Tinggalkan Rp17.000, Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.879 per Dolar AS

Tinggalkan Rp17.000, Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.879 per Dolar AS

Rupiah menguat ke Rp16.879 per dolar AS di tengah pelemahan dolar dan konflik AS-Iran. Namun, diprediksi melemah akibat lonjakan harga minyak dan inflasi China.

(Bisnis.Com) 10/03/26 09:22 160007

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026). Apresiasi mata uang RI di awal sesi perdagangan bersamaan dengan pelemahan greenback.

Melansir Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 0,41% atau 70 poin ke Rp16.879 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,34% ke 98,84.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi hari ini rupiah akan ditutup melemah di level Rp16.950 sampai Rp17.000 per dolar AS.

Menurutnya sentimen yang menyertai gerak rupiah di pasar keuangan adalah perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran yang menyulut kenaikan harga minyak dunia.

"Harga minyak melonjak hingga 30%, jauh melampaui US$100 per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022," kata Ibrahim, dikutip Selasa (10/3/2026).

Dalam perkembangannya, Iran telah menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Ibrahim melihat bahwa kelompok garis keras yang tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, menjadi sinyal konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.

Selain geopolitik, sentimen global lainnya adalah perkembangan data ekonomi di sejumlah negara. Di Asia, Inflasi indeks harga konsumen China tumbuh 1,3% secara tahunan pada bulan Februari 2026. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,9%, dan juga tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun.

"Namun inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan," jelasnya.

Di sisi lain, sentimen domestik yang menyertai rupiah adalah pasar yang menyoroti kondisi fiskal negara di tengah lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak dunia sudah menyentuh angka US$ 92 per barel, rekor tertinggi sejak 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran US$70 per barel.

"Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$ 100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%," ujarnya.

#rupiah-menguat #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #harga-minyak-dunia #konflik-geopolitik #inflasi-china #indeks-harga-konsumen #harga-minyak-melonjak #defisit-apbn #fiskal-nasional #sentimen-global #pasar

https://market.bisnis.com/read/20260310/93/1959187/tinggalkan-rp17000-rupiah-dibuka-menguat-ke-rp16879-per-dolar-as