Dilema Porsi Asing yang Menipis di Kepemilikan SBN

Dilema Porsi Asing yang Menipis di Kepemilikan SBN

Kepemilikan asing di SBN menurun dari 14,34% menjadi 12,60% dalam setahun, sementara bank domestik meningkat. Ini akibat kebijakan dana pemerintah di bank.

(Bisnis.Com) 13/04/26 14:52 189669

Bisnis.com, JAKARTA — Kepemilikan investor asing di instrumen surat berharga negara (SBN) terpantau menipis, seiring dengan aksi jual bersih atau net sell yang dilakukan dalam setahun terakhir.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, investor asing terus keluar dari pasar SBN terutama dalam setahun terakhir.

Pada 8 April 2025, kepemilikan SBN oleh non-residen mencapai Rp893,47 triliun atau setara 14,34% dari total SBN yang bisa diperdagangkan. Kini, per 8 April 2026, kepemilikan SBN oleh non-residen sebesar Rp857,60 triliun atau tinggal setara 12,60%—turun 1,74 poin persentase.

Sebaliknya, pada saat yang sama, kepemilikan SBN oleh bank domestik semakin meningkat: dari 18,37% menjadi 23,58% atau naik 5,21 poin persentase.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai perkembangan tersebut tak sepenuhnya terjadi begitu saja, melainkan juga didorong oleh kebijakan penempatan dana pemerintah di perbankan yang kini mencapai sekitar Rp300 triliun.

Alasannya, bank-bank akan mencari instrumen yang paling menguntungkan dengan risiko paling rendah ketika likuiditas mereka melimpah.

"Saat ini SBN memenuhi dua-duanya: imbal hasilnya menarik dan risikonya sangat kecil," jelas Yusuf kepada Bisnis, Minggu (12/4/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang mengungkapkan bahwa penempatan kembali dana Rp100 triliun ke perbankan pada medio Maret lalu untuk mendorong bank-bank membeli SBN, terutama ketika investor asing meninggalkan pasar keuangan Tanah Air. Dengan demikian, imbal hasil (yield) SBN diharapkan bisa tertahan sehingga beban pembiayaan APBN tidak terlalu berat.

Pada akhirnya, semakin ikut sertanya bank domestik di pasar SBN akan membuat pasar keuangan Tanah Air relatif lebih stabil terhadap gejolak global: jika kepemilikan asing semakin berkurang, maka pasar keuangan Indonesia tidak terlalu tergantung pada aliran dana asing yang bisa keluar-masuk dengan cepat.

Di sisi lain, semakin tidak bergantung kepada asing bukan sepenuhnya berita baik. Yusuf menjelaskan bahwa ketika porsi SBN di neraca bank makin besar, muncul risiko baru.

Dia menjelaskan bahwa ketika kondisi likuiditas longgar seperti saat ini, tidak ada masalah apabila bank menghimpun dana jangka pendek tapi menempatkannya di instrumen jangka panjang seperti SBN.

"Tapi kalau suatu saat likuiditas mengetat, bank bisa terpaksa menjual SBN, dan itu justru bisa memicu tekanan di pasar dari dalam negeri sendiri. Jadi terlihat stabil di permukaan, tapi sebenarnya ada potensi kerentanan yang perlu dijaga," lanjut Yusuf.

#investor-asing #kepemilikan-sbn #net-sell #pasar-sbn #bank-domestik #likuiditas-bank #imbal-hasil-sbn #risiko-sbn #pasar-keuangan-indonesia #aliran-dana-asing #stabilitas-pasar #kebijakan-pemerintah #n-a

https://market.bisnis.com/read/20260413/92/1966179/dilema-porsi-asing-yang-menipis-di-kepemilikan-sbn