Terapkan Efisiensi di Jabar, Dedi Mulyadi Berkaca dari Iran

Terapkan Efisiensi di Jabar, Dedi Mulyadi Berkaca dari Iran

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi terinspirasi efisiensi Iran dalam mengelola anggaran untuk kesejahteraan dan kedaulatan, meski di tengah embargo ekonomi.

(Bisnis.Com) 10/03/26 07:37 159896

Bisnis.com, BANDUNG—Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memuji kecakapan Pemerintah Iran yang mampu mengelola APBN untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan negara.

Dedi Mulyadi mengatakan di tengah kebijakan fiskal pemerintah pusat yang ketat ke daerah dengan penundaan Dana Bagi Hasil (DBH), dirinya berupaya tetap memprioritaskan anggaran untuk kepentingan warga mulai dari pembangunan jalan, jaminan sosial hingga biaya pendidikan.

“Mungkin para bupati, para gubernur akan pusing. Saya tidak,” katanya lewat keterangan resmi, Senin (9/3/2026).

Pihaknya mengaku sudah paham bagaimana mengelola keuangan lewat efisiensi dan mengatur ritme kerja pegawai lewat kebijakan work from home [WFH]. Pihaknya juga mengorkestrasi efisiensi lewat pengurangan anggaran-anggaran umum di masing-masing dinas namun tetap melahirkan produktivitas yang tinggi.

“Sehingga kebijakan WFH di Jawa Barat hari ini justru melahirkan produktivitas yang tinggi dan efisiennya belanja rutin pemerintah,” ujarnya.

Menurutnya di situasi keuangan saat ini, pemimpin didorong untuk mencari jalan keluar agar urusan pelayanan publik dan pembangunan tetap dirasakan oleh warga. Sesuai ajaran Islam, pemimpin dituntut untuk mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya.

“Karena kondisi keuangan yang berat. Kita harus berikhtiar. Pencipta, pengabdi yang penting bernapaskan Islam. Bernapaskan Islam itu artinya pemerintah mengutamakan keselamatan warganya dibanding kepentingan apapun,” tuturnya.

KDM—panggilan akrabnya, lantas mengambil contoh pada kemampuan Iran dalam mengelola anggaran ribuan triliun untuk 92 juta warga negara. Iran tetap berdiri kokoh meski dihimpit oleh situasi embargo ekonomi yang berat selama bertahun-tahun.

“Dalam perspektif itu saya melihat kenapa Iran bisa bertahan? Karena, satu pemerintahnya efisien. Ulamanya memperlihatkan sebuah kesederhanaan yang luar biasa. Dia memilih jadi martir dibanding dia meninggal belakangan. Martirnya menjadi sebuah gerakan heroisme publik. Saya baca berapa APBN Iran? Rp1.000 triliun dari 92 juta penduduk,” katanya.

Dengan anggaran sebesar itu, pemerintahan Iran menurutnya melahirkan keberpihakan yang sangat tinggi pada urusan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur warga.

“Dari 10 masyarakat usia sekolah, 9 diantaranya kuliah. Apa yang dipelajari? Sains, matematika, fisika, kimia, kedokteran, engineer. Berobat gratis, sekolah gratis, jalan tidak ada yang bolong. lingkungannya bersih, rakyatnya tidak ada yang kelaparan,” tutur KDM.

Ditilik dari anggaran pertahanannya pun hanya mencapai Rp132 triliun, namun karena terkena embargo maka negara tersebut bisa membuat teknologi drone, hulu ledak dan memperkuat seluruh armada perang mereka. “Mereka bisa berperang dengan gagah mempertahankan keyakinannya karena dia membuat sendiri,” ujarnya.

Menurutnya kemampuan Iran menjaga kedaulatan tidak akan terjadi jika pemerintahannya tidak efisien dalam mengelola anggaran, sulit terjadi jika perguruan tinggi mereka tidak fokus melahirkan lulusan-lulusan hebat dengan penelitian yang kuat. “Akhirnya melahirkan produk-produk unggul bagi bangsanya yang bermanfaat,” katanya.

Dari sana, KDM mengaku jika pemerintahannya mampu membuat APBD Rp37 triliun menjadi surplus hal tersebut bukan prestasi bagi pihaknya.

“[Surplus] Bagi saya bukan kebahagiaan, bagi saya bukan kebanggaan. Saya memimpin Jawa Barat kondisi keuangannya hanya Rp26 triliun. Tapi membebaskan pendidikan SMA gratis. Bisa membangun jalan sampai pelosok. Bisa membangun rumah rakyat miskin. Bisa menyiapkan generasi ke depan untuk dia bisa kuliah di bidang-bidang teknologi. Melahirkan engineer baru. Kemudian pemerintahannya efisien," tuturnya.

KDM menuturkan desentralisasi atau otonomi bukan hanya dipahami dalam pembagian kewenangan, bukan hanya dipahami sebagai bagian pembagian keuangan antara pusat daerah sampai desa, tetapi harus dipahami sebagai sebuah ruang di mana kekuatan daerah itu adalah penting.

“Kenapa? Ketika negara dalam ancaman, kalau semuanya terlalu terpusat, daerah-daerah mengalami kelemahan,” pungkasnya.

#efisiensi-pemerintahan #dedi-mulyadi #kebijakan-fiskal #anggaran-jawa-barat #work-from-home #produktivitas-tinggi #pelayanan-publik #kesejahteraan-masyarakat #apbn-iran #pendidikan-gratis #kesehatan-w

https://bandung.bisnis.com/read/20260310/549/1959143/terapkan-efisiensi-di-jabar-dedi-mulyadi-berkaca-dari-iran