Bank Indonesia Genjot Insentif KLM, Capai Rp427,1 Triliun hingga Awal Maret 2026

Bank Indonesia Genjot Insentif KLM, Capai Rp427,1 Triliun hingga Awal Maret 2026

Bank Indonesia tingkatkan insentif KLM hingga Rp427,1 triliun pada Maret 2026 untuk dorong kredit sektor prioritas dan turunkan suku bunga, mendukung pertumbuhan ekonomi.

(Bisnis.Com) 17/03/26 15:33 167255

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) terus memperkuat transmisi kebijakan moneter melalui implementasi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa sejak implementasi penguatan KLM, insentif yang diberikan kepada perbankan semakin diarahkan untuk mendorong kredit ke sektor-sektor prioritas serta mempercepat transmisi penurunan suku bunga.

“Insentif KLM diarahkan untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor tertentu serta mendorong bank lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, Selasa (17/3/2026).

Hingga minggu pertama Maret 2026, realisasi insentif KLM tercatat mencapai Rp427,1 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp357,6 triliun disalurkan melalui lending channel, sementara Rp69,5 triliun melalui interest rate channel.

Berdasarkan kelompok bank, insentif KLM paling besar diterima oleh bank BUMN sebesar Rp225,6 triliun, diikuti bank swasta nasional (BUSN) Rp166,8 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp28 triliun, serta kantor cabang bank asing sebesar Rp7,7 triliun.

Secara sektoral, kebijakan ini difokuskan pada pembiayaan sektor prioritas seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate dan perumahan, hingga UMKM, koperasi, inklusi, dan pembiayaan berkelanjutan.

BI juga mencatat transmisi pelonggaran kebijakan moneter terus berlanjut, meski belum sepenuhnya optimal. Penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 telah mendorong turunnya berbagai suku bunga pasar uang. Suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan masing-masing turun menjadi 5,25%, 5,30%, dan 5,33%.

Sementara itu, suku bunga deposito satu bulan turun dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,17% pada Februari 2026. Namun, penurunan suku bunga kredit masih terbatas, yakni dari 9,20% menjadi 8,8% pada periode yang sama.

“Ke depan, penurunan suku bunga dana dan kredit perlu terus diperkuat agar dapat mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi,” kata Perry.

Dari sisi kinerja, pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026 tercatat sebesar 9,37% secara tahunan (yoy), sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 sebesar 9,96% yoy. Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 20,7%, kredit modal kerja 3,88%, serta kredit konsumsi 6,3%.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada di kisaran 8% hingga 12%. Optimisme ini didukung oleh masih besarnya potensi penyaluran kredit, tercermin dari undisbursed loan yang mencapai Rp2.536,4 triliun atau 22,86% dari total plafon kredit.

Dari sisi likuiditas, kondisi perbankan dinilai tetap memadai dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 27,4%, serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 13,18% pada Februari 2026.

Ketahanan perbankan juga tetap kuat, tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi sebesar 25,87% serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga rendah di level 2,14% bruto dan 0,82% neto pada Januari 2026.

#bank-indonesia #insentif-klm #kebijakan-moneter #penyaluran-kredit #sektor-prioritas #pertumbuhan-ekonomi #suku-bunga #lending-channel #interest-rate-channel #bank-bumn #bank-swasta-nasional #bank-pem

https://finansial.bisnis.com/read/20260317/90/1961060/bank-indonesia-genjot-insentif-klm-capai-rp4271-triliun-hingga-awal-maret-2026