa dipahami oleh masyarakat. Termasuk juga mungkin nanti dari pemerintah tentu akan dan harus juga meluruskan hal-hal, berita-berita, pemahaman atau informasi yang tidak benar terhadap pemerintah," katanya.
#reshuffle-kabinet #komunikasi-pemerintah #prabowo-subianto #kepala-bakom-ri #muhammad-qodari #dudung-abdurachman #hasan-nasbi #strategi-komunikasi #pelantikan-menteri #kinerja-komunikasi #pengamat-pol